Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SUMENEP– Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, sebuah kisah cinta sederhana namun penuh makna terjadi di lereng bukit Ponpes Annuqayah, Gulukguluk, Sumenep. Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits atau akrab disapa Ra Mamak, kiai muda berjiwa sederhana, resmi mempersunting Nyai Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Gus Dur, pada Minggu, 5 April 2026.
Pernikahan berlangsung di masjid utama Ponpes Annuqayah Lubangsa Raya dengan dihadiri ratusan santri yang duduk bersila. Ra Mamak tampak tegar saat mengucap ijab kabul, sementara Inayah yang biasanya flamboyan kini tampak anggun berbalut kebaya putih sederhana. “Ini bukan pernikahan politik, tapi ikatan cinta dan silaturahmi,” ujar salah satu pengasuh pesantren yang menyaksikan.
Kisah Cinta
Ra Mamak (44), putra ulama besar KH. Warits Ilyas, dikenal sebagai kiai yang merakyat—sering turun ke sawah bersama santri dan aktif berdakwah di media sosial.
Inayah (43), aktivis PBNU yang juga aktris teater, pertama kali bertemu Ra Mamak saat acara keagamaan di Jakarta. “Kami sering diskusi soal lingkungan dan pendidikan pesantren,” kenang Inayah dalam wawancara singkat pasca-akad.
Ponpes Annuqayah yang didirikan 1887 bukan sekadar latar, tapi saksi perjalanan hidup keduanya. Ribuan santri putra-putri memadati area pernikahan, menciptakan suasana seperti hari raya. Ibu-ibu santri memasak massal nasi jagung dan sayur daun singkong, sementara anak-anak bersorak riang saat walimah.
Inayah yang dulu bersinar di OK-JEK dan monolog “Negeri Sarung” kini menempati posisi Nyai di pesantren bersejarah Madura. “Saya belajar banyak dari Mbak Inayah soal aktivisme lingkungan,” cerita salah satu santriwati. Sementara Ra Mamak yang bergelar doktor ini justru belajar humor dan keberanian dari putri bungsu Gus Dur.
Keesokan harinya, 6 April 2026, foto pernikahan menyebar viral di Instagram dan TikTok. Netizen terpesona melihat “pertemuan dua dunia”—pesantren tradisional Madura dengan aktivis urban Jakarta. Banyak yang menyebut ini simbol harmoni NU dan semangat Gus Dur yang inklusif.
Pernikahan ini bukan akhir, tapi awal baru. Ra Mamak-Inayah berjanji melanjutkan kiprah masing-masing: dia berdakwah, dia aktivisme, tapi kini bersama demi Indonesia yang lebih baik.
Profil Inayah
Inayah Wulandari Wahid adalah putri bungsu Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Sinta Nuriyah. Lahir pada 31 Desember 1982, ia dikenal sebagai aktivis, aktris, dan tokoh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ia mendirikan Positive Movement (PM) sejak 2006 untuk mendorong pemuda terlibat isu sosial seperti hak buruh migran (TKI) dan HAM. Sejak 2016, ia duduk di dewan pengawas Greenpeace Indonesia, fokus pada keadilan lingkungan dan pemberdayaan petani.
Inayah aktif di teater dan layar kaca, bintangi OK-JEK (2016–2018), serta pentas seperti Indonesia Kita, Tabib Suci (2022), dan monolog Negeri Sarung (2022) yang mengkritik politisasi agama. Ia lulusan Universitas Indonesia.
Baru saja menikah dengan Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, pengasuh Ponpes Annuqayah di Sumenep, pada 5 April 2026.
Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits adalah kiai muda asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah di Desa Guluk-Guluk.
Lahir pada 16 April 1982 di Sumenep, ia merupakan putra ulama karismatik KH. Warits Ilyas. Akrab disapa “Ra Mamak” atau “Kiai Mama'”, ia memiliki gelar doktor (Dr.) dan M.Hum., mencerminkan dedikasinya pada pendidikan agama dan pesantren.
Pesantren Annuqayah yang dipimpinnya didirikan tahun 1887 oleh KH. Moh. Syarqawi, menjadi salah satu pesantren tertua di Madura dengan ribuan santri putra dan putri. Ia aktif dalam struktur pengurus Lubangsa Putri, bersama Nyai Hj. Shafiyah A. Warits.
Baru saja menikah dengan Nyai Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Gus Dur, pada 5 April 2026 di pesantrennya, menarik perhatian publik nasional. **







