Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, LONDON– Munculnya drone laut tak berawak (unmanned seaborne drones) secara signifikan mengubah wajah peperangan laut. Teknologi ini, didorong oleh kecanggihan kecerdasan buatan (AI), navigasi satelit, dan inovasi militer, menjadi kekuatan baru dalam konflik laut modern.
Apa Itu Perang Asimetris?
Perang asimetris merujuk pada strategi di mana pihak yang lebih lemah secara militer menggunakan taktik non-konvensional dan teknologi murah untuk menghadapi kekuatan besar yang lebih mapan. Dalam konteks maritim, ini berarti penggunaan kapal kecil, drone, atau senjata murah untuk menyerang kapal besar bernilai ratusan juta dolar.
Kasus Ukraina: Game Changer
Ukraina menjadi negara pertama yang secara efektif menggunakan drone laut dalam skala besar untuk melawan armada laut konvensional Rusia di Laut Hitam. Kehilangan sebagian besar kapal perangnya pasca aneksasi Krimea, Ukraina justru berinovasi. Melalui unit bernama Group 13, mereka menciptakan dan mengoperasikan drone laut seperti Magura V5 dan Sea Baby, yang memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Magura V5: Panjang 5,5 meter, berat sekitar 900 kg, mampu membawa 200 kg bahan peledak, jangkauan ratusan kilometer, dan tahan beberapa hari di laut. Dilengkapi kamera dan dikendalikan lewat satelit.
Sea Baby: Versi lebih besar, dapat membawa hingga 860 kg bahan peledak, kecepatan maksimal 90 km/jam, dan jangkauan hingga 960 km.
Sejak Oktober 2022, drone-drone ini telah menyerang kapal-kapal Rusia di sekitar Krimea, menghantam dermaga, bahkan merusak kapal perang modern seperti Sergey Kotov. Ukraina dilaporkan telah merusak atau menenggelamkan lebih dari 20 kapal Rusia—sekitar sepertiga dari armada Laut Hitam.
Efektivitas dan Biaya Rendah
Keunggulan utama drone laut ini adalah biayanya. Satu unit Magura V5 diperkirakan hanya sekitar USD 250.000, sangat murah jika dibandingkan dengan kapal perang yang bernilai ratusan juta dolar. Hal ini membuatnya menjadi alat perang yang sangat efisien, terutama dalam konteks perang asimetris.
Belajar dari Iran dan Houthi
Sebelum Ukraina, Iran melalui pasukan AL Garda Revolusi (IRGCN) dan kelompok Houthi di Yaman sudah mulai mengembangkan perahu bunuh diri tanpa awak. Serangan-serangan ini, seperti terhadap kapal perang Saudi pada 2017, menunjukkan awal mula potensi taktik ini. Namun keberhasilan Ukraina jauh lebih masif dan terukur secara militer.
Tanggapan Global: AS dan Sekutu Mulai Meniru
AS, melalui Task Force 59 di Armada Kelima, mulai mengadopsi pendekatan serupa dengan mengembangkan armada drone laut dan bawah laut untuk patroli, pengintaian, dan serangan. Program seperti Replicator diluncurkan Pentagon untuk mempercepat produksi drone laut dan udara murah guna menghadapi kekuatan maritim Tiongkok.
Kesimpulan: Masa Depan Peperangan Laut
Drone laut akan menjadi bagian tetap dari arsenal perang laut masa depan. Meski tidak bisa menggantikan sepenuhnya kapal perang konvensional, drone ini memberikan daya gempur tinggi dengan biaya rendah dan risiko minimal. Dalam beberapa tahun ke depan, kombinasi drone laut, drone udara, dan misil jarak jauh akan membentuk paradigma baru peperangan laut.***