Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Viral Citra Satelit Pulau Jawa Tampak “Merah Menyala”, Ini Penjelasan BMKG

badge-check


					Citra satelit yang menunjukkan Pulau Jawa tampak memerah pada Oktober 2025 yang bertepatan dengan peralihan musim kemarau ke musim hujan.
© X/@Jateng_Twit Perbesar

Citra satelit yang menunjukkan Pulau Jawa tampak memerah pada Oktober 2025 yang bertepatan dengan peralihan musim kemarau ke musim hujan. © X/@Jateng_Twit

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Warganet di media sosial X ramai memperbincangkan citra satelit yang memperlihatkan Pulau Jawa tampak “merah menyala”.

Dalam unggahan akun X @Jat****, Senin (13/10/2025), warna merah pekat tampak menutupi sebagian besar wilayah Jawa.

Daerah tersebut meliputi Yogyakarta, Sumenep, Semarang, Bandung, Cianjur, Jakarta, dan Cilegon.

Sementara itu, warna merah muda hingga cenderung putih juga terlihat di beberapa titik lain, seperti Purwodadi, Jepara, Mojokerto, Cirebon, dan Madiun.

Sehari berselang, akun X @hr**** turut membagikan ulang citra satelit lain yang menyoroti kawasan utara Pulau Jawa dan perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Dari gambar tersebut, Pati tampak “menyala” dengan suhu 33 derajat Celsius, sedangkan Sragen mencatat suhu tertinggi mencapai 37 derajat Celsius.

Adapun daerah lain juga menunjukkan suhu yang tak kalah tinggi, seperti Ploso 35 derajat Celsius, Madiun 36 derajat Celsius, serta Wonogiri, Blora, dan Bojonegoro masing-masing 32 derajat Celsius.

Lalu, apa yang menyebabkan citra Pulau Jawa terlihat “merah menyala”?

Penjelasan BMKG
Analis Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, Zauyik, menjelaskan bahwa pada Oktober 2025 posisi Matahari dalam gerak semunya berada di sekitar garis khatulistiwa dan mulai bergerak menuju Belahan Bumi Selatan (BBS).

Hal tersebut membuat Matahari tampak berada di atas Pulau Jawa dan Indonesia secara umum.

“Fenomena ini menyebabkan suhu udara terasa lebih panas di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di Jawa Tengah,” ujar Zauyik ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (14/10/2025).

Khusus wilayah Jawa Tengah Zauyik menegaskan bahwa wilayah ini sedang dalam musim peralihan atau pancaroba.

Kondisi tersebut ditandai adanya curah hujan cukup tinggi di beberapa wilayah.

Musim pancaroba juga menyebabkan kelembapan udara yang cenderung tinggi dan disertai suhu yang tinggi menyebabkan kondisi ketidaknyamanan.

“Bulan Oktober secara umum (rata-rata) di wilayah Jateng merupakan suhu tertinggi dibanding bulan lain dalam satu tahun,” jelas Zauyik.

Terpisah, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, faktor lain yang menyebabkan cuaca terasa panas pada Oktober 2025 adalah pertumbuhan awan yang sudah jarang di wilayah selatan Indonesia.

Minimnya pertumbuhan awan membuat tidak ada awan yang menutup sinar Matahari sehingga dampaknya dirasakan secara langsung oleh manusia.

Kondisi tersebut menyebabkan cuaca terasa sangat panas di beberapa wilayah di Indonesia.

Ia menambahkan, suhu yang ideal untuk wilayah perkotaan rata-rata 31-34 derajat Celsius.

“Saat ini kenapa terlihat panas? Karena di sisi selatan Matahari sekarang itu udah bergeser di selatan wilayah Indonesia,” ujar Guswanto dikutip dari Antara, Senin (13/10/2025).

Guswanto menambahkan, wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan sejak Agustus 2025.

Meski begitu, musim hujan tidak terjadi secara serentak mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia.

BMKG memperkirakan bahwa hampir semua wilayah indonesia akan memasuki musim hujan pada November 2025.

Datangnya musim hujan juga akan dibarengi dengan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah, seperti Sumatera Utara dan Jawa bagian tengah.

“Nanti di Desember, Januari, Februari itu sudah serentak,” pungkas Guswanto.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ojol Minta Potongan Komisi 8% Diperluas ke Layanan Delivery

3 Juli 2026 - 18:44 WIB

Kadin Jatim: Perlu Pembahasan Komprehensif RPMK Tembakau

2 Juli 2026 - 19:55 WIB

Ditemukan Gudang Narkotika di Gresik Sindikat Internasional

2 Juli 2026 - 19:10 WIB

BPOM Temukan 12 Obat Bahan Alam Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat

1 Juli 2026 - 20:04 WIB

Pertamax Turbo Turun Harga Per 1 Juli 2026, Simak Daftar Harga

1 Juli 2026 - 19:41 WIB

Operasi Gabungan Satpol PP dan Bea Cukai Gresik Berhasil Amankan Ribuan Batang Rokok Ilegal

30 Juni 2026 - 22:33 WIB

Tarif Listrik Juli-Agustus-September Tak Naik

30 Juni 2026 - 21:23 WIB

Tumpeng Nasi Krawu KWG Berhasil Masuk Rekor Dunia

30 Juni 2026 - 06:05 WIB

Peternak Unjuk Rasa dan Bagi Telur Gratis di Gedung DPRD Jatim

29 Juni 2026 - 20:18 WIB

Trending di Nasional