Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

130 Ha Sawah Terendam Banjir di Ploso, Dispertan: Sudah Dilaporkan ke Jasindo untuk Asuransi

badge-check


					Beginilah suasana 130 hektar sawah terendam banjir di Ploso, Jombang. Dispaertan telah melaporkan kejadan itu untuk urusan klaim ausransi ke Jasindo. Fptp: kredonews.com/ elok apriyanto Perbesar

Beginilah suasana 130 hektar sawah terendam banjir di Ploso, Jombang. Dispaertan telah melaporkan kejadan itu untuk urusan klaim ausransi ke Jasindo. Fptp: kredonews.com/ elok apriyanto

Penulis: Elok Apriyanto   |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG-  Sebanyak 130 hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdampak banjir luapan Kali Marmoyo.

Meski kondisi air mulai berangsur surut, potensi banjir susulan masih mengancam karena intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terendam banjir.

“Total ada sekitar 130 hektare sawah yang terendam banjir di Kecamatan Ploso,” ujar Syaifuddin, Sabtu 17 Januari 2026.

Banjir pertanian tersebut tersebar di tiga desa, dengan luasan terbesar berada di Desa Gedongombo yang mencapai sekitar 70 hingga 80 hektare.

Sementara di Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, serta sebagian lahan di Desa Ploso yang berbatasan langsung dengan Desa Jatigedong.

Menurut Syaifuddin, genangan air mulai surut sejak 12–13 Desember, seiring berkurangnya curah hujan di wilayah atas.

Meski demikian, hingga kini masih terdapat sawah yang tergenang sehingga dampak kerusakan tanaman belum dapat dipastikan secara keseluruhan.

“Sampai hari ini belum bisa kami pastikan berapa luas tanaman yang mati, karena masih ada sawah yang tergenang air,” imbuhnya.

Data dampak banjir tersebut telah dilaporkan ke Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang dan ditindaklanjuti bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Pasalnya, sebagian lahan yang terdampak sudah ditanami padi dan terdaftar dalam program asuransi pertanian.

“Pihak asuransi sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” tambah Syaifuddin.

Meski banjir mulai surut, kewaspadaan tetap diperlukan. Syaifuddin menyebut, hujan kembali turun dalam beberapa hari terakhir sehingga potensi banjir susulan masih terbuka.

“Wilayah ini memang langganan banjir pertanian. Mayoritas persoalannya karena luapan Kali Marmoyo,” jelasnya.

Di wilayah Jatigedong dan Ploso, terdapat pertemuan aliran sungai yang bermuara ke Kali Marmoyo. Kondisi tanggul sungai yang sejajar dengan lahan pertanian, ditambah sejumlah titik tanggul yang rusak, membuat air mudah meluap ke sawah saat debit sungai meningkat.

“Banyak tanggul yang rusak dan membutuhkan normalisasi. Namun saat ini belum bisa dilakukan karena kondisi air masih tinggi. Begitu debit penuh, air langsung luber ke sawah,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gedongombo, Lasiman, membenarkan bahwa banjir di wilayahnya mulai berangsur surut, meski belum sepenuhnya kering.

“Sampai hari ini memang surut, tapi belum total. Masih ada sebagian sawah, terutama yang posisinya rendah, yang masih terendam,” kata Lasiman.

Terkait kondisi tanaman padi, Lasiman menyebutkan dampaknya bervariasi. Sebagian kecil tanaman dilaporkan mati dan membutuhkan tanam ulang, namun tidak dalam jumlah besar.

“Ada sebagian tanaman yang mati dan perlu ditanam ulang, tapi jumlahnya relatif kecil,” ujarnya.

Meski demikian, kekhawatiran petani masih tinggi mengingat musim hujan masih berlangsung dan wilayah tersebut kerap mengalami banjir berulang.

“Petani khawatir, karena di sini tidak hanya sekali banjir. Takutnya setelah ini surut, akan banjir lagi,” tambahnya.

Pihak desa berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir luapan Kali Marmoyo. Lasiman mencontohkan kondisi pendangkalan parah di wilayah Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu, yang sebelumnya telah mendapat penanganan sementara.

“Harapannya, air bisa cepat surut meskipun banjir, sehingga genangan tidak berlangsung lama. Ke depan, paling tidak ada solusi permanen untuk penanganan Kali Marmoyo,” pungkasnya. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dugaan Permintaan Aborsi Seret Runner-up Raka Raki Jatim 2026, Begini Respons Pemkot Surabaya

10 Agustus 2026 - 20:54 WIB

DJP Tegaskan Belum Ada Rencana Pajaki Pemilik Rumah Kontrakan pada 2027

10 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Mirip Film Perang Fiksi, RRT Lawan Nyamuk Gunakan Senjata Laser

10 Agustus 2026 - 20:34 WIB

BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP

10 Agustus 2026 - 20:24 WIB

Ritual Malam Bakar Obat Nyamuk Nasional, Nilai Pasar Rp7,8 Triliun/ Tahun

10 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Prakiraan APBD Jombang 2027: Cuma Naik Rp167 Miliar

10 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Harga Naik Terus, Koperasi Unggas Sejahtera Bagikan Gratis 600 Ekor Ayam kepada Warga Batang

10 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Diduga Kasus Tanah Kaveling, Polresta Malang Terbitkan Surat DPO terhadap Ipda Wibowo Hari Sucahyo

10 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Mobil Peserta Drag Rage Hilang Kendali, Enam Penonton Tewas Tertabrak 11 Lukaluka di Kotamobagu

9 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Trending di News