Penulis: Gandung Kardiyono | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG – Kue keranjang atau nian gao adalah makanan khas Tahun Baru Imlek yang selalu hadir sebagai simbol keberuntungan, kesatuan keluarga, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Teksturnya kenyal, rasanya manis, dan maknanya mendalam sehingga menjadikannya sajian wajib di setiap perayaan Imlek.
Sejarah dan Filosofi Kue Keranjang
– Asal-usul: Kue keranjang dikenal sejak masa Dinasti Zhou (1046–256 SM) sebagai persembahan sakral bagi dewa dan leluhur.
– Nama: Dalam bahasa Mandarin disebut nian gao (nian = tahun, gao = kue). Secara harfiah berarti “kue tahun baru” atau “tahun yang lebih tinggi.”
– Makna simbolis:
– Bentuk bulat melambangkan keutuhan dan kesatuan keluarga.
– Rasa manis dan tekstur lengket mencerminkan hubungan erat antaranggota keluarga.
– Filosofi “tahun yang lebih tinggi” berarti harapan peningkatan rezeki, keberuntungan, dan kehidupan lebih baik setiap tahun.
Bahan dan Cara Pembuatan
Kue keranjang dibuat dari bahan sederhana, namun prosesnya membutuhkan kesabaran:
– Bahan utama: Tepung ketan, gula merah, air, dan kadang santan atau daun pandan untuk aroma.
– Proses:
1. Gula merah direbus hingga larut.
2. Dicampur dengan tepung ketan dan bahan lain hingga menjadi adonan.
3. Adonan dituangkan ke cetakan yang diolesi minyak.
4. Dikukus selama berjam-jam hingga mengental dan matang.
– Hasil: Tekstur kenyal, rasa manis legit, dan warna cokelat khas gula merah.
Variasi dan Penyajian
– Tradisional: Disajikan langsung setelah matang atau didiamkan hingga teksturnya lebih padat.
– Olahan modern:
– Digoreng dengan balutan tepung.
– Dipadukan dengan kelapa parut kukus.
– Dijadikan isian kue atau dimasak bersama bahan lain seperti ubi dan pisang.
– Makna sosial: Kue keranjang sering diberikan sebagai hadiah kepada kerabat atau tetangga, melambangkan doa dan harapan baik.
Peran dalam Perayaan Imlek
– Wajib hadir: Hampir setiap rumah Tionghoa menyajikan kue keranjang saat Imlek.
– Simbol reuni: Menjadi hidangan yang mempererat kebersamaan keluarga.
– Akulturasi di Indonesia: Selain kue keranjang, masyarakat juga menyajikan makanan khas lokal, namun kue keranjang tetap menjadi ikon utama Imlek.
Kue keranjang bukan sekadar makanan manis, melainkan warisan budaya dengan filosofi mendalam.
Kehadirannya di meja Imlek melambangkan doa untuk keberuntungan, keharmonisan keluarga, dan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.**











