Penulis: Mulawarman | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, MAROS– Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), rute Yogyakarta-Makassar, hilang kontak hari ini pukul sekitar 13.17 WITA di wilayah perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pendaki melaporkan melihat pesawat oleng dan jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, dengan video serpihan puing yang beredar di media sosial.
Basarnas telah mengerahkan tim SAR dengan drone dan personel hingga 400 orang untuk pencarian di sekitar koordinat 04°57’08” S 119°42’54” E dekat Leang-Leang.
Pesawat registrasi PK-THT membawa 11 orang: 8 kru dan 3 penumpang dari Kementerian KKP. Kru termasuk Kapten Andy Dahananto dan First Officer Yudha Mahardika. Belum ada konfirmasi resmi jatuh atau korban jiwa, meski foto dan video puing belum diverifikasi otoritas.
Status Pencarian
Tim Basarnas Makassar membagi tiga regu untuk asesmen lokasi, didukung Kemenhub dan KNKT. Cuaca saat kejadian visibility 8 km dengan sedikit awan, tidak ekstrem. Pencarian masih berlangsung tanpa laporan kontak ulang.
Operasi SAR Basarnas untuk pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung masih berlangsung intensif hingga sore ini.
Tim gabungan telah menemukan serpihan puing dan titik koordinat jatuh di lereng gunung, dengan 400 personel dikerahkan termasuk TNI AU.
Pencarian difokuskan di kawasan Bantimurung-Bulusaraung perbatasan Maros-Pangkep, didukung warga lokal hingga 100 orang.
Progres Terkini
Lima tim awal sudah dikirim untuk asesmen lokasi, diikuti 15 dan 40 personel tambahan untuk pendakian. Belum ada konfirmasi korban ditemukan hidup atau bangkai utama, meski Basarnas memetakan area Leang-Leang dan kaki gunung. Drone dan helikopter digunakan untuk akses medan sulit.
Medan pegunungan curam dan vegetasi lebat memperlambat tim SAR, dengan cuaca visibility baik tapi potensi hujan malam. KNKT dan Kemenhub ikut berkoordinasi untuk investigasi black box setelah lokasi pasti ditemukan. Update lanjutan diharapkan segera dari posko Basarnas Makassar.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT hilang kontak saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, dari Yogyakarta pada 17 Januari 2026.
Kronologi dimulai pukul 04.23 UTC (sekitar 11.23 WIB), ketika Air Traffic Control (ATC) Makassar mengarahkan pesawat ke landasan pacu RWY 21, tapi pesawat keluar jalur dan diminta koreksi posisi.
Komunikasi terputus setelah arahan terakhir, memicu fase darurat DETRESFA dan koordinasi Basarnas serta TNI AU.
Rincian Penerbangan
Pesawat buatan 2000 ini membawa 10-11 orang: 7-8 kru termasuk Pilot Kapten Andy Dahananto, serta 3 penumpang dari Kementerian KKP. Cuaca saat itu visibility 8 km dengan sedikit awan, tidak ekstrem. Lokasi terakhir di perbatasan Maros-Pangkep dekat Leang-Leang dan Gunung Bulusaraung.
ATC langsung koordinasi dengan Basarnas dan Polres Maros; posko SAR dibuka di Bantimurung. Pencarian lanjutan direncanakan via helikopter pukul 16.25 WITA, dengan KNKT siaga investigasi. Pendaki melaporkan melihat pesawat oleng dan jatuh, didukung video serpihan.
Pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) membawa total 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari Kementerian KKP.
Identitas lengkap awak belum dirinci secara penuh oleh otoritas, kecuali Pilot in Command Capt. Andy Dahananto yang disebutkan secara spesifik. Penumpang teridentifikasi sebagai Deden, Ferry, dan Yoga.
-
Pilot in Command: Capt. Andy Dahananto (PIC utama).
-
Sisanya: 6 awak tambahan (termasuk co-pilot dan kru kabin), identitas belum dipublikasikan resmi oleh Kemenhub atau IAT.
Ketiga penumpang merupakan pejabat atau staf KKP yang menggunakan pesawat sewaan untuk tugas dinas dari Yogyakarta ke Makassar. Basarnas dan KNKT belum merilis daftar manifest lengkap hingga konfirmasi lokasi puing. Update identitas diharapkan segera dari posko SAR di Leang-Leang, Maros.






