Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SURABAYA-Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah Iran secara terbuka mengakui kerusakan besar-besaran pada fasilitas nuklir utamanya akibat serangkaian serangan udara presisi yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
Pengakuan langka ini disampaikan setelah beredarnya pernyataan resmi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Direktur CIA yang menegaskan bahwa program nuklir Iran benar-benar lumpuh dan mundur ke titik nol.
Keterangan resmi itu diungkapkan oleh juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers yang diadakan di Teheran. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa selama 12 hari eskalasi konflik militer antara Iran dan Israel, fasilitas nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan mengalami kerusakan sangat serius.
“Kami harus mengakui bahwa fasilitas inti kami di Fordow, Natanz, dan Isfahan terkena dampak serangan militer yang sangat presisi. Sebagian besar struktur dan sistem pengayaan uranium mengalami kerusakan yang sangat berat,” ujarnya dengan nada serius.
Pengakuan ini menjadi yang pertama kali dalam sejarah program nuklir Iran, yang selama ini terkenal sangat tertutup dan selalu membantah setiap laporan mengenai kerusakan maupun kegagalan operasional.
“Kami selama ini berusaha menjaga rahasia ini dari dunia luar, tetapi situasinya telah berubah,” lanjutnya.
Mossad Masuk Fordow
Dalam sebuah pernyataan mengejutkan di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Belanda pada 25 Juni 2025, Presiden Donald Trump secara terbuka membocorkan fakta bahwa agen-agen intelijen Israel berhasil menyusup ke fasilitas pengayaan uranium Fordow.
Trump menyampaikan, “Agen Israel yang masuk ke Fordow melapor langsung kepada saya, mereka sampaikan bahwa semuanya sudah dihancurkan. Tidak ada yang tersisa.” Ia menegaskan bahwa operasi militer yang dijalankan AS berjalan sangat cepat dan sangat presisi, sehingga Iran bahkan tidak sempat melakukan upaya penyelamatan terhadap aset strategis mereka.
“Kami bertindak lebih cepat dari dugaan mereka. Mereka tidak punya waktu untuk memindahkan apapun. Semua sudah hancur sebelum mereka sadar apa yang terjadi,” tegas Trump di hadapan awak media.
Senada dengan pernyataan Trump, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa serangan udara yang dilancarkan terhadap Fordow benar-benar menghancurkan fasilitas bawah tanah Iran secara permanen.
“Bom presisi yang digunakan benar-benar mengenai target di Fordow. Kerusakan yang dihasilkan tidak hanya menghancurkan sistem pengayaan uranium, tetapi juga membuat struktur bawah tanah itu mustahil digunakan kembali dalam waktu dekat,” jelas Heggersas.
Menambah bobot pernyataan Trump, Direktur CIA, John Ratcliffe, pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa intelijen AS dan Israel memiliki bukti nyata bahwa sejumlah fasilitas nuklir paling vital milik Iran kini dalam kondisi hancur total. “Sumber-sumber kami di lapangan sudah memastikan kehancuran Fordow, Natanz, dan Isfahan. Kami perkirakan Iran butuh bertahun-tahun untuk bisa membangun kembali fasilitas tersebut,” ungkap Ratcliffe dalam konferensi pers di Washington DC.
Ratcliffe juga menambahkan bahwa keberhasilan operasi gabungan ini telah melumpuhkan program nuklir Iran secara signifikan. “Dengan rusaknya fasilitas utama mereka, Iran hampir mustahil bisa memulai kembali pengayaan uranium dalam waktu dekat. Mereka telah kehilangan sumber daya, teknologi, dan infrastruktur vital,” tambahnya.
Di tengah keberhasilan operasi ini, muncul spekulasi bahwa Iran sempat memindahkan sekitar 400 kilogram uranium yang sudah diperkaya ke lokasi lain sebelum serangan terjadi. Namun, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam wawancara dengan Fox News secara tegas membantah klaim tersebut.
“Tidak ada bukti yang menunjukkan Iran berhasil memindahkan uranium mereka sebelum serangan dimulai. Semua laporan tentang pemindahan uranium itu tidak berdasar dan telah diverifikasi tidak benar,” tegas Lewitt.
Pernyataan ini semakin memperkuat klaim keberhasilan AS dan Israel dalam misi penghancuran fasilitas nuklir Iran.***