Penulis: Mulawarman | Edityor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, MALUKU – Proyek Gas Blok Masela dengan senila investasii Rp352 triliun baru saja mendapat persetujuan AMDAL resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 20 Februari 2026, memungkinkan pembangunan kilang LNG darat segera dimulai.
Dokumen AMDAL diserahkan kepada Kenji Hasegawa Presiden Direktur Inpex Masela Ltd. oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, disaksikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto. Persetujuan ini menandai tonggak penting setelah proses panjang, dengan target groundbreaking pada Semester I 2026.
Proyek Blok Gas Masela memiliki nilai prakiraan keekonomian masa depan mencapai US$150 miliar (Rp2.543 triliun) kontribusi terhadap PDB Indonesia selama masa operasi hingga 2055. Penerimaan negara (bagi hasil, pajak): US$153 juta (Rp2.135,8 triliun) .
Efek pengganda (lapangan kerja, industri hilir): Penghasilan rumah tangga US$33 miliar, petrokimia US$2 miliar. Angka ini dari studi kesepakatan PoD-I 2019 dan update 2025, dengan produksi 9.5 juta ton LNG/tahun mulai 2029.
Cadangan
Cadangan gas Blok Masela yang terbaru dilaporkan bervariasi antar sumber terkini, dengan angka utama 6.97 TCF (triliun kaki kubik) untuk potensi Lapangan Abadi sebagai cadangan terbesar di Indonesia, sementara perkiraan total lapangan mencapai 18.54 TCF.
Estimasi Utama
Lapangan Abadi: 6,97 TCF gas, harga produk 9,5 untuk LNG plus pajak.
Total Blok Masela: 18,54 TCF (gross), termasuk potensi produk gas kumulatif 16,38 TCF.
Konteks Terbaru
Data dimulai pada Februari 2026 pasca-izin AMDAL, konsistensi dengan penemuan sejak 2000 dan PoD-I 2019, tanpa pembaruan signifikan baru.
Penerimaan Negara
Potensi pendapatan bagi hasil migas mencapai US$153 miliar (Rp2.135,8 triliun) secara nasional, dengan pendapatan kolektif US$137 miliar.
Dampak Regional di Lapangan Kerja
Provinsi Maluku: US$95 juta penerimaan, 21.000 lapangan kerja/tahun.
Kabupaten Tanimbar: US$90 juta penerimaan, 8.000 lapangan kerja/tahun.
Nasional: 70.000-73.000 lapangan kerja/tahun, pendapatan rumah tangga US$33 miliar.
Proyek Blok Masela diproyeksikan memberikan nilai ekonomi signifikan ke depan melalui pendapatan negara, kontribusi PDB, dan efek pengganda hingga 20.
Kontak Karya
Skema kontrak bagi hasil (PSC) Blok Masela menggunakan model cost recovery , di mana Pemerintah Indonesia mendapat bagian 50-59% dari produksi setelah pemulihan biaya kontraktor (Inpex 65%, Shell 35%).
Rincian Terpisah
Minimal 50% dari total biaya, tetapi 59% dari belanja modal saat ini (US$18-21 juta). Kontrak diperpanjang hingga 2055 (27 tahun tambahan dari 2028).
Data Umum
Blok Masela merupakan proyek pengembangan Kilang Gas Alam Cair (LNG) darat (onshore) yang berlokasi di Pulau Nustual, Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek ini termasuk salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Secara geografis, wilayah kerja Blok Masela memiliki luas sekitar 4.291,35 kilometer persegi yang berada di Laut Arafura, sekitar 800 kilometer sebelah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan sekitar 400 kilometer di utara Darwin, Australia, dengan kedalaman laut berkisar 300 hingga 1.000 meter.
Melalui proyek tersebut, Blok Masela diproyeksikan mampu memproduksi gas sebesar 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain itu, proyek ini juga ditargetkan menghasilkan 150 juta standar kaki kubik per hari gas pipa serta sekitar 35 ribu barel kondensat per hari. **







