Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Bayar Rp 16,6 Triliun, RI Resmi Aktif sebagai Anggota BRICS

badge-check


					Secara resmi Indonesia masuk BRCS, setelah membayar Rp 16,16 triliun, menjadi anggota aktif. Foto: Instagram@katadata Perbesar

Secara resmi Indonesia masuk BRCS, setelah membayar Rp 16,16 triliun, menjadi anggota aktif. Foto: Instagram@katadata

Penulis: Jacobus E. Lato     |     Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWW.COM, JAKARTA- Indonesia resmi bergabung dengan BRICS sebagai anggota ke-10 setelah menyetor investasi awal US$1 miliar (setara Rp16,6 triliun) ke New Development Bank pada 1 Desember 2025. Keanggotaan ini efektif mulai Januari 2025, menjadikan Indonesia bagian dari platform pendanaan global yang sering disebut alternatif IMF dan Bank Dunia.​

Setoran dilakukan pada 1 Desember 2025, dengan pengumuman resmi sekitar 6 Januari 2025. BRICS berkembang menjadi BRICS+ untuk menampung mitra baru seperti Indonesia.​

BRICS+ mewakili lebih dari 40% populasi dunia dan 30% PDB global, membuka peluang bagi Indonesia di bidang ekonomi, perdagangan, dan keuangan.

Kolaborasi potensial mencakup pendidikan, ketahanan pangan, energi, serta pengembangan SDM melalui New Development Bank untuk proyek infrastruktur berkelanjutan.​

BRICS adalah singkatan dari Brazil, Russia, India, China, dan South Africa. Kelompok ini merupakan organisasi antarpemerintah negara-negara berkembang yang dibentuk untuk memperkuat kerjasama ekonomi, perdagangan, dan politik sebagai penyeimbang dominasi Barat.​

Akronim BRIC pertama kali diciptakan oleh ekonom Goldman Sachs Jim O’Neill pada 2001, kemudian Afrika Selatan bergabung pada 2010 sehingga menjadi BRICS pada 2011. KTT pertama diadakan pada 2009 di Rusia, dan kini berkembang menjadi BRICS+ dengan anggota baru seperti Iran, Mesir, Etiopia, UEA, serta Indonesia sebagai anggota ke-10.​

Tujuan dan Dampak

BRICS bertemu tahunan untuk koordinasi multilateral berdasarkan prinsip non-intervensi dan kesetaraan, mewakili 45% populasi dunia serta 30% PDB global. New Development Bank (NDB) didirikan 2014 untuk pendanaan infrastruktur berkelanjutan di negara anggota.​

Langkah ini juga bagian dari strategi diversifikasi hubungan internasional Indonesia. Selain BRICS, Indonesia sedang dalam proses aksesi OECD, menyelesaikan IEU-CEPA, memulai CPTPP, serta menjajaki kemitraan strategis dengan Uni Eropa, AS, hingga Afrika.

BRICS kini mencakup 20 negara yang mewakili 56% populasi dunia dan lebih dari 40% PDB global (PPP). Presiden NDB Dilma Rousseff menyebut, Indonesia sebagai pemain penting global dengan visi pembangunan jangka panjang, sebuah posisi yang kini semakin diperkuat di peta geopolitik dunia.

Indonesia resmi bergabung dengan BRICS sebagai anggota ke-10 setelah menyetor investasi awal US$1 miliar (setara Rp16,6 triliun) ke New Development Bank pada 1 Desember 2025. Keanggotaan ini menempatkan Indonesia dalam platform pendanaan global yang sering disebut alternatif IMF dan Bank Dunia.​

Keanggotaan membuka akses pendanaan pembangunan, pasar baru, serta jejaring geopolitik luas, sejalan dengan peran Indonesia di Global South. Manfaat optimal bergantung pada penguatan industri nasional, tata kelola investasi, dan diplomasi bebas aktif.​

Langkah ini bagian dari diversifikasi hubungan internasional Indonesia, termasuk proses aksesi OECD, IEU-CEPA, CPTPP, serta kemitraan strategis dengan UE, AS, dan Afrika.​

BRICS+ kini mencakup 20 negara, mewakili 56% populasi dunia dan 40% PDB global (PPP). Presiden NDB Dilma Rousseff menilai Indonesia sebagai pemain global penting dengan visi pembangunan jangka panjang yang kian kuat di peta geopolitik.

BRICS bertujuan memperkuat kerjasama ekonomi, perdagangan, dan pembangunan antarnegara berkembang sebagai penyeimbang dominasi Barat.

Kelompok ini mendorong penggunaan mata uang nasional untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS serta membangun sistem keuangan global yang lebih inklusif.​
Tujuan Utama

  • Meningkatkan kolaborasi ekonomi, investasi, dan inovasi teknologi tanpa bergantung pada negara maju.​
  • Menjunjung perdamaian, keamanan, kesejahteraan bersama, serta pembangunan berkelanjutan seperti pengurangan kemiskinan.​
  • Menciptakan tatanan dunia multipolar melalui dialog multilateral yang proaktif dan transparan.​

BRICS mendukung negara berkembang di bidang militer, teknologi, diplomasi, dan kerjasama tropikal seperti pemberantasan perdagangan obat terlarang. Melalui New Development Bank, pendanaan infrastruktur menjadi prioritas untuk ekspansi ekonomi anggota. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mirip Film Perang Fiksi, RRT Lawan Nyamuk Gunakan Senjata Laser

10 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Ritual Malam Bakar Obat Nyamuk Nasional, Nilai Pasar Rp7,8 Triliun/ Tahun

10 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Prakiraan APBD Jombang 2027: Cuma Naik Rp167 Miliar

10 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Harga Naik Terus, Koperasi Unggas Sejahtera Bagikan Gratis 600 Ekor Ayam kepada Warga Batang

10 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Diduga Kasus Tanah Kaveling, Polresta Malang Terbitkan Surat DPO terhadap Ipda Wibowo Hari Sucahyo

10 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Mobil Peserta Drag Rage Hilang Kendali, Enam Penonton Tewas Tertabrak 11 Lukaluka di Kotamobagu

9 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Menelisik Akar Terorisme (47): Hector Pahlawan Troya Mati Ketakutan

9 Agustus 2026 - 19:48 WIB

Ilustrasi. Foto: ist

Beroperasi Pakai Ambulans, Petugas Satpol PP Tangkap Pencuri Bangku di Taman Mundu Surabaya

9 Agustus 2026 - 19:29 WIB

Diduga Praktek Mafia Hukum, Istri Cari Keadilan Tiba-tiba Jadi Pengaju Gugatan Cerai di PA Karawang

9 Agustus 2026 - 18:44 WIB

Trending di News