Penulis: Wibisono| Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SIDOARJO-Nuansa sakral yang berpadu dengan semangat kegotongroyongan menyeruak di Dusun Telogo, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Ratusan warga setempat memadati area punden desa untuk melaksanakan tradisi tahunan “Memetri Deso” yang dirangkai dengan Umbul Dungo dan Haul Akbar. Perhelatan ini menjadi manifestasi rasa syukur warga atas kelimpahan hasil bumi, sekaligus penghormatan tertinggi terhadap sejarah panjang berdirinya kampung mereka di tengah arus modernisasi Kota Delta.
Fokus utama ritual ini tertuju pada penghormatan terhadap empat sosok “paku bumi” atau pepunden desa, yakni Mbah Malang, Mbah Buyut Khori, Eyang Tirto Agung, dan Eyang Raden Kuludusu. Keempat tokoh ini diyakini masyarakat sebagai danyang atau perintis yang membuka lahan (babat alas) dan meletakkan dasar-dasar kehidupan sosial di Dusun Telogo. Melalui haul ini, memori kolektif warga dibangkitkan kembali untuk mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah mewariskan tanah harapan bagi anak cucu.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan ubarampe sesaji serta tumpeng hasil bumi yang dibawa warga dari rumah masing-masing menuju pusat acara. Pemandangan ini mencerminkan akulturasi harmonis antara nilai-nilai Islam dan tradisi Jawa yang masih dipegang teguh. Doa-doa yang dipanjatkan dalam prosesi Umbul Dungo di pusara makam leluhur dilantunkan dengan khusyuk, memohon keselamatan desa agar terhindar dari balak (bencana) serta agar masyarakatnya senantiasa hidup dalam ketenteraman.
Di sela-sela prosesi, Wempy Yohanes, selaku panitia penyelenggara yang juga dikenal sebagai pegiat sejarah dan budaya Sidoarjo, menekankan urgensi acara ini sebagai benteng literasi sejarah lokal. “Memetri Deso di Dusun Telogo ini adalah upaya konkret melawan lupa. Sosok Eyang Raden Kuludusu dan para leluhur lainnya adalah tonggak peradaban desa ini. Kita tidak hanya merawat makam fisik, tetapi merawat nilai perjuangan mereka. Harapannya, generasi muda Sidokerto mengerti akar budayanya, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri kita,” tegas Wempy.
Suasana semakin hening dan syahdu ketika Mbah Rokhim, tokoh sesepuh desa yang sangat dihormati, memberikan wejangan atau petuah budaya. Dalam pesannya, Mbah Rokhim tidak hanya berbicara untuk warga Telogo, tetapi menyerukan pesan moral untuk Sidoarjo secara luas.
“Budaya kumpul-kumpul mendoakan leluhur seperti ini adalah ‘pagar’ bagi Sidoarjo. Sidoarjo boleh maju menjadi kota industri, gedung-gedung boleh tinggi, tapi unggah-ungguh dan rasa tepa selira peninggalan leluhur tidak boleh mati. Wong Sidoarjo ojo nganti lali jawane (Orang Sidoarjo jangan sampai lupa jati dirinya),” tutur Mbah Rokhim dengan penuh wibawa.

Pesan mendalam dari para tokoh tersebut kemudian ditutup dengan tradisi kembul bujana atau makan bersama seluruh warga dan tamu undangan. Hamparan tumpeng dan ingkung ayam yang telah didoakan dinikmati bersama di atas daun pisang, menghapus sekat-sekat status sosial di antara warga. Gelak tawa dan obrolan hangat antar-tetangga menjadi pemandangan yang memvalidasi bahwa tradisi Memetri Deso berhasil mempererat kohesi sosial masyarakat Desa Sidokerto.
Melalui gelaran Memetri Deso, Umbul Dungo, dan Haul Mbah Malang, Mbah Buyut Khori, Eyang Tirto Agung, serta Eyang Raden Kuludusu ini, warga Dusun Telogo mengirimkan sinyal kuat bahwa mereka adalah masyarakat yang berdaya secara spiritual dan budaya. Tradisi ini diharapkan terus lestari menjadi warisan takbenda yang berharga, menjaga Dusun Telogo tetap gemah ripah loh jinawi, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Sidoarjo untuk terus nguri-uri (melestarikan) budaya leluhur.
lebih lanjut Mbah Rokhim menyampaikan Budaya Jawa kental akan adanya sebagai simbol uri- uri budaya melestarikan kearifan lokal para leluhur di bulan ruwah identik dengan mengadakan ruwatan di Dusun Tlogo.
“Sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan,keselamatan,kelancaran Rizky dijauhkan balak untuk Dusun Tlogo dan khususnya Masyarakat Sidokerto,” pungkasnya.***








