Menu

Mode Gelap

Uncategorized

Cerita Hari Ini: Bendera Merah Putih Pertama Dikibarkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri

badge-check


					Ilustrasi bendera merah putih Perbesar

Ilustrasi bendera merah putih

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Orang Jawa mengenal bendera dengan istilah “panji-panji,” sementara orang Cirebon dan Indramayu menyebutnya “klebet.” Berkaitan dengan panji-panji atau bendera ini era kerajaan Nusantara sudah memakai lambang ini sejak sebelum era Majapahit.

Banyak yang beranggapan bahwa merah putih adalah bendera Majapahit, dan pendapat ini memang memiliki dasar dan bukti. Namun, masih banyak yang belum tahu bahwa yang mempopulerkan bendera merah putih pada abad ke-13 adalah musuh Majapahit, yaitu Jayakatwang dari Kerajaan Kediri.

Jayakatwang, seorang raja Kediri, asal Gelang-gelang (Madiun) mengibarkan bendera merah putih (gula klapa) ketika menaklukkan Singasari. Ia tetap konsisten mengibarkan bendera merah putih ketika melawan pasukan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang hendak meruntuhkan kerajaannya.

Bukti otentik bahwa Jayakatwang menggunakan bendera merah putih sebagai bendera kerajaannya terekam dalam sebuah prasasti yang awalnya dikenal dengan nama Prasasti/Piagam Butak karena ditemukan di Gunung Butak. Belakangan, istilah Prasasti/Piagam Butak diubah setelah diketahui isinya yang mengabarkan tentang berkibarnya bendera merah putih di barisan tentara Kediri di bawah pemerintahan Jayakatwang.

Bendera merah putih dikibarkan pada tahun 1292 M oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari (1222-1292 M). Jayakatwang melancarkan pemberontakan dengan mengirim tentaranya mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dan gamelan ke arah selatan Gunung Kawi, padahal pasukan terbaik Singasari dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Perlawanan ini mendapat perlawanan dari tentara Singosari yang dipimpin oleh Raden Wijaya dan Ardaraja, anak Jayakatwang sekaligus menantu Prabu Kertanegara.

Dalam sejarah, tentara merah putih yang ditugaskan Jayakatwang untuk memberontak kepada Singasari berhasil menumbangkan kerajaan tersebut. Jayakatwang kemudian menjadikan Kediri sebagai kerajaan berdaulat kembali. Perlu dipahami bahwa dahulu Singasari/Tumapel adalah bawahan Kediri, namun di masa Ken Arok memerintah Tumapel, Kediri dapat ditaklukkan oleh Singasari/Tumapel. Dalam hal ini, Jayakatwang menuntut balas atas kekalahan nenek moyangnya.

Namun, nasib baik tidak berpihak lama pada Jayakatwang. Kurang lebih setahun setelah menaklukkan Singasari, ia diberontak oleh Raden Wijaya yang bersekutu dengan Kerajaan Mongol, kerajaan terkuat di muka bumi pada masa itu.

Jayakatwang tidak gentar sedikitpun menghadapi Raden Wijaya dan sekutu Mongolnya. Ia tetap mengibarkan bendera merah putih tinggi-tinggi untuk melawan Mongol dan Raden Wijaya, meskipun akhirnya Jayakatwang dan kerajaannya yang baru bangkit dari keterpurukan ambruk dikalahkan musuh-musuhnya.

Kegagahan bendera merah putih yang dikibarkan Jayakatwang untuk mengiringi pasukan tempurnya terekam jelas dalam Prasasti/Piagam Merah Putih, khususnya pada bagian piagam 4a dan 4b. Berikut adalah alih aksaranya:

“an mangkana lumaku ta muwah sanjata cri maharaja dateng i rabut carat, tan asowe i ikang kala, mao tekang catru sakakulwan, irika ta cri maharajanaprang sahawadwanira kabeh, alaralayu mewah catru cri maharaja, akweh lwangnya teher atingal, yayanpangdawuta kabeh semui lawan cri maharaja, ring samangkana, hana ta tunggulning catru layulayu katon wetani haniru, bang lawan putih warnnanya, sakatonikang tunggul ika, irika ta yanpangdawut senjata sang Arddharaja, lumakwakenan sayaprawrti, alayu niskarananujwi kapululungan purwwakani sanjata Cri Maharaja rusak cri maharaja pwatyantadrdabhakti i Cri Krtanegara.

Terjemahan: “Demikianlah keadaannya ketika tentara Sri Maharaja (Raden Wijaya) bergerak terus sampai ke Rabut Carat. Tak lama setelah itu, datanglah musuh dari arah barat. Ketika itu juga Sri Maharaja bertempur dengan segala balatentaranya dan musuh pun lari tunggang-langgang setelah mengalami kekalahan besar. Tetapi dalam keadaan demikian, di sebelah timur Hanyiru tampak panji-panji musuh berkibar, warnanya merah-putih. Melihat itu, Ardaraja, putra Jayakatwang, meninggalkan pertempuran, berlaku hina dan lari menuju Kapundungan dengan tidak karuan.” (Yamin, 157).

Meskipun tentara Jayakatwang dengan bendera merah putihnya dikalahkan oleh pasukan persekutuan Raden Wijaya dan Mongol, bendera merah putih menjadi simbol kegagahan yang menginspirasi. Raden Wijaya kagum terhadap daya juang orang-orang Kediri dalam mempertahankan martabatnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika setelah Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit, bendera merah putih dijadikan sebagai salah satu panji-panji Majapahit.

