Penulis: Jacobus E Lato| Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Menurut sumber WSJ , militer AS terus menggunakan kecerdasan buatan Anthropic dalam kampanye serangan udara besar-besaran di Iran, meskipun ada larangan yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump hanya beberapa jam sebelumnya.
Secara spesifik, menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, komando militer, termasuk Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah, telah menggunakan model AI Claude dari Anthropic untuk mendukung operasi.
AI membantu memproses sejumlah besar data untuk mengidentifikasi target potensial. Sistem kemudian menjalankan skenario simulasi untuk mengoptimalkan efektivitas serangan.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem AI canggih memang telah banyak digunakan dalam alur kerja Departemen Perang AS. Bahkan ketika pemerintah berupaya memutuskan hubungan, Claude tetap menjadi bagian integral dari mesin operasional.
Sebelumnya pada 27 Januari, Presiden Donald Trump mengarahkan semua lembaga pemerintah federal untuk berhenti menggunakan perangkat AI Anthropic. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan bahwa perusahaan tersebut akan dianggap sebagai “ancaman terhadap rantai pasokan.”
Alasan utamanya berasal dari penolakan CEO Dario Amodei terhadap permintaan Hegseth untuk mengizinkan militer AS menggunakan AI “tanpa batasan” dalam skenario yang sah.
Anthropic berpendapat bahwa beberapa aplikasi militernya telah melanggar batasan etika perusahaan dan menegaskan bahwa keputusan militer yang penting harus tetap berada di bawah kendali manusia, bukan sepenuhnya dipercayakan kepada mesin.
Sebelum dimasukkan ke dalam “daftar hitam,” perusahaan AI ini merupakan mitra strategis Pentagon, dengan kontrak senilai $200 juta dengan OpenAI, Google, dan perusahaan AI milik Elon Musk.***










