Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA-
Berikut versi tulis ulang yang tetap anti-plagiarisme, mempertahankan kutipan asli bila ada, dan menjaga alur editorial lebih ringkas serta jelas:
Isu mengenai masturbasi dan aktivitas seksual yang dikaitkan dengan penurunan daya ingat masih sering menjadi bahan perdebatan. Klaim yang beredar mencakup dugaan turunnya fungsi kognitif hingga hilangnya kejernihan berpikir.
Akar perdebatan ini tidak lepas dari stigma budaya dan historis yang telah lama melekat, membentuk opini publik tanpa dukungan bukti ilmiah yang memadai.
Kajian ilmiah modern menempatkan masturbasi sebagai bagian normal dari seksualitas manusia, bahkan sering dikaitkan dengan manfaat seperti berkurangnya stres dan meningkatnya kualitas tidur.
Sementara itu, memori adalah fungsi kognitif utama yang mencakup proses belajar, penyimpanan, dan pengingatan informasi. Meski sering dibahas terpisah, hubungan antara aktivitas seksual dan memori masih diliputi mitos.
Tinjauan literatur internasional melalui basis data seperti PubMed dan Google Scholar menunjukkan bahwa masturbasi memengaruhi proses neurokimia di otak, termasuk fluktuasi dopamin, serotonin, dan oksitosin. Namun, perubahan ini tidak terbukti merusak memori. Sebaliknya, efeknya lebih terkait dengan peningkatan suasana hati dan penurunan stres—dua faktor yang mendukung fungsi kognitif.
Penelitian menegaskan bahwa masturbasi dalam batas wajar tidak berdampak negatif pada daya ingat. Yang perlu diwaspadai adalah perilaku seksual kompulsif, terutama bila disertai konsumsi pornografi berlebihan, karena dapat memicu gangguan perhatian dan tekanan psikologis, bukan kerusakan memori.
Studi tentang hubungan seksual juga menemukan kaitan antara frekuensi penetrasi pada perempuan muda dengan kemampuan mengingat kata-kata abstrak. Dugaan ini berhubungan dengan aktivitas hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam memori. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa temuan tersebut bersifat korelasi, bukan sebab-akibat.
Manfaat kognitif yang muncul kemungkinan besar terkait dengan efek seks dalam meredakan stres dan depresi. Zat kimia otak yang berperan dalam sistem penghargaan, seperti hormon dan neurotransmiter, diketahui mendukung baik aktivitas seksual maupun proses memori.
Dengan demikian, anggapan bahwa sering onani atau berhubungan badan menyebabkan cepat lupa tidak memiliki dasar ilmiah. Faktor yang lebih berpengaruh terhadap daya ingat meliputi kualitas tidur, tingkat stres, pola makan, aktivitas fisik dan mental, serta kesehatan saraf. Edukasi berbasis bukti ilmiah menjadi kunci untuk meluruskan mitos lama dan membangun pemahaman yang lebih seimbang tentang kesehatan seksual dan fungsi kognitif.**











