Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SURABAYA-CIA atau Central Intelligence Agency merupakan Badan Intelijen luar negeri Amerika Serikat yang melakukan operasi rahasia di negara asing. Kelakuan CIA kita sudah kita ketahui yakni melakukan pekerjaan kotor termasuk menggulingkan pemerintahan suatu negara.
Dan salah satu andalan mereka (termasuk Rusia) adalah mempekerjakan wanita-wanita cantik, bukan pria seperti James Bond.
Pada tahun 1965, saat Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir, tiba-tiba ia didatangi oleh seorang gadis cantik asal Amerika Serikat.
Gadis cantik tersebut bernama Pat Price. Ia mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke Indonesia untuk melakukan penelitian akademik.
Pat Price juga mengatakan bahwa ia akan menulis sebuah buku dan membutuhkan bantuan Soekarno.
Soekarno yang suka wanita cantik tentu senang dengan kehadiran Pat Price yang akan menulis tentang negara Indonesia yang dipimpinnya.
Setelah Pat Price sampai di Jakarta, ia disambut baik oleh Soekarno, bahkan Soekarno juga memberikannya seorang asisten perempuan untuk menemaninya pergi kemanapun.
Pat Price juga sangat senang dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan serta niat baik Soekarno tersebut.
Pat Price mulai sering keluar masuk Istana Negara dan akrab dengan anak-anak Soekarno. Ia juga ikut belajar menari.
Identitas Pat Price mulai terkuak ketika Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Pakistan.
Presiden Pakistan waktu itu, Ayub Khan tiba-tiba bertanya tentang keberadaan gadis cantik asal Amerika Serikat di Istana Negara.
Soekarno menjawab bahwa memang benar ada gadis cantik asal Amerika Serikat, yang berkawan dengan anak-anaknya.
Presiden Ayub Khan bertanya kembali apakah Soekarno sudah tahu betul siapa gadis cantik itu sebenarnya.
Soekarno menjawab bahwa memang benar ada gadis cantik asal Amerika Serikat, yang berkawan dengan anak-anaknya.
Presiden Ayub Khan bertanya kembali apakah Soekarno sudah tahu betul siapa gadis cantik itu sebenarnya.
Presiden Ayub Khan lalu berkata bahwa gadis cantik itu adalah agen CIA, sesuai informasi dari intelnya.
Soekarno sangat terkejut mendengar informasi itu. Lalu ia berterima kasih kepada Ayub Khan atas rasa peduli dan kebaikannya.
Sesampainya di Jakarta, Soekano mengumpulkan para intel untuk mendiskusikan langkah selanjutnya terkait informasi tersebut.
Badan Pusat Intelijen lalu mengerahkan pasukan untuk mencari tahu tentang Pat Price. Setelah ditelusuri lebih lanjut, gadis itu adalah benar agen CIA.
Bahkan Pat Price sering bertemu dengan agen CIA lainnya pada tengah malam. Ia juga kerap menemui anggota Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.
Setelah mengetahui kebenaran informasi tersebut, akhirnya Soekarno mengusir Pat Price dari Indonesia yang merupakan agen CIA. Misinya di Indonesia membunuh Soekarno.

Pat Price dilukiskan Megawati mirip Suzanne Phlesette
Intel Kebobolan
Dalam kasus agen cantik CIA di Indonesia era pemerintahan Bung Karno, Badan Pusat Intelijen (BPI) yang dipimpin oleh Subandrio pernah kebobolan dengan masuknya agen CIA ke Indonesia. Juga badan intel Cakrabirawa menilai Pat Price ‘bersih’. Yang sangat disayangkan ialah bobolnya benteng terakhir komunitas intelijen kita, yaitu tim khusus dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP), yang juga menilai yang bersangkutan sosok yang bersih.
Begitulah karena seluruh aparat komunitas intelijen kita bobol, agen CIA Pat Price dapat bergaul erat dengan keluarga Bung Karno, termasuk dengan Bung Karno pribadi. Apalagi untuk lebih menutupi misi sebenarnya yang bersangkutan juga selalu mengenakan kebaya Jawa seperti Putri Solo dan ikut belajar menari bersama Megawati dan adik-adiknya.
Ternyata di balik keelokan wajah dan tubuhnya, ia mengemban misi yang amat kejam dan baru diketahui oleh Bung Karno setelah menerima telepon langsung dari Presiden Pakistan Ayub Khan. Ayub membeberkan secara mendetail siapa sebenarnya Pat Price, termasuk tugas sebenarnya yang tidak lain tidak bukan ialah menghabisi nyawa Bung Karno dengan racun sianida.
Dalam buku Bung Karno, Bapaku, Kawanku, dan Guruku (PGS Publisher, Jakarta, 1977) Guntur menulis berdasarkan surat Lord Bertrand Rusel, ahli filsafat dan pejuang perdamaian Inggris, yang dikirimkan ke Presiden Soekarno dan sempat ditunjukkan Bung Karno kepada Megawati Soekarnoputri. Dalam surat tersebut, ada delapan kepala negara nonblok yang dikategorikan progresif dan masuk daftar black list-nya CIA atau bakal dibunuh.
Kasus agen cantik CIA Pat Price yang menyamar menjadi mahasiswi cantik Amerika Serikat, dalam buku tersebut memang belum disebutkan namanya. Penulis waktu itu masih lupa menyebutkannya karena masih sibuk kuliah di ITB Bandung dan aktif dalam sejumlah kegiatan organisasi kepemudaan dan bermain band Aneka Nada, selain juga harus bolak-balik Jakarta Bandung. Dalam subjudul Bung Karno Kontra CIA (hal 221-227), agen cantik CIA tersebut sedemikian rupa menyamarkan dirinya sehingga identitasnya sama sekali sempat tak terdeteksi.
Seperti apa sosok Pat Price ini? Megawati menggambarkan kecantikan sang mahasiswi itu mirip seperti Suzanne Pleshete. “Pokoknya cakep deh…Ampun! Mirip Suzanne Pleshete, tapi rambutnya panjangan, apalagi kalau pakai kebaya Jawa…waduh luwes sekali!,” tutur Mega seperti dikutip dari buku, “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”.***