Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Inovasi Peningkatan Pengelolaan Data Spasial ITS Dapat Membantu PDAM Indonesia

badge-check


					Inovasi Peningkatan Pengelolaan Data Spasial ITS Dapat Membantu PDAM Indonesia Perbesar

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tidak pernah berhenti di dalam mengabdikan diri untuk membantu masyarakat dari segi perkembangan teknologi. Seperti halnya terkait dengan efisiensi peningkatan pengelolaan data spasial, ITS meluncurkan inovasi di bidang teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS), yakni Low-Cost GNSS Receiver. Salah satu contoh inovasi tersebut bernama Smart Geo PD ITS yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di seluruh Indonesia.

Ketua Tim Peneliti Prof Mokhamad Nur Cahyadi ST MSc PhD menjelaskan bahwa selama ini PDAM sering menghadapi kesulitan dalam mengelola data spasial terkait lokasi meteran air pelanggan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan perangkat GNSS yang berakurasi rendah dan memiliki harga mahal. “Kesalahan dalam mendata dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat,” jelas dosen yang biasa disapa Nur ini.

Mengatasi hal tersebut, dilansir dari its.ac.id, Low-Cost GNSS Receiver ini hadir sebagai solusi untuk mengatasi masalah ketidakakuratan data spasial. Dengan harga yang terjangkau dan memiliki tingkat kesalahan di bawah satu meter, inovasi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional PDAM. “Efisiensi dapat diraih dengan memanfaatkan geotagging yang terintegrasi teknologi GNSS,” ujarnya.

Lelaki kelahiran 1981 ini menjelaskan bahwa Smart Geo PD ITS digunakan untuk memberikan geotagging (tanda koordinat) pada setiap aset PDAM. Dari data yang diperoleh kemudian diolah dalam sistem manajemen PDAM. Dengan data koordinat ini, petugas PDAM dapat memantau kondisi aset, merencanakan pemeliharaan, dan memastikan kelancaran distribusi air bersih bagi pelanggan.

Lebih lanjut, dosen Departemen Teknik Geomatika ITS ini memaparkan, Smart Geo PD ITS ini memiliki desain minimalis dan ringan sehingga memudahkan pegawai PDAM dalam membawa dan mengoperasikannya. Selain itu, perangkat ini dirancang tanpa kabel dan dilengkapi dengan baterai yang dapat diisi ulang. “Alat ini dapat terhubung dengan ponsel melalui koneksi bluetooth,” paparnya.

Tidak hanya mendata lokasi aset air pelanggan, Smart Geo PD ITS ini juga dapat mendata aset manajemen PDAM yang lain. Aset-aset tersebut meliputi jaringan perpipaan, lokasi rumah pompa, jembatan pipa, chamber, katup (valve), hingga sistem perlindungan katodik. “Dengan teknologi ini PDAM dapat bekerja lebih efisien, akurat, dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan,” ungkapnya.

Namun demikian, seperti pada inovasi yang pertama kali hadir, selalu terdapat kendala pada pengembangannya, yaitu perangkat lunak dan konektivitas jaringan. Hal tersebut dikarenakan program yang digunakan pada inovasi ini bersifat open-source. Oleh sebab itu, tim peneliti ITS ini harus melakukan penyesuaian dan pengembangan sendiri untuk memastikan alat berfungsi dengan baik.

Lelaki kelahiran Kota Blitar ini menyampaikan bahwa inovasi yang dirancang timnya tersebut memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 28 persen. Angka tersebut dicapai berkat penggunaan bahan produksi dalam negeri pada hampir seluruh komponen kecuali pada modul utamanya. “Hal ini membuat harga jual lebih ekonomis tanpa mengurangi tingkat akurasinya,” tuturnya.

Nur juga menjelaskan bahwa dalam proses pengembangan, timnya bekerja sama dengan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya dan NCGeotech, sebuah unit bisnis dari PT ITS Tekno Sains. Saat ini, PDAM Surya Sembada Kota Surabaya telah menggunakan beberapa unit Low-Cost GNSS Receiver dalam operasionalnya. “Ini merupakan langkah awal kami sebelum mendistribusikan alat ini ke seluruh PDAM di Indonesia,” ujarnya.

Perlu diketahui, inovasi ini juga merupakan bagian dari program Higher Education for Technology and Innovation (HETI) yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB) melalui skema Entrepreneurship. Koordinator Riset dan Inovasi HETI-ADB Dr Latifah Nurahmi ST MSc menyampaikan harapannya agar alat ini dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan industri Indonesia.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Peternak Telur Sambut Positif Penguatan HAP Rp 26.500 per Kg

10 Juni 2026 - 15:09 WIB

Anies, AHY, dan Jokowi Kembali Aktif Saat Prabowo Hadapi Tantangan

9 Juni 2026 - 19:23 WIB

Dinilai Lamban Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur, Polresta Sidoarjo Diancam Didemo

9 Juni 2026 - 19:00 WIB

Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim dan BGN Tingkatkan Porsi Telur di MBG

9 Juni 2026 - 18:59 WIB

Telkom Restrukturisasi Bisnis, 12–14 Anak Perusahaan Akan Ditutup

9 Juni 2026 - 18:47 WIB

Cadangan Devisa Susut Rp23 Triliun, BI Intervensi Jaga Rupiah

8 Juni 2026 - 19:05 WIB

Harga BBM Terbaru 8 Juni 2026: Pertamax Turbo Naik, Dexlite Turun Rp3.600, Ini Daftar Lengkapnya

8 Juni 2026 - 18:45 WIB

Kuasa Hukum Dua Rekanan Kirim Surat ke Perumda Delta Tirta Harus Bayar Tagihan Rp 1,4 Miliar Sesuai Perintah Hakim Kasasi MA

6 Juni 2026 - 18:56 WIB

Semua SPBU Wajib Campur BBM dengan Etanol 5% Mulai Semester II Tahun Ini

4 Juni 2026 - 20:30 WIB

Trending di Nasional