Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-VMS Studio bersama Legacy Pictures dan Mandela Pictures siap merilis film horor Maryam: Janji & Jiwa yang Terikat pada 18 September 2025. Film ini diangkat dari kisah nyata viral podcast Lentera Malam tentang Maryam, seorang wanita yang hidup 26 tahun diteror jin yang mengikatnya dengan janji kelam.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis (Petaka Gunung Gede), naskah ditulis Lele Laila (Danur, KKN di Desa Penari). Claresta Taufan berperan sebagai Maryam, didukung Wafda Saifan, Debo Andryos, hingga Ayu Dyah Pasha.
Film ini merupakan pengalaman paling horor untuk Claresta Taufan yang memerankan Maryam. Karena ada pantangan yang ngga boleh dilakukan saat syuting, membuat ia sangat berhati-hati saat proses syuting.
“Ini adalah pengalaman paling horor aku dalam memerankan karakter, aku sempet bertemu dengan Maryam asli dan mendengarkan secara langsung bagaimana dia menghadapi teror dari sosok yang mencintainya,” kata Claresta Taufan saan konfrensi pers pada Selasa, (19/08/2025).

Claresta seorang karateka suka diving
“Aku juga sangat hati-hati saat proses syuting karena ada pantangan yang harus dijalanin. Enggak boleh sebut nama sosok itu sebanyak tiga kali.”
Official poster film Maryam yang beredar terlihat menggambarkan sebuah cinta tak kasat mata antara manusia dan Jin. Film ini akan ditayangkan serentak diseluruh bioskop di Indonesia pada Kamis, (18/09/2025).
Claresta mengakui bahwa perannya dalam film horor Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat merupakan tantangan terberat sepanjang kariernya. Film ini, yang diangkat dari kisah nyata, memaksanya menghayati penderitaan Maryam, seorang perempuan yang mengalami teror gaib selama 26 tahun. Proses tersebut, kata Claresta, menguras fisik sekaligus mentalnya.
“Saya saja hanya menjalani peran Maryam beberapa bulan sudah sangat lelah, apalagi Mbak Maryam yang mengalaminya hampir 30 tahun,” ujarnya saat ditemui di Senayan City (19/8).
Claresta menjelaskan bahwa Maryam bukan sekadar kerasukan, melainkan berada di bawah kendali entitas gaib yang selalu menempel, seakan menjadi “pasangan yang terlalu mengontrol” meski tak kasatmata.
Untuk mendalami peran ini, Claresta langsung berinteraksi dengan Maryam agar bisa menyerap ketakutan nyata yang dialaminya. Menurutnya, film ini bukan sekadar horor pengusir kantuk, melainkan kisah yang lebih mencekam karena menyentuh penderitaan psikologis yang nyata.

Claresta Taufan akui sulit dalami karakter
“Hal paling sederhana seperti bersosialisasi pun jadi sulit, karena ada sosok yang selalu mengendalikan,” tambahnya.
Tantangan syuting tak berhenti pada pendalaman peran. Para pemain juga menghadapi fenomena misterius. Claresta menyebut perubahan suasana yang tiba-tiba, hingga momen sulit membedakan apakah lawan main benar-benar berakting atau mengalami gangguan.
Bersama rekannya, Debo, ia selalu waspada, menjaga pikiran tetap sehat, dan memperbanyak doa.
“Entitas ini masih ada di mana pun Maryam berada, jadi kami harus ekstra hati-hati,” jelas Debo.
Meski melelahkan, Claresta mengaku mendapatkan pelajaran berharga.
“Hidup yang sepenuhnya menjadi milik kita ternyata sebuah privilege. Saya berharap film ini membuat penonton lebih menghargai hidup, sekaligus memahami perjuangan Maryam,” tutupnya.***