Menu

Mode Gelap

Uncategorized

Cerita Hari Ini: Kisah Sawunggaling Pukul Mundur 5.000 Pasukan Kompeni dan Tiga Kapal Perang

badge-check


					Makam Sawunggaling Perbesar

Makam Sawunggaling

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Nama Sawunggaling tak asing di Jawa Timur, terlebih di Surabaya. Ia disebut-sebut sebagai Adipati Surabaya yang paling dibenci penjajah Belanda.

Nama asli dari Sawunggaling yakni Joko Berek. Menurut cerita, Joko Berek merupakan putra dari Adipati Jayengrono (Jangrono) III dengan Raden Ayu Dewi Sangkrah.

Kisah dimulai saat Adipati Surabaya ketiga itu sedang berburu di hutan wilayah Surabaya Barat. Saat itu Jayengrono III bertemu dengan Dewi Sangkrah untuk kali pertama.

Saat berburu itu, Adipati Jayengrono III bertemu Dewi Sangkrah di Desa Lidah Donowati. Yang sekarang menjadi Lidah Wetan dan Kulon.

Jayengrono III terpesona dengan kecantikan Dewi Sangkrah. Mereka lalu menikah. Namun sebagai Adipati Surabaya, Jayengrono III harus kembali ke kedaton.

Sebelum pergi, Adipati Jayangrono meminta Dewi Sangkrah untuk tetap tinggal di Donowati. Ia juga bertitip pesan agar anaknya diberi nama Joko Berek. Jayangrono III juga memberikan selendang cindei puspita, sebagai tanda untuk mencarinya di Kedaton Surabaya.

Singkat cerita, Joko Berek dewasa mencari sang ayah di Kedaton Surabaya. Ditemani Bagong (ayam aduan yang kemudian bernama sawunggaling), ayam jantan miliknya, ia sampai di pintu gerbang Kedaton Surabaya.

Sampai di sana, Joko Berek bertemu dengan dua kakak tirinya, Sawungrana dan Sawungsari. Keduanya tidak percaya jika Joko Berek adalah anak Jayengrono III. Mereka bertiga kemudian melakukan adu ayam dan Joko Berek lah yang jadi pemenangnya.

Setelah itu, Joko Berek bertemu dengan sang ayah, Jayengrono III. Mengetahui anaknya sudah tumbuh besar, sang adipati sangat senang. Sebenarnya, Jayengrono ingin memberikan mahkotanya dan mengangkat Sawunggaling sebagai Jayengrono IV.

Setelah sayembara tersebut diumumkan, banyak warga dari berbagai desa mengikuti sayembara tersebut, tetapi gagal. Bahkan saudara tiri Joko Berek yakni Sawungrana dan Sawungsari juga mengikuti sayembara hingga mencoba memanah tiga kali. Mereka pun gagal.

Sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Joko Berek. Sebelum memanah umbul-umbul itu, Joko Berek sempat berdoa dan meminta restu dari ibunya.

Saat meman, Joko Berek berdoa Biyung Dewi Sangkrah, anakmu yung ijinono koyok banyu mili (Ibu Dewi Sangkrah, aku anakmu mau ikut sayembara, beri izin saya seperti air yang mengalir, demikian doa Sawunggaling.

Meski telah memenangkan sayembara itu, perjalanan Joko Berek tidak mudah. Ia harus melawan kelicikan penjajah Belanda yang menghasut dua saudara tirinya untuk menggulingkan jabatan.

Saat itu Belanda ingin menyingkirkan Adipati Jayengrono III dan menguasai Surabaya. Sebab, saat itu Adipati Jayengrono tak mau bekerja sama dengan Belanda. Begitu pula dengan Joko Berek, ia ingin meneruskan kepemimpinan ayahnya untuk menjadi adipati yang adil dan tegas.

Karena tak ingin Sawunggaling meneruskan jabatan sebagai Adipati Jayengrono IV, Belanda dan dua saudara tiri Joko Berek bekerja sama. Mereka berusaha meracun Joko Berek dan Jayengrono III saat pesta perayaan dinobatkannya Raden Sawunggaling sebagai Adipati Surabaya.

