Menu

Mode Gelap

News

Hari Suciono Kreator Baju Karnaval dari Bahan Limbah Warga Panglungan Wonosalam, Raup Ratusan Juta Rupiah

badge-check


					Bajui dekoratif khusus karnaval buatan Hari Suciono, terbuat dari bahan-bahan limbah, khususnya plastik dan kain. Pria warga Panglungan, Wonosalam ini, saat Agustus bisa merauh ratusan juta rupiah dengan menjual atau menyewakan baju karnaval. Foto: agung/lingkarwilis.com Perbesar

Bajui dekoratif khusus karnaval buatan Hari Suciono, terbuat dari bahan-bahan limbah, khususnya plastik dan kain. Pria warga Panglungan, Wonosalam ini, saat Agustus bisa merauh ratusan juta rupiah dengan menjual atau menyewakan baju karnaval. Foto: agung/lingkarwilis.com

Penulis: Arief Hendro Soesatyo   |    Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG– Warga Jombang bukan cuma jago bertani, berkebun, atau menggarap sawah. Kejamun wilayah ini juga ditopang oleh kemampuan warganya begererak di sektor seni, budaya, kerajinan dan pengolahan.

Sebagai contoh di desa Plumbon Gambang, Gudo, hampir 1500 warganya adalah perajin manik-manik, di sektor industri pengolah limbah kaca menjadi manik-manik berkelas internasion, sebaliknya di desa Panglungan, kecamatan Wonosalam, Jombang, ada pria bernama Hari Suciono, 35, menggeluti pengolahan limbah khususnya limbah plastik, kain dan sejenisnya, dikreasi menjadi barang berharga dan bernilai tinggi: khususnya baju dekoratif untuk karnaval.

Bulan Agustis menjadi puncak pendapatan tewrtinggi, karena di semua desa, kecamatan dan tingkat kabuoaten menyelenggarakn acara karnaval. Boileh dikata dia, adalah pemasok utama kreasi busana kranval.

Suciono punya skill yang belum banyak dimiliki orang lain, dengan cara berhasil limbah menjadi pakaian karnaval bernilai seni tinggi dan menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.

 

Hari Suciono, perajin busana dekoratif dari bahan limbah, kususunya kostum karnaval. Dia warga Panglungan, Wonosalam, Jombang. Rezekinya meningkat memasuki bulanAgustus, saat negera menyambut dan memeriahkan Hari Kemerdekaan kew-80 RI. Foto: beritabangsa.com/ Faiz

Ia telah menggeluti kerajinan ini sejak 2017, Suciono memanfaatkan bahan seperti spons bekas, biji-bijian, dan bulu sintetis tak terpakai untuk membuat kostum karnaval bertemakan budaya lokal, maskot kerajaan, hingga karakter fantasi.

Kreativitasnya bermula dari keterbatasan modal saat membuat kostum pertama secara iseng dari bahan seadanya—yang kemudian memenangkan lomba karnaval di desanya.

Setiap kostum butuh waktu pengerjaan antara beberapa hari hingga sebulan, tergantung kerumitan desain. Menjelang Agustus, permintaan meningkat karena musim karnaval dan pelanggan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dari hasil usahanya itu, Hari telah mengumpulkan pendapatan hingga ratusan juta rupiah.

Untuk karya seninya kostul karnaval, dia  penyewaan (Rp200 ribu–Rp1 juta per kostum), jikadijual bisa mencapai Rp 1 juta/ kostum , “Semua tergantung dai detail, model, dan tingkat kesulitan membuatnya,” kata dia. Hampir seluruh bahan dasarnya adalah limbah, sesuai prinsip Suciono: tidak ada sampah selama dilihat sebagai peluang.

Kini, selain membantu ekonomi keluarganya, usahanya juga memberi dampak positif bagi lingkungan melalui pemanfaatan limbah, sekaligus melestarikan budaya lokal lewat karya seni unik yang dihasilkan dari potensi desa sendiri. Omzet bulanannya bisa menembus puluhan juta rupiah, terutama di musim karnaval.

Limbah ternyata tak selalu berakhir di tempat sampah. Di tangan Hari Suciono (35), pemuda asal Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang, limbah justru disulap jadi kostum karnaval megah dan bernilai seni tinggi. Tak hanya unik, karya-karya Hari juga sukses mendatangkan cuan hingga puluhan juta rupiah.

Usaha kreatif ini sudah dijalani Hari sejak 2017. Berawal dari iseng karena tak punya cukup modal, ia nekat membuat kostum dari bahan seadanya, seperti spons bekas, biji-bijian, hingga bulu sintetis yang tak terpakai. Siapa sangka, karyanya justru menang di lomba karnaval tingkat desa.

