Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, JAKARTA– Dalam podcast terbaru bersama Felix Siauw, Guru Gembul menyingkap fakta mencengangkan: sekitar 45 persen pendapatan hotel bintang lima berasal dari kegiatan rapat.
Mayoritas diselenggarakan oleh instansi pemerintah. Fenomena ini terjadi di berbagai daerah, terutama di kawasan padat seperti Sudirman-Thamrin.
Yang membuat ironis, saat pemerintah gencar menggaungkan efisiensi anggaran dengan memangkas dana pendidikan dan merasionalisasi tenaga kerja penggunaan hotel mewah untuk rapat justru tak tersentuh.
“Hotel-hotel itu justru ketar-ketir kalau ada wacana efisiensi, karena penyewa terbesar mereka ya instansi pemerintah,” ujar Guru Gembul.
Guru Gembul
Ia menuturkan pernah mengusulkan agar seminar atau rapat diadakan di kampus, namun ditolak. “Mereka tetap maunya di hotel bintang lima,” katanya.
Situasi ini menyoroti paradoks birokrasi: anggaran publik dipangkas di sektor yang berdampak langsung pada masyarakat, namun tetap longgar untuk kenyamanan para pejabat.
Jika efisiensi adalah semangatnya, mengapa tak dimulai dari tempat duduk rapat? Mengapa kampus atau gedung pemerintah tak dijadikan alternatif?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, namun realitasnya tetap: kemewahan ruang rapat lebih dijaga ketimbang mutu pendidikan dan kesejahteraan rakyat.***