Mpu Prapanca dalam Negara Kertagama mencerirakan tentang digunakannya warna Merah Putih pada upacara hari kebesaran raja. Ketika pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Prapanca mengatakan, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran tersebut bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah meja yang berwarna merah.

Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 sampai abad ke-16, bendera merah putih dijadikan sebagai lambang kebesaran. Mpu Prapanca, dalam kitab Negarakertagama menuliskan bahwa simbol warna merah dan putih selalu terlihat di setiap upacara kebesaran Prabu Hayam Wuruk sejak tahun 1350 M sampai tahun 1389 M.

Selain di Tanah Jawa, bendera merah putih juga pernah dipakai di Tanah Batak oleh Sisingamangaraja IX. Dia menggunakan warna merah putih sebagai bendera perang yang ditengahnya terdapat gambar pedang kembar berwarna putih dengan warna merah menyala dan putih sebagai dasarnya.

Saat terjadi peperangan di Aceh, para pejuang Aceh menggunakan bendera merah putih sebagai bendera perang. Di bagian belakang bendera tersebut, terdapat gambar matahari, bintang, bulan sabit dan ayat suci Al-Qur’an.

Sedangkan di Sulawesi Selatan, bendera merah putih dipakai oleh kerajaan Bugis Bone untuk menjadi simbol kekuasaan serta kebesaran kerajaan. Bendera ini dikenal dengan nama Woromporang.

Ketika perang Jawa pecah pada tahun 1825-1830 Masehi, pasukan Pangeran Diponegoro memakai bendera berwarna merah putih dalam perjuangan melawan Belanda.

Warna merah dan putih yang digunakan pada zaman dulu diciptakan melalui teknik pewarnaan tradisional. Warna putih tercipta dari kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi kain sedangkan warna merah tercipta dari daun pohon jati, kulit buah manggis atau bunga belimbing wuluh.

Memasuki abad ke-20, warna merah putih kembali dihidupkan kembali oleh para mahasiswa untuk mengekspresikan rasa nasionalisme. Lalu pada tahun 1928, bendera merah putih digunakan lagi untuk pertama kalinya di Jawa, meskipun saat itu pemerintahan kolonialisme melarang penggunaan bendera.

Pada masa penjajahan Jepang, tepatnya tanggal 7 September 1944, Indonesia diperbolehkan untuk merdeka. Merespon hal tersebut, Chuuoo Sangi In, Badan atau Dewan Pertimbangan Pusat saat itu menggelar sidang tidak resmi pada tanggal 12 September 1944 yang dipimpin langsung oleh Ir. Soekarno.

Sidang tersebut membahas tentang pemakaian bendera Indonesia dan lagu kebangsaan. Dari hasil sidang, panitia membentuk lagu Indonesia Raya dan bendera kebangsaan merah putih.

Ki Hajar Dewantara kemudian membentuk panitia dengan tujuan untuk meneliti tentang bendera serta lagu kebangsaan Indonesia. Akhirnya, ditetapkan bahwa bendera merah putih sama dengan bendera Nippon (Jepang) saat itu, yaitu panjang 3 meter dengan lebar 2 meter.

Ir. Soekarno, seperti yang ditulis oleh Iskandar Syah dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia, kemudian memerintahkan Chaerul Basri untuk mengambil kain dari gudang. Bendera merah putih pun dijahit oleh Istri Ir. Soekarno yang bernama Ibu Fatmawati.

Tepat pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, bendera merah putih akhirnya dikibarkan oleh Suhud dan Latief Hendraningrat di Jalan Pegangsaan Timur No. 5, Jakarta.***

 

 

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cerita Hari Ini: Kisah Raden Panji Dikelabui Kuntilanak Ganas Kalakunti di Hutan Keramat

26 Agustus 2025 - 11:37 WIB

Cerita Hari Ini: Sunan Bungkul, Petinggi Majapahit Penyebar Agama Islam Berumur 300 Tahun

25 Agustus 2025 - 11:43 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Sawunggaling Pukul Mundur 5.000 Pasukan Kompeni dan Tiga Kapal Perang

22 Agustus 2025 - 13:53 WIB

Cerita Hari Ini: Wassingrana, Pengikut Trunajaya Penguasa Selat Madura Bikin Pening Kompeni

21 Agustus 2025 - 10:16 WIB

Cerita Hari Ini: Gara-gara Belanda Madura Dijuluki Pulau Garam

20 Agustus 2025 - 07:14 WIB

Kisah Cewek Bule Jane Bertemu “Dukun Cinta” dan Mengakui Kesaktiannya

15 Agustus 2025 - 14:15 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Pangeran Gatotkaca, Perebutan Keris Se Jimat dan Bersatunya Pamekasan-Sumenep

14 Agustus 2025 - 12:30 WIB

Cerita Hari Ini: Sultan Abdurrahman Raja Sumenep Dapat Gelar Doktor dari Raffles

13 Agustus 2025 - 09:30 WIB

Cerita Hari Ini: Bindere Saod Raja Sumenep Nyaris Tewas Ditebas Kepalanya oleh Patih Purwonegoro

11 Agustus 2025 - 11:17 WIB

Trending di Uncategorized