Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Kopi Gayo dari Aceh sudah lama jadi bintang di panggung kopi dunia. Rasanya yang khas, aromanya yang menggoda, dan reputasinya yang mendunia membuatnya jadi kebanggaan Indonesia.
Tapi di balik secangkir kopi Gayo, ada cerita panjang tentang varietas Hibrido de Timor (HDT)—bibit kopi yang ternyata berasal dari Timor Leste.
Varietas ini bukan sekadar tanaman. Ia adalah saksi sejarah, pengubah nasib, dan penggerak ekonomi di Dataran Tinggi Gayo. Dari petani kecil hingga eksportir besar, semua pernah merasakan manisnya keuntungan dari kopi HDT. Bahkan, masa kejayaan kopi ini pernah membuat banyak orang kaya raya di Medan dan Aceh.
Lebih dari sekadar rasa, HDT membawa ketahanan terhadap penyakit karat daun—musuh utama kopi. Karena itu, varietas ini jadi “induk genetik” bagi banyak varietas unggul di dunia, dari Kenya hingga Brasil.
Cerita HDT dimulai tahun 1917, ketika varietas ini ditemukan sebagai hasil persilangan alami antara Arabika dan Robusta. Peneliti kopi asal Portugal kemudian mengembangkan varietas ini lebih serius pada 1978. Tak lama setelah itu, HDT dibawa ke Indonesia: pertama kali ditanam di Dataran Tinggi Gayo pada 1979, lalu menyebar ke Flores pada 1980. Dari situlah HDT jadi induk bagi banyak varietas unggul lain.
Di era krisis moneter, harga kopi melonjak drastis. Petani Gayo panen melimpah, pedagang kaya raya, dan transaksi perdagangan kopi meningkat tajam. Dari hasil kopi HDT, banyak anak petani bisa sekolah tinggi, jadi pejabat, pengusaha, bahkan pegawai negeri. Singkatnya, HDT bukan hanya soal rasa kopi, tapi juga soal perubahan hidup.
Tak hanya di Gayo, pedagang dari berbagai wilayah Aceh ikut merasakan berkahnya. Mereka menambah aset, membangun rumah, bahkan memperluas usaha hingga ke luar daerah. Kopi HDT seakan menjadi “mesin ekonomi” yang menggerakkan banyak roda kehidupan.
Popularitas HDT tak berhenti di Indonesia. Varietas ini kemudian digunakan sebagai sumber genetik untuk menciptakan varietas baru yang lebih tahan terhadap penyakit dan perubahan iklim. Nama-nama seperti Ruiru 11 di Kenya, Catimor di Brasil, dan Costa Rica 95 di Kosta Rika adalah bukti nyata bahwa HDT punya pengaruh global.
Hari ini, mungkin HDT sudah tak sepopuler dulu karena konflik dan perubahan iklim. Tapi jasa kopi ini tak bisa dilupakan. Ia pernah mengangkat derajat banyak keluarga, menyekolahkan anak-anak hingga jadi pejabat, pengusaha, bahkan pegawai negeri.
Jadi, lain kali Anda menyeruput Kopi Gayo, ingatlah: ada jejak Timor Leste di dalamnya, ada sejarah panjang yang membuat kopi ini bukan sekadar minuman, tapi juga bagian dari perjalanan hidup banyak orang.****











