Penulis: Elok Aprianto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG- Petani di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mendapat angin segar di awal musim panen padi dengan harga gabah kering panen (GKP) yang stabil di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 7.200 per kilogram di tingkat petani. Harga ini belum termasuk biaya operasional seperti sewa mesin combine harvester.
Kestabilan harga gabah di Jombang dikonfirmasi Kusaini, salah satu tengkulak gabah di Desa Pagerwojo. Ia menyebut harga GKP saat ini masih berada pada level normal. “Masih normal. Gabah dari sawah atau panen sekarang di kisaran Rp 7.000 sampai Rp 7.200 per kilogram, tergantung kualitasnya,” ujar Kusaini, Sabtu 3 Januari 2026.
Namun, Kusaini menegaskan harga tersebut belum bersih karena petani masih harus menanggung biaya panen. “Belum bersih karena masih ada biaya sewa mesin combine,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Perak, Fathulloh, mengatakan sejumlah desa di wilayah Perak sudah mulai memasuki masa panen, meski belum serempak.
“Di Perak ini sudah mulai panen, tapi masih awal. Puncaknya kemungkinan terjadi pada Januari 2026,” jelas Fathulloh.
Ia menyebutkan, harga gabah di Desa Pagerwojo relatif lebih tinggi, berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 7.100 per kilogram.
Menurutnya, kualitas hasil panen dan keserempakan waktu panen sangat memengaruhi harga jual gabah petani. “Semakin serempak dan kualitasnya bagus, harga gabah juga cenderung lebih tinggi,” katanya.
Berdasarkan data PPL, luas tanam padi di Kecamatan Perak mencapai sekitar 1.428 hektare. Desa Pagerwojo menjadi salah satu wilayah yang konsisten menerapkan pola tanam padi tiga kali dalam setahun.
Sementara itu, beberapa desa lain seperti Temuwulan, Glagahan, dan Sembung, sebagian lahannya dialihkan untuk komoditas jagung sebagai bagian dari diversifikasi pertanian.
Program intensifikasi pertanian di Kecamatan Perak juga didukung melalui optimalisasi lahan (oplah) di lima desa, yakni Sembung, Sumberagung, Sukorejo, Jantiganggong, dan Cangkringrandu. Selain itu, pemerintah turut memfasilitasi pompa sibel untuk mendukung pengairan lahan pertanian.
“Untuk yang baru panen di Cangkringrandu masih sekitar 20 persen. Jadi puncak panennya memang diperkirakan Januari,” pungkas Fathulloh.
Kestabilan harga gabah di awal musim panen ini menjadi indikator positif bagi ketahanan ekonomi petani di Jombang. Meski demikian, petani tetap diimbau menghitung secara cermat biaya operasional, khususnya sewa alat mesin pertanian (alsintan), agar keuntungan yang diperoleh tetap optimal.
Pemantauan harga gabah menjelang puncak panen juga diharapkan terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan guna mengantisipasi fluktuasi harga yang berpotensi merugikan petani.
Dengan luas tanam yang signifikan serta dukungan program intensifikasi, sektor pertanian di Kecamatan Perak, Jombang, terus menunjukkan peran strategis dalam menopang ketahanan pangan regional. **






