Menu

Mode Gelap

Life Style

Mengenal Superflu: Flu Musiman dengan Gejala Lebih Berat dan Penularan Lebih Cepat

badge-check


					Mengenal Superflu: Flu Musiman dengan Gejala Lebih Berat dan Penularan Lebih Cepat Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Belakangan ini, istilah superflu ramai dibicarakan di Indonesia seiring meningkatnya kasus influenza musiman di sejumlah negara, termasuk di dalam negeri.

Meski terdengar mengkhawatirkan, superflu sebenarnya bukan penyakit baru. Istilah ini digunakan untuk menyebut varian virus influenza A(H3N2) subclade K yang memicu gejala flu lebih berat dan penyebaran yang lebih cepat dibandingkan flu musiman pada umumnya.

Apa Itu Superflu?

Superflu bukan istilah medis resmi. Sebutan ini muncul di masyarakat untuk menggambarkan lonjakan kasus influenza musiman akibat virus influenza A(H3N2) subclade K.

Varian tersebut pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat pada Agustus 2025 oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sejak saat itu, penyebarannya terpantau hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Para ahli menilai virus ini merupakan hasil mutasi genetik ringan atau antigenic drift dari virus influenza yang sudah lama dikenal, bukan virus baru yang muncul secara tiba-tiba.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memastikan keberadaan superflu terdeteksi melalui sistem surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) sejak Agustus 2025. Varian ini masih termasuk influenza musiman yang dipantau secara global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan tidak menunjukkan pola evolusi virus yang tidak biasa. Hingga kini, situasi nasional dinilai terkendali tanpa indikasi peningkatan tingkat keparahan dibandingkan flu biasa.

Gejala Superflu

Secara umum, gejala superflu menyerupai flu musiman, tetapi cenderung lebih berat dan berlangsung lebih lama sehingga mengganggu aktivitas harian.

Gejala yang sering muncul antara lain:

  • Demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius
  • Batuk kering yang menetap
  • Pilek dan nyeri tenggorokan
  • Sakit kepala serta nyeri otot dan sendi
  • Kelelahan ekstrem disertai penurunan nafsu makan
  • Mata terasa nyeri, berair, atau sensitif terhadap cahaya

Gejala biasanya muncul secara mendadak, sekitar dua hingga tiga hari setelah terpapar virus. Proses pemulihan dapat berlangsung lebih dari dua minggu. Pada anak-anak, keluhan sering kali lebih beragam. Secara klinis, dokter sulit membedakan superflu dan flu biasa hanya dari gejala, sehingga pemeriksaan lanjutan seperti Whole Genome Sequencing (WGS) diperlukan untuk memastikan jenis virus.

Kelompok rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis—di antaranya diabetes, gangguan jantung, dan penyakit paru—memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, termasuk pneumonia, perawatan rumah sakit, hingga kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Penyebaran Superflu di Indonesia

Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus superflu yang tersebar di delapan provinsi. Jumlah tertinggi ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Sebagian besar kasus terjadi pada anak-anak dan perempuan. Satu kasus kematian dilaporkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pada pasien dengan penyakit penyerta seperti stroke dan gangguan jantung. Memasuki Januari 2026, tidak ditemukan lonjakan kasus baru yang signifikan, bahkan tren influenza secara umum menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Secara global, varian ini memicu peningkatan kasus di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Tingkat penularannya tergolong tinggi, di mana satu orang dapat menularkan virus ke dua orang atau lebih. Di Indonesia, penularan terutama terjadi melalui droplet saat batuk atau bersin, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.

Perbedaan dengan Flu Biasa

Meski memiliki kemiripan gejala, superflu umumnya lebih menular dan muncul secara tiba-tiba dengan keluhan yang lebih berat. Flu biasa biasanya masih memungkinkan penderitanya beraktivitas ringan dan jarang menimbulkan keluhan berkepanjangan. Sebaliknya, superflu sering menyebabkan kelelahan ekstrem, batuk yang lama, serta demam tinggi yang membuat kondisi tubuh menurun drastis.

Namun, berdasarkan pemantauan WHO, tidak terdapat bukti bahwa subclade K lebih ganas atau mampu menghindari imunitas dari infeksi sebelumnya maupun vaksin. Superflu tetap dikategorikan sebagai influenza musiman, berbeda dengan COVID-19 yang memiliki tingkat keparahan lebih tinggi.

Pencegahan dan Pengobatan

Upaya pencegahan superflu menekankan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun
  • Menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan
  • Menerapkan etika batuk dan bersin
  • Menjaga pola istirahat, asupan gizi seimbang, dan olahraga teratur
  • Menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang kotor

Vaksin influenza tahunan sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko, karena dapat menurunkan kemungkinan sakit berat hingga sekitar 60 persen. Jika terinfeksi, penderita disarankan beristirahat di rumah, mencukupi kebutuhan cairan, serta segera berkonsultasi ke tenaga medis bila gejala memburuk, seperti sesak napas atau demam yang tidak turun. Penanganan umumnya bersifat simptomatik, dengan pemberian antivirus seperti oseltamivir bila diperlukan.

Di tingkat kewaspadaan nasional, sejumlah bandara, termasuk Bandara Ngurah Rai di Bali, telah mengaktifkan pemindai suhu tubuh untuk skrining penumpang. Para ahli menegaskan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap diminta waspada.

Sumber:
ipb.ac.id/news/
BBLAB Kemenkes Makassar

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pandji Pragiwaksono Jalani Upacara Adat Toraja: Kena Denda Seekor Babi dan 5 Ekor Ayam

11 Februari 2026 - 00:15 WIB

Miss Universe Indonesia 2025 Ungkap Kriteria Kendaraan Idaman

10 Februari 2026 - 18:21 WIB

Sinetron Garapan AI Kini Makin Marak

10 Februari 2026 - 17:06 WIB

Cokelat Tak Boleh Disimpan di Kulkas atau Freezer

10 Februari 2026 - 16:32 WIB

Jemblem dan Misro, Dua Nama Satu Rasa dari Jawa

9 Februari 2026 - 15:46 WIB

Vakum Bertahun-tahun, Pemkab Jombang Hidupkan Kembali Seni Gambus Misri Sumobito

9 Februari 2026 - 15:16 WIB

Jeruk Bali Dapat Menjadi Silent Killer, Ini Sebabnya

9 Februari 2026 - 15:12 WIB

Kemangi: Daun Kecil dengan Manfaat Besar untuk Kesehatan

9 Februari 2026 - 12:03 WIB

Tak Hanya Bernyanyi, Denada Kini Menata Warisan Hidup untuk Generasi Baru

9 Februari 2026 - 11:53 WIB

Trending di Life Style