Penulis: Adi Wardhono | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SOLO-Jika berkunjung ke Kota Solo, nasi liwet adalah kuliner yang tak boleh dilewatkan. Hidangan nasi gurih dengan lauk opor ayam, telur pindang, sayur labu siam, dan santan kental ini bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang sarat filosofi. Nasi putih melambangkan hati yang suci, telur sebagai simbol kehidupan, dan ayam suwir sebagai semangat berbagi.
Sejarah nasi liwet Solo dapat ditelusuri hingga abad ke-19, ketika kelezatannya mulai dikenal di kalangan istana Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana IX (1861–1893). Hidangan ini kerap hadir dalam acara besar keraton, termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Namun, akar tradisi nasi liwet lebih tua lagi. Catatan dalam Serat Centhini (1819 M) sudah menyebutkan teknik memasak liwet. Bahkan, masyarakat Jawa sejak berdirinya Kerajaan Mataram Islam (1582 M) telah mengenal nasi gurih sebagai bentuk refleksi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, mengganti nasi samin dengan santan sebagai bahan utama.
Nasi liwet Solo bermula dari Desa Menuran, Sukoharjo, di mana masyarakat memasaknya untuk acara syukuran sebagai doa keselamatan. Sekitar tahun 1934, warga Menuran mulai menjajakan nasi liwet ke wilayah Solo dan Surakarta. Sejak itu, nasi liwet tidak hanya menjadi santapan rakyat, tetapi juga hidangan favorit kaum ningrat di Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta.
Kini, nasi liwet Solo tetap bertahan di tengah gempuran kuliner modern. Filosofi, sejarah panjang, dan cita rasa khasnya menjadikan nasi liwet bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan dan warisan budaya Jawa yang hidup hingga hari ini. ***











