Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

ADD Turun, Ratusan Kades Aksi Unjuk Rasa di Depan Kantor Pemkab Mojokerto

badge-check


					Ratusan kepala desa dalam gerakan Pamong Mojphait, melakukan aksi unjuk rasaj menuntut bupati Mojokerto, agar mengembalikan Alokasi Dana Desa (ADD) tidak dipangkas dikembali seperti tahun 2025. Foto:  Insatgram@aslimojokertocom Perbesar

Ratusan kepala desa dalam gerakan Pamong Mojphait, melakukan aksi unjuk rasaj menuntut bupati Mojokerto, agar mengembalikan Alokasi Dana Desa (ADD) tidak dipangkas dikembali seperti tahun 2025. Foto: Insatgram@aslimojokertocom

Penulis: Gandung Kardiyono  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, MOJOKERTO- Ratusan kepala desa dan perangkat desa dari aliansi Pamong Mojopahit menggelar unjuk rasa di depan Kantor Pemkab Mojokerto pada 24 Desember 2025 untuk memprotes pemangkasan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun anggaran 2026.

Penurunan ADD disebabkan oleh pemangkasan dana transfer pusat ke Pemkab Mojokerto sebesar Rp 316-341,9 miliar, termasuk DAU Rp 176,3 miliar, DBH Rp 85 miliar, dan DAK nonfisik Rp 10,2 miliar. Hal ini membuat APBD 2026 turun Rp 316,4 miliar secara keseluruhan, memaksa realokasi anggaran termasuk ADD.

​Koordinator aksi demo Pamong Mojopahit di depan Kantor Pemkab Mojokerto, Sunardi Kades Temon, Kecamatan Trowulan. Ia memimpin orasi dari atas mobil komando dan mengimbau massa untuk tetap tenang saat situasi memanas.

Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra (Gus Barra), tidak hadir secara langsung dalam aksi demo Pamong Mojopahit pada 24 Desember 2025 di depan Kantor Pemkab.

Massa sengaja bertahan hingga sore hari menanti kehadiran bupati untuk audiensi langsung terkait pemangkasan ADD 2026. Koordinator Sunardi menyatakan bahwa dialog dengan bupati menjadi syarat utama untuk meredakan aksi.

Audiensi sebelumnya hanya dengan Sekda Teguh Gunarko yang berakhir buntu dan walk out, sehingga pendemo menolak bubar tanpa pertemuan bupati. Hingga berita terakhir, bupati belum tercatat menemui massa di lokasi.

Aksi dimulai pagi hari dengan massa mengepung kantor sambil menggelar orasi dan membentangkan spanduk tuntutan seperti “Kembalikan ADD seperti semula” dan “Jangan Potong Gaji Kami”. Pemangkasan ADD dinilai menyebabkan penurunan drastis pendapatan tetap (siltap) kepala desa dan perangkat desa, mengancam operasional pemerintahan desa.

Pendemo menuntut pengembalian ADD ke level sebelumnya serta penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) tentang siltap. Mereka mengancam boikot program Pemkab Mojokerto, termasuk pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), jika tuntutan tak dikabulkan.

Audiensi awal dengan Sekda tak membuahkan hasil, sehingga massa menunggu Bupati Muhammad Al Barra (Gus Barra). Situasi memanas saat polisi menolak permintaan masuk ke pendopo untuk berteduh, memicu saling dorong dan seorang polisi ditarik masuk gerbang.

Kericuhan diredam oleh koordinator aksi yang mengimbau ketenangan, dengan pengawalan polisi. Hingga siang, pendemo bertahan menanti respons bupati terkait kebijakan ADD.

Kepala desa dan perangkat desa dari aliansi Pamong Mojopahit menuntut pengembalian Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2026 ke besaran semula yang tidak dipangkas.

Mereka juga mendesak Pemerintah Kabupaten Mojokerto segera menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur pendapatan tetap (siltap) bagi kepala desa dan perangkat desa. Spanduk demo mencantumkan pesan seperti “Kembalikan ADD seperti semula” dan “Jangan Potong Gaji Kami”.

Pemangkasan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2026 di Pemkab Mojokerto memicu protes karena dianggap menurunkan drastis pendapatan tetap (siltap) kepala desa dan perangkat desa.

Pendemo mengancam boikot seluruh program Pemkab Mojokerto, termasuk pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), jika tuntutan tidak dipenuhi. Audiensi awal dengan Sekda tidak membuahkan hasil, sehingga mereka menunggu pertemuan langsung dengan Bupati Muhammad Al Barra.

Ketika terjadi saling dorong dengan polisi, Sunardi berhasil meredam emosi massa dengan meminta mereka menahan diri dan menghindari tindakan anarkis. Pengawalan polisi kemudian diperketat setelah intervensinya.

Pemkab Mojokerto memangkas anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) untuk tahun 2026 sebesar Rp30 miliar akibat penurunan transfer ke daerah (TKD) dari pusat. Pemangkasan ini bagian dari pengurangan TKD total Rp341,9 miliar dibandingkan 2025, termasuk Dana Desa (DD) Rp42,9 miliar.  **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

KH Nurul Huda Djazuli Pimpin AHWA: Putuskan KH Miftachul Akhyar Kembali Duduki Rais Aam PB NU 2026-2931

31 Agustus 2026 - 00:23 WIB

Bahar Smith Tantang Duel Hercules: Memperkusut Kasus Hukum Tewasnya Bambang Setiawan

30 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik

30 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Cuaca Panas di Sidoarjo Belum Reda, Musim Hujan Datang Akhir Oktober

30 Agustus 2026 - 19:31 WIB

Elon Musk: Blindsight Implant bagi Penyandang Kebutaan Bisa Melihat

30 Agustus 2026 - 18:44 WIB

Travel ITS Group Telantarkan 196 Jamaah Umrah di Juanda dan Jombang

30 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Ricuh 30 Menit di Muktamar NU, Massa Pakai Kaos Gambar Bakal Calon Terbalik

30 Agustus 2026 - 15:11 WIB

Warga Wonorejo Temukan Jasad Bayi Perempuan Mengambang di Sungai

30 Agustus 2026 - 14:38 WIB

13 Pelanggaran yang Masuk RUU Perampasan Aset

30 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Trending di News