Menu

Mode Gelap

Uncategorized

Cerita Hari Ini: Putri Solo Ini Menolak Cinta Bung Karno, Sutan Syahrir dan HB IX, Ini Sebabnya

badge-check


					Kecantikan khas Jawa Perbesar

Kecantikan khas Jawa

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Diciptakan alam pria dan wanita/Dua mahkluk dalam asuhan dewata/Ditakdirkan bahwa pria berkuasa/Adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu/Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya/Tekuk lutut di sudut kerling wanita”. (lirik Sabda Alam/Ismail Marzuki).

Nah soal percintaan selalu menarik untuk dibicarakan. Kerling seorang wanita bisa menaklukan banyak pria. Ini terjadi saat seorang Putri Solo mebuat tokoh Nasional Indonesia klepek-klepek  jatuh hati dan bertekuk lutut pada seorang wanita.

Sederet tokoh mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo tentara ningrat, salah seorang prajurit militer.

Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik namun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir. Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti dan ditolak cintanya.

Siapa Putri Solo Itu?

(GRAy) Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani (17 September 1921 – 10 November 2015) adalah putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII (tujuh), dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer.

Ayah Gusti Noeroel adalah seorang Adipati Mangkunegaran yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, G.K.R. Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay. Mursudarijah. K.G.P.A.A. Mangkunegara VII sendiri adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran dari tahun 1916-1944.

Didikan ibunya yang modern dan berpikiran terbuka membentuk kepribadian Gusti Nurul, tanpa meninggalkan identitasnya sebagai putri Mangkunegaran yang mahir menari dan mampu bergaul di tingkat internasional. Sejak masa remaja hingga dewasa, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Gusti Nurul dikenal tidak hanya karena bakat menarinya, tetapi juga kemampuannya dalam bidang sastra serta prinsip hidup yang membuat banyak orang menghormatinya.

Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Karena parasnya yang ayu, cerdas, serta punya keteguhan dalam memegang sikap sehingga Ratu Belanda menjulukinya ‘De Bloem van Mangkunegaran’ (kembang dari Mangkunegaran).

Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda.

Menari di Amsterdam di hadapan Ratu Wilhelmina

Perlu Anda tahu, Gusti Nurul merupakan salah satu orang Indonesia yang wajahnya pernah masuk dalam majalah legendaris, Life, yang merupakan majalah terbitan Amerika Serikat.

Tepatnya pada 25 Januari 1937 atau terbitan ke 25 majalah tersebut memajang foto Gusti Nurul tengah menari di hari pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard.

Setelah wajah cantiknya terpampang dimajalah mancanegara, sontak nama dan kecantikannya tersebar luas baik di wilayah Hindia Belanda (sebelum Indonesia) dan di luar Hindia Belanda.

Karena kecantikannya yang tersohor inilah yang menjadi alasan banyak tokoh-tokoh besar jatuh hati kepadanya dan berminat meminangnya.

Namun ia terang-terangan menolak pinangan para tokoh itu. Alasannya karena pantang baginya seorang perempuan berpendidikan tinggi di zaman itu dimadu seperti yang dialami Kartini.

Walau dia mendapat banyak hadiah seperti sutra, tas atau jam tangan, namun Gusti Nurul menolak semua pria yang mengutarakan niat untuk mempersuntingnya.

Alasannya masih sama. Selain tidak suka poligami, dia jugatak siap menikah dengan tokoh politik seperti Soekarono dan Sutan Sjahrir.

Dia lantas memilih pria dari kalangan orang biasa. Dan tentunya masih melajang.

Pria yang beruntung tersebut adalah Raden Mas Sujarso Surjosurarso atauKolonel Surjo Sularso.

Iaadalah lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda.

Pada Rabu tanggal 24 Maret 1951 atau ketika berusia 30 tahun, keduanya menikah.

Seusai menikah, Gusti Nurul bersama sang suami menetap di Bandung dan hingga kini dikaruniai 7 anak, 14 cucu, dan 1 cicit.