“Dulu cuma coba-coba karena nggak ada biaya beli bahan baru. Eh, malah banyak yang suka dan akhirnya mulai dapat pesanan,” kata Hari dikutip dari  beritabangsa.id.

Baginya, limnag adalah rezeki.  Limbah justru menjadi bahan baku utama untuk menciptakan kostum karnaval yang megah dan bernilai seni tinggi. Pemuda asal Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang ini sukses membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.

Hari, yang kini berusia 35 tahun, mulai merintis usaha pembuatan kostum karnaval sejak tahun 2017. Berawal dari keterbatasan modal, ia mencoba membuat kostum dari bahan seadanya, termasuk spons bekas, biji-bijian, hingga bulu sintetis yang tak terpakai. Siapa sangka, karya pertamanya justru keluar sebagai juara di karnaval desa.

“Dulu cuma iseng karena nggak ada biaya buat beli bahan baru dan memanfaatkan bahan seadanya. Tapi malah banyak yang suka dan mulai datang pesanan,” ujarnya.

Proses kreatif tersebut dilakukan di teras rumahnya yang sederhana. Dibantu sang paman, Hari mengubah busa bekas menjadi struktur kostum, lalu menghiasinya dengan bahan alam maupun limbah nonorganik agar tampil memukau. Tema kostumnya pun beragam, dari budaya lokal seperti Reog dan pakaian adat, budaya khas Kalimantan atau Ibu Kota Negara (IKN) hingga maskot kerajaan dan tokoh fantasi.

Setiap kostum membutuhkan waktu pengerjaan antara beberapa hari hingga sebulan, tergantung kompleksitas desain. Menjelang bulan Agustus, saat musim karnaval tiba, pesanan meningkat tajam. Konsumen datang dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo.

Hari menyediakan dua layanan: penyewaan dan pembelian langsung. Harga sewa berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp1 juta per kostum, sementara harga jual bisa mencapai Rp3 juta, tergantung detail dan bahan yang digunakan.

Yang menarik, hampir seluruh bahan dasar merupakan limbah yang disulap menjadi ornamen bernilai seni tinggi. Prinsip yang dipegang Hari sederhana: “Tidak ada sampah selama kita bisa melihat peluang di dalamnya.”

Dengan permintaan yang terus mengalir, terutama saat momentum Hari Kemerdekaan, Hari mengaku omzet bulanannya bisa menembus puluhan juta rupiah. Bisnis berbasis kreativitas ini tak hanya mengangkat perekonomian keluarga, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.

“Ini hasil dari terus belajar dan pantang menyerah. Setiap tahun pasti ada tren baru, jadi harus terus berinovasi. Yang penting niatnya tulus dan konsisten,” tutupnya.

Lewat tangan-tangan kreatif seperti Hari, limbah bukan hanya diselamatkan dari tempat sampah, tapi diangkat menjadi identitas budaya yang membanggakan. Bukti bahwa dari desa pun, karya besar bisa lahir. **

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baksos Kesehatan di SR Mojoagung, Pemkab Siapkan Snack dan Es Krim Gratis untuk Siswa

29 Agustus 2025 - 19:30 WIB

Aksi Solidaritas Tewasnya Affan Kurniawan, Kapolres Jombang Salat Ghoib Bersama Massa Ojol

29 Agustus 2025 - 18:56 WIB

LPS Catat Tabungan Orang Kaya Tembus Rp5.112 Triliun, Seharusnya Kena Pajak Tinggi

29 Agustus 2025 - 14:26 WIB

Presiden Kecewa atas Tindakan Aparat dalam Insiden Ojol

29 Agustus 2025 - 13:42 WIB

Nekad Hendak Bobol Kotak Amal, Ojol Babak Belur

29 Agustus 2025 - 11:59 WIB

Update dan Kronologi Ojol Meninggal Dilindas Rantis

29 Agustus 2025 - 08:23 WIB

Rantis Melaju Cepat, Affan Menyeberang Tewas Terlindas Saat Asi Demo di Pejompongan

29 Agustus 2025 - 06:22 WIB

Affan Ojol Tewas Dilindas Rantis Saat Demo, Kapolri Listyo Sigit Minta Maaf

29 Agustus 2025 - 05:50 WIB

Lelang Proyek Tanggul Laut Pantura Rp 1.620 Triliun, Membentang dari Banten-Gresik

28 Agustus 2025 - 21:43 WIB

Trending di Headline