Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM-JAKARTA-Victoria Beckham menjadi tamu terbaru di podcast Call Her Daddy , yang akan hadir pada episode 22 Oktober. Setelah perilisan dokumenter Netflix-nya, ia menyempatkan diri untuk berbincang dengan pembawa acara Alex Cooper tentang keluarganya, Spice Girls, dan karier fesyennya.
Setelah menjadi penyanyi Spice Girls, Beckham segera memasuki fase “WAG profesional”. Dalam wawancara tersebut, ia menceritakan perjalanannya bersama tim sepak bola—tempat para istri/pacar pemain Manchester United berkumpul.
“Dulu saya punya dada yang sangat besar dan sering pakai celana super pendek atau rok ketat. Melihat kembali foto-foto itu sekarang, saya tersenyum karena saya pikir itu adalah perjalanan untuk membangun gaya pribadi saya,” kenangnya.
Namun, gaya busana istri David Beckham ini tak selalu mencolok dan mewah. Ia mengaku pernah membawa tas desainer palsu (KW) saat tampil di depan umum.
“Saya ingat waktu saya berbelanja di Bond Street (London, Inggris), tas Louis Vuitton yang saya bawa ternyata palsu,” ungkap Victoria Beckham dengan jujur.
Melihat foto ini, Marc Jacobs, direktur kreatif Louis Vuitton saat itu, langsung menghubunginya dan mengatakan akan menghadiahkan tas asli. Kenangan ini menjadi kenangan tak terlupakan dalam perjalanan Beckham meniti karier di dunia mode.
Sepanjang kariernya di industri hiburan, bintang multitalenta ini telah berkali-kali berbicara tentang kerentanan dan rasa tidak amannya sendiri. Ia percaya bahwa bersikap jujur dan berani menunjukkan kelemahan dan rasa tidak percaya dirinya dapat mempertahankan daya tariknya.
Bagi Beckham, terjun ke dunia mode merupakan langkah alami, sejalan dengan hasratnya terhadap kreativitas. Selama satu dekade terakhir, ia telah berhasil membangun mereknya sendiri, meninggalkan jejak di industri ini.
Banyak orang terkejut dengan pengakuan istri David Beckham yang menggunakan tas palsu. “Dia terkenal, percaya diri, dan berpengaruh, tetapi tetap harus menggunakan barang-barang desainer palsu untuk tetap menjadi sorotan media,” komentar seorang penonton.
Baru-baru ini, “wanita Lembah Silikon” Becca Bloom juga dicurigai menggunakan barang bermerek palsu dan membangun gaya hidup “kanvas” yang mencolok di jejaring sosial.
Seorang kreator konten bernama Andrew, yang memiliki hampir 30.000 pengikut di TikTok, membagikan serangkaian video yang menunjukkan kejanggalan pada tas tangan bermerek Bloom. TikToker tersebut mengatakan bahwa beberapa tas memiliki tali yang longgar, lubang-lubang aneh, dan pengerjaan yang tidak sesuai standar.
Video-video ini langsung menarik jutaan penayangan karena Becca Bloom memiliki banyak pengikut, membangun gaya hidup mewah dengan cara yang autentik, dan tidak pernah dicurigai menggunakan barang palsu.
Serangkaian klip “ekspos” Andrew dengan cepat memecah belah opini publik. Beberapa mengkritik Bloom karena menipu pengikutnya dan merugikan rumah mode kelas atas, sementara yang lain membela sang influencer, dengan mengatakan bahwa Bloom masih berkecukupan secara finansial dan hanya memilih menggunakan barang palsu untuk mendiversifikasi koleksi busananya dan menyalurkan hasratnya terhadap mode.
Mentalitas seperti ini juga umum di kalangan konsumen barang bermerek palsu saat ini, terutama dalam konteks OEM (singkatan dari “original equipment manufacturer”), produsen merek-merek Barat di Tiongkok, yang mengklaim menjual tas, pakaian, dan kosmetik yang identik dengan produk bermerek mewah dengan harga hanya 1/10 dari harga aslinya.
Banyaknya selebritas yang mengakui atau dituduh menggunakan barang palsu bahkan dianggap sebagai awal dari kebiasaan mode baru. Penerimaan barang palsu yang meluas juga dapat berkontribusi pada komunikasi merek, sehingga produk asli menjadi lebih dikenal luas.***