Menikah dengan pria low profile

Cerita Gusti Nurul

Gusti Nurul bercerita dalam buku Goesti Noeroel: Straven naar Geluk Mengejar Kebahagiaan (2014) bahwa ayahnya pernah menerima utusan dari Yogyakarta. Ia utusan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menanyakan tentang Gusti Nurul dan berniat meminangnya menjadi istri. Hanya saja, sang ibu menolak karena kurang merasa nyaman apabila anaknya menyandang status sebagai istri sultan. Gusti Nurul pun enggan karena mengetahui Sultan HB IX telah beristri.

Sang proklamator dan presiden pertama Indonesia, Bung Karno juga pernah mengagumi Gusti Nurul. Menurut Gusti Nurul, Bung Karno tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Namun, Hartini, istrinya pernah bercerita kepada Gusti Nurul.

Ada pula Sutan Sjahrir, ia menyukai Gusti Nurul dengan unik dan berbeda. Ia tak berdarah Jawa, padahal kebanyakan penggemar Gusti Nurul berasal dari pembesar dan bangsawan Jawa. Setiap menghadiri rapat kabinet di Yogyakarta, ia selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaidah Oesman, ke Pura Mangkunegaran. Siti khusus mengantar hadiah dari Jakarta, pemberian Perdana Menteri Indonesia pertama ini. Ia juga melampirkan surat tulisan tangan Sjahrir dan Gusti Nurul pun rajin membalas surat tersebut.

Meski terlihat jatuh hati, Sjahrir tak pernah mengunjunginya ke Pura Mangkunegaran. Justru, Sjahrir pernah mengundang Gusti Nurul berserta ibu dan kakaknya ke rumah tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati.

Setelah mendengar Gusti Nurul menikah, Sjahrir nampaknya masih penasaran. Sjahrir pernah menyambangi kediamannya dan memilih posisi dekat Gusti Nurul saat foto bersama. Meski Jarso, suami Gusti Nurul tahu bahwa Sjahrir mengagumi istrinya, ia tak cemburu dan malah memilih posisi foto jauh dari Gusti Nurul.

Para penggemar Gusti Nurul memang banyak yang telah beristri. Maka dari itu, ia tak menerima cinta atau pinangan mereka. Gusti Nurul memang menentang poligami karena tak mau dimadu dan menyakiti perasaan wanita lain.***

 

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cerita Hari Ini: Kisah Raden Panji Dikelabui Kuntilanak Ganas Kalakunti di Hutan Keramat

26 Agustus 2025 - 11:37 WIB

Cerita Hari Ini: Sunan Bungkul, Petinggi Majapahit Penyebar Agama Islam Berumur 300 Tahun

25 Agustus 2025 - 11:43 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Sawunggaling Pukul Mundur 5.000 Pasukan Kompeni dan Tiga Kapal Perang

22 Agustus 2025 - 13:53 WIB

Cerita Hari Ini: Wassingrana, Pengikut Trunajaya Penguasa Selat Madura Bikin Pening Kompeni

21 Agustus 2025 - 10:16 WIB

Cerita Hari Ini: Gara-gara Belanda Madura Dijuluki Pulau Garam

20 Agustus 2025 - 07:14 WIB

Cerita Hari Ini: Bendera Merah Putih Pertama Dikibarkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri

16 Agustus 2025 - 11:54 WIB

Kisah Cewek Bule Jane Bertemu “Dukun Cinta” dan Mengakui Kesaktiannya

15 Agustus 2025 - 14:15 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Pangeran Gatotkaca, Perebutan Keris Se Jimat dan Bersatunya Pamekasan-Sumenep

14 Agustus 2025 - 12:30 WIB

Cerita Hari Ini: Sultan Abdurrahman Raja Sumenep Dapat Gelar Doktor dari Raffles

13 Agustus 2025 - 09:30 WIB

Trending di Uncategorized