Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Jalan-Jalan ke Timor Leste dan Bertemu Roti Paun

badge-check


					Roti Paun Perbesar

Roti Paun

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Hari itu pagi di Timor Leste terasa tenang. Saya berjalan tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti jalan kecil dekat penginapan. Udara masih sejuk, toko-toko baru mulai buka, dan aroma roti hangat tiba-tiba tercium dari sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Di sanalah pertama kali saya bertemu dengan roti paun.

Bentuknya biasa saja. Tidak menarik perhatian seperti pastry modern. Tapi entah kenapa, roti itu terasa “lokal” sekali—seperti bagian dari hidup sehari-hari warga setempat.

Di warung kecil itu, roti paun ditata rapi di rak kayu. Warga datang silih berganti, membeli satu atau dua potong untuk sarapan. Saya ikut mencoba—sepotong roti paun, sedikit mentega, dan secangkir kopi hitam.

Gigitan pertama terasa padat tapi empuk. Rasanya netral, sederhana, dan justru nyaman. Duduk di bangku kayu sambil melihat aktivitas pagi warga, saya merasa sedang ikut masuk ke ritme hidup Timor Leste yang pelan dan apa adanya.

Roti dengan Jejak Sejarah
Dari obrolan singkat, saya tahu kalau nama “paun” berasal dari kata *pão* dalam bahasa Portugis, yang artinya roti. Pengaruh Portugal memang masih terasa kuat di Timor Leste, dan roti paun adalah salah satu jejaknya yang masih hidup sampai sekarang.

Meski berasal dari pengaruh luar, roti paun sudah beradaptasi. Teksturnya lebih padat, mengenyangkan, dan cocok dengan gaya hidup masyarakat yang aktif dan sederhana.

Selama beberapa hari di Timor Leste, roti paun sering jadi teman perjalanan. Mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan praktis dibawa ke mana-mana. Dimakan dengan sup hangat, ikan bakar, atau bahkan polos saja sudah cukup.

Ada hari ketika saya menyantap roti paun di tepi pantai, sambil menunggu matahari naik. Tidak mewah, tapi rasanya pas.

Banyak roti paun masih dibuat oleh tukang roti lokal dengan cara tradisional. Bagi mereka, roti ini bukan sesuatu yang istimewa—justru karena itulah ia istimewa bagi traveler. Roti paun adalah bagian dari rutinitas, dari keluarga, dan dari keramahan sederhana masyarakat Timor Leste.

Lewat makanan ini, perjalanan terasa lebih dekat, lebih manusiawi.

Traveling tidak selalu soal destinasi terkenal atau foto terbaik. Kadang, pengalaman paling berkesan datang dari hal kecil—seperti sarapan roti paun di pagi hari Timor Leste.

Jika suatu hari kamu berkunjung ke sana, coba bangun lebih pagi, mampir ke warung kecil, dan nikmati roti paun selagi hangat. Dari situ, kamu mungkin akan mengenal Timor Leste dengan cara yang paling jujur.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sydney Sweeney Masuk Favorit Bond Girl 2026

9 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Facebook Berubah Jadi Mirip TikTok, Isinya Video Semua

7 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Tulisan Angelina Jolie Bikin Pusing Netizen

5 Oktober 2026 - 20:03 WIB

“The Lisa Effect”: Strategi Ekonomi Pariwisata Thailand Hasilkan Nilai Publisitas Rp258 Miliar

1 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Jatim Park Group dan Investor Malaysia Bangun Aquarium Underwater Senilai Rp120 Miliar

24 September 2026 - 20:11 WIB

Adegan Berani Nana di “The Scandal” Picu Perdebatan Netizen

22 September 2026 - 19:55 WIB

Solar MAMAMOO Jadi Korban Teror Kursi Terbang di Los Angeles

20 September 2026 - 18:10 WIB

Baifern Pimchanok Siap Menghibur di Film Action-Romance Terbaru ‘My Dearest Assassin’

15 September 2026 - 18:07 WIB

Miss Indonesia Audrey Bianca Raih Prestasi di Panggung Dunia

8 September 2026 - 18:59 WIB

Trending di Life Style