Beruntung aksi tersebut diketahui oleh Paman Sawunggaling yaitu Adipati Cakraningrat dari Madura. Ketika minuman yang ada racunnya itu disodorkan ke Sawunggaling, Adipati Cakraningrat pura-pura menabrak Sawungrana yang mengakibatkan terjatuhnya gelas berisi minuman yang telah diberi racun.

Dengan nada licik, Sawungrana menghasut Joko Berek. Sawungrana menyebut apa yang dilakukan Adipati Cakraningrat telah menghina Joko Berek, dengan menjatuhkan minuman tersebut. Mendapat hasutan itu, Joko Berek marah dan mengajak Adipati Cakraningrat keluar dari kadipaten.

Setelah dijelaskan jika minuman itu telah diberi racun oleh dua saudara tirinya dan Kompeni Belanda, Joko Berek menyesal dan meminta maaf kepada pamannya. Sejak itu, Sawunggaling sangat benci dengan Belanda dan selalu memusuhi Belanda.

Setelah Sawunggaling beberapa kali melawan dan menentang perintah Belanda, Kompeni mengirim 5.000 pasukan. Yang terdiri dari prajurit Eropa dan pribumi.

Serangan dilakukan melalui perang darat dan laut. Sementara di Kadipaten Surabaya, Adipati Sawunggaling berusaha menyatukan kekuatan Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan).

Pertempuran dahsyat tidak terelakkan. Pasukan Sawunggaling berhasil memukul mundur Kompeni Belanda di Lamongan. Saat itu Kompeni yang terbiasa melakukan perang terbuka, tidak bisa menghadapi serangan gerilya para pengikut Sawunggaling.

Atas kekalahan tersebut, Kapitan Pieter Speelman marah. Pieter langsung memimpin peperangan dengan menggunakan tiga kapal perang untuk menggempur Surabaya dari arah laut. Ia memerintahkan pasukan untuk meratakan Surabaya tanpa ada tawanan perang.

Semua harus dibunuh termasuk Sawunggaling. Dari perlawanan terus menerus itu lah, kemudian Joko Berek diberi gelar Raden Sawunggaling IV. Jadi Sawunggaling itu sebuah gelar. Sebelum Joko Berek, ada Sawunggaling pertama, kedua hingga ketiga.

Saat itu karena Surabaya sempat dikuasai Belanda, Kompeni melarang bagi siapa saja menulis tentang Sawunggaling. Karena Belanda tak ingin kekalahan telak waktu itu diketahui oleh pimpinannya kala itu.***

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cerita Hari Ini: Kisah Raden Panji Dikelabui Kuntilanak Ganas Kalakunti di Hutan Keramat

26 Agustus 2025 - 11:37 WIB

Cerita Hari Ini: Sunan Bungkul, Petinggi Majapahit Penyebar Agama Islam Berumur 300 Tahun

25 Agustus 2025 - 11:43 WIB

Cerita Hari Ini: Wassingrana, Pengikut Trunajaya Penguasa Selat Madura Bikin Pening Kompeni

21 Agustus 2025 - 10:16 WIB

Cerita Hari Ini: Gara-gara Belanda Madura Dijuluki Pulau Garam

20 Agustus 2025 - 07:14 WIB

Cerita Hari Ini: Bendera Merah Putih Pertama Dikibarkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri

16 Agustus 2025 - 11:54 WIB

Kisah Cewek Bule Jane Bertemu “Dukun Cinta” dan Mengakui Kesaktiannya

15 Agustus 2025 - 14:15 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Pangeran Gatotkaca, Perebutan Keris Se Jimat dan Bersatunya Pamekasan-Sumenep

14 Agustus 2025 - 12:30 WIB

Cerita Hari Ini: Sultan Abdurrahman Raja Sumenep Dapat Gelar Doktor dari Raffles

13 Agustus 2025 - 09:30 WIB

Cerita Hari Ini: Bindere Saod Raja Sumenep Nyaris Tewas Ditebas Kepalanya oleh Patih Purwonegoro

11 Agustus 2025 - 11:17 WIB

Trending di Uncategorized