Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Departemen Perang AS Memutuskan Serang Iran Gunakan AI

badge-check


					AI Claude Perbesar

AI Claude

Penulis: Jacobus E Lato| Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Menurut sumber WSJ , militer AS terus menggunakan kecerdasan buatan Anthropic dalam kampanye serangan udara besar-besaran di Iran, meskipun ada larangan yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump hanya beberapa jam sebelumnya.

Secara spesifik, menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, komando militer, termasuk Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah, telah menggunakan model AI Claude dari Anthropic untuk mendukung operasi.

AI membantu memproses sejumlah besar data untuk mengidentifikasi target potensial. Sistem kemudian menjalankan skenario simulasi untuk mengoptimalkan efektivitas serangan.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem AI canggih memang telah banyak digunakan dalam alur kerja Departemen Perang AS. Bahkan ketika pemerintah berupaya memutuskan hubungan, Claude tetap menjadi bagian integral dari mesin operasional.

Sebelumnya pada 27 Januari, Presiden Donald Trump mengarahkan semua lembaga pemerintah federal untuk berhenti menggunakan perangkat AI Anthropic. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan bahwa perusahaan tersebut akan dianggap sebagai “ancaman terhadap rantai pasokan.”

Alasan utamanya berasal dari penolakan CEO Dario Amodei terhadap permintaan Hegseth untuk mengizinkan militer AS menggunakan AI “tanpa batasan” dalam skenario yang sah.

Anthropic berpendapat bahwa beberapa aplikasi militernya telah melanggar batasan etika perusahaan dan menegaskan bahwa keputusan militer yang penting harus tetap berada di bawah kendali manusia, bukan sepenuhnya dipercayakan kepada mesin.

Sebelum dimasukkan ke dalam “daftar hitam,” perusahaan AI ini merupakan mitra strategis Pentagon, dengan kontrak senilai $200 juta dengan OpenAI, Google, dan perusahaan AI milik Elon Musk.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PM Australia Minta Maaf karena Mengatakan Akan ‘Berhubungan Seks’ dengan Kylie Minogue

7 Juli 2026 - 19:22 WIB

Dr Lee Woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Naskah Alkitab Perjanjian Baru 42 Halaman yang Hilang Ditemukan

3 Mei 2026 - 19:02 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Kabar Baik 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz

19 April 2026 - 19:52 WIB

Trending di Internasional