Menu

Mode Gelap

Life Style

Bukan Kursus, Hanya Modal Ngobrol Cara Murah Agar Anak Cerdas

badge-check


					Bukan Kursus, Hanya Modal Ngobrol  Cara Murah Agar Anak Cerdas Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Orang tua umumnya memahami pentingnya berbicara dan membacakan buku untuk anak usia dini. Banyak organisasi nirlaba mempromosikan bukti riset bahwa hal ini membantu anak berprestasi di sekolah.

Namun fokusnya selama ini lebih pada literasi. Lalu, adakah hal serupa yang bisa dilakukan orang tua untuk meletakkan dasar keberhasilan matematika?

Ini penting karena kemampuan matematika warga Amerika tergolong rendah dalam penilaian internasional. Lemahnya matematika menghambat kemajuan anak di masa depan menyulitkan mereka menyelesaikan SMA, pendidikan vokasi, atau perguruan tinggi.

Kemampuan matematika juga menentukan terbuka atau tertutupnya akses ke bidang sains dan teknologi yang menjanjikan.

Selama satu dekade terakhir, riset menelaah seberapa sering orang tua berbicara tentang angka dan bentuk dengan anak, serta apakah percakapan spontan ini membantu pembelajaran matematika.

Mendorong orang tua berbincang tentang angka dinilai sebagai cara murah dan mudah untuk meningkatkan kemampuan matematika nasional.

Tim peneliti dari University of Pittsburgh dan University of California, Irvine merangkum bukti dari 22 studi (2010–2022).

Meta-analisis ini terbit di Journal of Experimental Child Psychology edisi Juli 2024. Berikut empat temuan utama.

1. Ada kaitan antara obrolan matematika orang tua dan kemampuan matematika anak

Semakin sering orang tua membicarakan matematika, semakin kuat kemampuan matematika anak. Peneliti mengamati interaksi orang tua–anak di laboratorium, sekolah, museum, atau rumah, dan menghitung seberapa sering angka atau bentuk disebut termasuk kalimat sederhana seperti, “Tolong ambilkan tiga keripik.” Anak lalu dites matematika; skor lebih tinggi cenderung dimiliki anak dengan orang tua yang lebih sering membahas matematika.

Kaitan terkuat muncul pada usia 3–5 tahun (pra-sekolah). Pada usia lebih besar, kaitannya melemah, diduga karena pengaruh pengajaran di sekolah lebih dominan.

Studi-studi ini tidak membuktikan sebab-akibat. Orang tua yang sering bicara matematika bisa saja berpenghasilan dan berpendidikan lebih tinggi; faktor lain—gizi, tidur cukup, kunjungan ke museum—juga berperan. Hingga kini, pengaruh “obrolan matematika” belum sepenuhnya terpisah dari faktor-faktor tersebut.

“Riset menunjukkan bahwa lebih banyak berbicara tentang matematika berkorelasi dengan hasil yang lebih baik,” kata Alex Silver, psikolog University of Pittsburgh. “Ini cara mudah memasukkan konsep matematika ke keseharian tanpa alat khusus atau les.”

2. Jaga tetap alami

Kaitan terkuat muncul saat orang tua secara alami menyebut angka atau bentuk dalam percakapan biasa, bukan saat diminta melakukan aktivitas matematika khusus.

Flashcard atau buku latihan tidak diperlukan. Cukup bertanya, “Ada berapa?” Misalnya: menghitung mobil mainan bersama.

Kesempatan lain: menyusun puzzle (membahas bentuk dan orientasi), menata meja makan, belanja, atau mengelola uang. “Buat menyenangkan,” kata Silver. Saat memasak, misalnya: “Kita perlu dua telur. Resepnya digandakan—jadi tambah dua lagi. Totalnya berapa?”

Aplikasi atau latihan matematika dini bisa membantu sebagai panduan awal, tetapi orang tua tak perlu merasa bersalah jika tidak melakukan drill. Obrolan alami sudah cukup

3. Kualitas bisa lebih penting daripada kuantitas

Lebih banyak obrolan matematika terkait dengan capaian lebih tinggi, tetapi belum ada angka pasti seberapa sering harus dilakukan. “Lebih banyak umumnya lebih baik, tapi ada titik jenuh,” ujar Silver.

Yang terpenting adalah bagaimana cara berbicara, bukan sekadar banyaknya istilah matematika. Apakah bertanya, menjelaskan, atau menyesuaikan dengan tahap perkembangan anak semua ini masih perlu diteliti.

Teknologi membantu riset: perekam audio yang dikenakan memungkinkan analisis percakapan rumah tangga dengan pemrosesan bahasa alami. Studi sebelumnya merekam potongan singkat hingga belasan jam, sering di laboratorium, yang belum tentu mencerminkan keseharian.

4. Anak dari keluarga berpenghasilan rendah juga mendapat manfaat yang sama

Kaitan antara obrolan matematika orang tua dan performa matematika anak sama kuatnya pada keluarga berpenghasilan rendah maupun tinggi. “Ini menggembirakan,” kata Silver. “Mengubah input matematika anak lebih mudah dibanding mengatasi tantangan sistemik yang luas.”

Silver mempraktikkan temuannya pada putranya yang berusia tiga tahun. Saking seringnya ditanya “Ada berapa?”, sang anak kini menirukan ibunya setiap melihat sekumpulan benda: “Ada berapa? Ayo kita hitung!”****

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kue Keranjang, Simbol Keberuntungan yang Tak Pernah Absen di Perayaan Imlek

5 Februari 2026 - 19:22 WIB

BPOM Ungkap 8 Obat yang Sering Dipalsukan: Viagra Hingga Ponstan

5 Februari 2026 - 18:59 WIB

Inilah Sederet Ritual Ibadah Saat Imlek Sarat Makna

5 Februari 2026 - 13:23 WIB

Heboh Gosip Ardie Bakrie Selingkuh, Klarifikasi Tere: Cuma Hoaks

5 Februari 2026 - 12:53 WIB

Mengenal Baila Fauri Artis Indonesia yang Masuk dalam Daftar Wanita TercantiK Dunia 2025 versi TC Candler

4 Februari 2026 - 16:24 WIB

Turis Tiongkok ke Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi pada Tahun 2025

4 Februari 2026 - 15:37 WIB

Pandji Pragiwaksono Datangi MUI, Bahas Materi Komedi “Mens Rea”

4 Februari 2026 - 11:09 WIB

Viral LinkedIn Prilly, Netizen Geram, Prilly Akhirnya Buka Suara

4 Februari 2026 - 10:40 WIB

Wisata Susur Sungai Ngotok Pesona Baru Taman Bahari Mojopahit

4 Februari 2026 - 09:53 WIB

Trending di Life Style