Penulis: Elok Apriyanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Jombang) memperkuat koordinasi lintas sektor, menyiapkan personel, serta memastikan kesiapan peralatan di lapangan guna menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama puncak musim hujan 2026.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan Pemerintah Kabupaten Jombang telah menerbitkan surat edaran Bupati Jombang kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) sebagai pedoman bersama dalam kesiapsiagaan bencana.
“Pemerintah daerah sudah mengeluarkan surat edaran bupati kepada seluruh OPD terkait kesiapsiagaan bencana. Bahkan di tingkat kecamatan juga telah dibentuk posko siaga bencana untuk menghadapi potensi hidrometeorologi,” ujar Wiku, Senin (26/1/2026).
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Jombang terus menjalin koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi prakiraan cuaca BMKG dijadikan dasar pengambilan langkah teknis di lapangan.
“Ketika ada indikasi hujan lebat, kami langsung berkoordinasi dengan dinas teknis terkait, terutama dalam pengaturan pintu air agar tidak terjadi luapan,” jelasnya.
Selain itu, upaya mitigasi bencana juga difokuskan pada pembersihan saluran air dan sungai yang rawan tersumbat. BPBD Jombang bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) secara rutin melakukan penanganan di sejumlah titik rawan banjir, terutama pada aliran sungai yang kerap membawa material seperti sampah dan bambu saat debit air meningkat.
“Jika terjadi banjir kiriman, biasanya membawa material yang bisa menyumbat jembatan sehingga air meluap. Hal ini selalu kami antisipasi melalui koordinasi dengan Dinas PU untuk segera dilakukan pembersihan,” tambah Wiku.
Untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia, Pemkab Jombang juga telah menggelar apel gabungan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan seluruh unsur terkait siap bergerak cepat dalam penanganan bencana dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami sudah melaksanakan apel besar kesiapsiagaan. Jadi ketika terjadi bencana, seluruh personel sudah siap memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak,” tegasnya.
Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2026. Potensi banjir luapan disebut berasal dari wilayah hulu, seperti Kota Batu dan Kandangan, Kediri, yang dapat berdampak ke wilayah Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.
“Jika curah hujan tinggi di daerah hulu, maka Wonosalam berpotensi terdampak luapan,” ungkap Wiku.
Selain Wonosalam, wilayah Kademangan dan Kauman di Kecamatan Mojoagung juga masuk dalam daftar kawasan yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena kerap mengalami luapan air saat hujan deras.
Meski demikian, BPBD Jombang memastikan kesiapan penuh dalam menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk evakuasi warga, penyediaan dapur umum melalui Tagana, hingga penanganan kejadian darurat seperti pohon tumbang.
“Seluruh SDM, peralatan, hingga alat berat dalam kondisi siap. Untuk kejadian skala kecil pun, perlengkapan tanggap darurat terus kami operasikan,” pungkasnya. **






