Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, BATANG — Sebanyak 244 anak sisea siswi Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa ini terjadi Rabu, 23 September 2026, dan menjadi kasus berulang terkait pelaksanaan program serupa di daerah tersebut.
Makanan yang diduga menjadi penyebab dibagikan pada Selasa, 22 September 2026, dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bawang.
Menu yang disajikan berupa nasi, telur bolognaise, tumis sayur, tahu mendoan, dan potongan buah anggur.
Mulai Selasa malam hingga Rabu pagi (22-23 September 2026) para anak mulai mengeluhkan mual, pusing, muntah, diare, dan tubuh terasa lemas.
Tidak hanya siswa, sejumlah orang tua yang ikut mengonsumsi sisa makanan yang dibawa pulang serta para guru yang menyantap hidangan tersebut juga mengalami keluhan serupa.
Para korban berdatangan secara bergelombang ke Puskesmas Bawang. Karena jumlah pasien sangat banyak, sebagian dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan RS QIM.
Hingga Rabu malam, jumlah korban yang mendapat penanganan medis tercatat mencapai 244 orang, meskipun data masih terus dikembangkan petugas lapangan.
Sekolah-sekolah yang terdampak meliputi:
- SD Negeri 3 Bawang,
- SD Pasusukan,
- TK PAUD Al Ikhlas,
- TK PAUD Harapan Bunda,
- TK Pertiwi.
SPPG Ditutup Sementara
Wakil Bupati Batang, Suyono, saat meninjau langsung korban di RSUD Batang menyatakan bahwa dapur SPPG sementara waktu dihentikan operasinya.
“SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” tegasnya.
Sampel makanan telah dikirim untuk diperiksa di laboratorium Dinas Kesehatan, namun hasil belum keluar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, menyatakan belum ada angka pasti yang dapat dipublikasikan karena pendataan masih berjalan dinamis.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, turun langsung ke Puskesmas Bawang bersama jajaran pengawas dan kepala sekolah untuk memantau kondisi para siswa.
Sekretaris Desa Pasusukan, Ahmadi, menyampaikan bahwa korban berasal dari dua desa, yaitu Pasusukan dan Bawang, dengan rincian sementara 73 warga dari Desa Pasusukan dan 14 warga dari Desa Bawang.
Bukan yang Pertama
Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi di Batang. Sebelumnya, pada April 2025 dan Oktober 2025, juga muncul laporan dugaan keracunan terkait program pemberian makanan di sekolah, sehingga kasus kali ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Kronologi
- Selasa, 22 September 2026 — Makanan program MBG dibagikan kepada siswa di lima sekolah di Kecamatan Bawang.
- Selasa malam hingga Rabu pagi, 23 September 2026 — Para anak mulai mengalami gejala mual, muntah, diare, dan lemas. Orang tua yang ikut mengonsumsi juga sakit.
- Rabu pagi hingga siang, 23 September 2026 — Korban berdatangan ke Puskesmas Bawang secara bergelombang. Karena penuh, sebagian dirujuk ke RSUD Limpung dan RSUD Batang.
- Rabu siang, 23 September 2026 — Wakil Bupati Suyono mengumumkan penghentian sementara operasional dapur SPPG Bawang. Sampel makanan diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
- Rabu malam, 23 September 2026 — Jumlah korban tercatat 244 orang. Pemerintah masih menunggu hasil lab untuk menentukan penyebab pasti. Kasus diakui bukan pertama kali terjadi di Batang.
Sampai saat ini — Hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar. Pihak berwenang meminta masyarakat bersabar menunggu keterangan resmi.**

















