Menu

Mode Gelap

Life Style

Kurang Ibadah Tidak Ada Kaitan dengan Depresi, Ini Penjelasannya

badge-check


					Kurang Ibadah Tidak Ada Kaitan dengan  Depresi, Ini Penjelasannya Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS COM, SURABAYA– Depresi sering disalahpahami sebagai kelemahan pribadi atau kurangnya spiritualitas. Hal ini diluruskan oleh dr. Jiemy Ardian SpKJ dalam penjelasannya di Instagram Hanaboone, seminggu lalu. Ia menegaskan bahwa ibadah maupun rasa syukur tidak otomatis berkaitan dengan muncul atau hilangnya depresi. Ada tiga kalimat yang menurutnya sebaiknya tidak diucapkan kepada orang yang sedang mengalami depresi.

1. “Kamu malas”

Menurut dr. Jiemy, “seringkali orang dengan depresi itu sulit bangun dari tempat tidur, maunya di bawah selimut, ruangan gelap.”

Bahkan mandi dan makan pun bisa terasa berat. Kondisi ini bukanlah kemalasan, melainkan akibat perubahan biologis pada otak.

“Otaknya gagal memprediksi bahwa tubuh sebenarnya punya energi,” jelasnya.

Menyebut mereka malas justru memperburuk keadaan, karena yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan penghakiman.

2. “Kamu kurang bersyukur”

Dr. Jiemy menegaskan, “Anyway saya bersyukur pun bisa sambil depresi kok, jadi itu gak saling mendiadakan.” Depresi tidak meniadakan rasa syukur.

Seseorang bisa tetap bersyukur sekaligus mengalami depresi. Mengatakan “kurang bersyukur” tidak membantu, karena depresi bukan sekadar masalah sikap mental.

Rasa syukur memang bermanfaat, tetapi tidak serta-merta menghilangkan gejala depresi.

3. “Kamu kurang ibadah”

Menurutnya, “terlalu banyak klien saya yang orang dengan depresi ibadahnya lebih rajin daripada yang gak depresi.” Karena itu, mengaitkan depresi dengan kurangnya ibadah adalah asumsi yang keliru.

Ibadah dan rasa syukur memang bisa memberi kekuatan, tetapi tidak relevan jika dijadikan alasan utama seseorang mengalami depresi.

Kesimpulan

Depresi adalah kondisi medis yang kompleks, bukan sekadar masalah malas, kurang bersyukur, atau kurang beribadah.

Mengucapkan kalimat-kalimat tersebut hanya menambah beban psikologis penderita. Sebaliknya, dukungan, empati, dan pemahaman jauh lebih berarti bagi mereka yang sedang berjuang melawan depresi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ramai Skandal Inara–Insanul Fahmi, Kerja Sama Endorse Berguguran

30 November 2025 - 12:24 WIB

Viral, Tanpa Api tapi Membara di Pelaminan, Sang Mantan Cantik Tiba-tiba Datang Nantangin

29 November 2025 - 15:17 WIB

Jaga Pikiran Agar Tak Tenggelam dalam Masalah

28 November 2025 - 20:38 WIB

Bercerai Ternyata Bukan Jalan Pintas, Namun Awal Perjalanan yang Panjang

26 November 2025 - 10:56 WIB

400 Mal Bakal Gelar Indonesia Great Sale, Tebar Diskon hingga 80%

24 November 2025 - 18:22 WIB

Respons Hanung Bramantyo soal Anaknya Ditegur Guru karena Pakai Rok Terlalu Pendek

24 November 2025 - 13:48 WIB

Cece Cantik Beri Tips Memulai Usaha, Real Tanpa Gagal, Hen Hao

24 November 2025 - 10:43 WIB

Menghilangkan Kekhawatiran Hidup, Berkaca Pada Seekor Anjing

22 November 2025 - 23:05 WIB

Kebijakan Baru FDA 2025 tentang Jumlah Konsumsi Telur per Hari

22 November 2025 - 19:26 WIB

Trending di Life Style