Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Siapa yang bisa menolak legitnya wajik? Kudapan tradisional berbahan dasar beras ketan ini bukan sekadar makanan manis, melainkan bagian dari perjalanan panjang kuliner Nusantara. Diolah dengan santan dan gula merah, wajik menghadirkan tekstur kenyal yang memanjakan lidah, sekaligus aroma harum yang menggoda.
Berakar dari Pulau Jawa, wajik kerap hadir dalam momen sakral seperti pernikahan, syukuran, hingga upacara adat. Bentuk potongannya yang menyerupai berlian melahirkan nama “wajik”, simbol keberuntungan dan kemakmuran bagi masyarakat Jawa.
Proses pembuatannya memang membutuhkan kesabaran: beras ketan direndam semalaman, dikukus, lalu dimasak bersama santan dan gula merah hingga lengket dan mengental. Setelah matang, adonan dipotong berbentuk wajik atau persegi, siap disantap dalam kebersamaan.
Tak hanya di Jawa, wajik juga punya ragam lokal di berbagai daerah. Di Bali, ia hadir sebagai persembahan dalam upacara adat. Di Sumatera, dikenal sebagai “pulut manis” dengan tambahan daun pandan yang memberi aroma khas.
Kelezatan wajik menjadikannya kudapan lintas generasi. Hingga kini, wajik tetap bertahan sebagai bagian penting dari warisan kuliner Indonesia—manis di lidah, hangat di hati, dan kaya makna budaya.***











