Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA– Prof. Rhenald Kasali, Ph.D menanggapi perbincangan antara Presiden Prabowo Subianto, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, dan Kepala BNPB Letjen Suharyanto terkait anggaran pembangunan sumur bor.
Dalam diskusi tersebut, Presiden menyebut biaya satu titik sumur bor beserta instalasi dan tangki air berada di kisaran Rp100 juta hingga Rp150 juta.
Rhenald menilai angka itu terlalu tinggi dan menyarankan agar pemerintah melakukan pengecekan harga melalui sumber yang lebih dekat dengan kondisi lapangan.
“Mungkin kita perlu juga memberitahu bahwa daripada tanya pada para jenderal, lebih baik tanya pada chat GPT aja barangkali gitu ya.”
Ia menjelaskan, data yang akurat justru sering dimiliki oleh pihak yang terjun langsung di lapangan atau memanfaatkan kecerdasan buatan, bukan semata laporan dari pejabat yang jauh dari aspek teknis.
“Chat GPT sekarang jauh lebih cerdas daripada orang-orang yang sekarang tidak begitu dekat dengan bawahannya.”
Menurutnya, prajurit biasa lebih memahami biaya riil karena mereka kerap berhubungan langsung dengan tukang dan proses pengerjaan teknis, berbeda dengan para jenderal.
“Karena kalau kita tanya berapa ongkos ngebor sumur, yang tahu itu adalah para prajurit. Yang rumahnya sederhana, yang pindah-pindah, yang hidupnya susah.”
Rhenald juga menjelaskan bahwa proyek kecil seperti sumur bor umumnya tidak ditangani kontraktor besar BUMN, melainkan dikerjakan oleh tenaga lokal dengan sistem subkontrak sehingga biayanya jauh lebih rendah.
“Pasti juga panggil orang kampung suruh ngebor, subkontrak lagi. Paling mahal 15 juta.”
Bahkan dengan perhitungan lebih lengkap, termasuk pompa dan peralatan pendukung, ia memperkirakan biayanya tetap jauh di bawah angka yang disampaikan Presiden.
“Katakanlah lebih mahal lagi sudah dengan pompanya, dengan segala macam, habis 30 juta. Sehingga 150 juta itu akan kita ketahui mahal atau murah.”
Di sisi lain, Rhenald mengapresiasi perkembangan pembangunan infrastruktur di wilayah Sumatera serta sikap pemerintah yang mulai membuka diri terhadap kritik publik.
“Bahwa sekarang di Aceh, di Sumatera, sebagian tempat jembatan sudah mulai terhubung. Wah, itu menyenangkan. Lalu kemudian juga kritik-kritik anak muda yang marah sekali di belakangan ini juga sudah mulai didengarkan.”
Ia berharap perbaikan infrastruktur dapat diselesaikan sebelum Hari Raya Idul Fitri agar distribusi logistik berjalan lancar dan ekonomi masyarakat tetap terjaga.
“Harapan saya sih menjelang lebaran itu semua sudah beres. Supaya saudara-saudara kita bisa merayakan Idul Fitri dengan nyaman, tenang, dan harga-harga tidak melambung naik karena (logistik) terputus.”****








