Menu

Mode Gelap

News

Binhad Nurrohmat: Prasasti Poh Rinting dan Tengaran Tonggak Awal Sejarah Jombang

badge-check


					Binhaad Nurrohmat, budayaran, seniman, penulis sejarah, menggali lagi hari jadi Jombang, melalui diskusi  tentang awal mula sejarah Jombang:  bertema: Prasasti Poh Rinting Titik Awal Sejarah Jombang di Mojag Café, Mojoagung, Jombang, Kamis malam, 14 Agustus 2025. Foto: tangkap layar youtube@ Kirani TV Perbesar

Binhaad Nurrohmat, budayaran, seniman, penulis sejarah, menggali lagi hari jadi Jombang, melalui diskusi tentang awal mula sejarah Jombang: bertema: Prasasti Poh Rinting Titik Awal Sejarah Jombang di Mojag Café, Mojoagung, Jombang, Kamis malam, 14 Agustus 2025. Foto: tangkap layar youtube@ Kirani TV

Penulis: Arief Hendro Soesatyo  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG- Budayawan, seniman sekaligus penulis sejarah Binhad Nurrohmat kali ini tampil sebagai inisiator penyelenggara diskusi bertema: Prasasti Poh Rinting Titik Awal Sejarah Jombang di Mojag Café, Mojoagung, Jombang, Kamis malam, 14 Agustus 2025.

Dalam forum diskusi tersebut, pria yang akrab disapa Gus Binhad tersebut mengungkapkan, Kabupaten Jombang memiliki dua prasasti kuno yang menjadi bukti tertulis paling awal keberadaan masyarakat dan pemerintahan di kawasan tersebut.

Ia menyatakan bahwa kedua prasasti tersebut ditemukan warga di Desa Glagahan, Kecamatan Perak, dan Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan.

“Kedua prasasti ini sangat penting. Pertama, yang satu dikeluarkan pada tahun 929 M oleh Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang Kamulan, dan yang satu lagi pada tahun 935 M. Hal ini merupakan jejak tertulis tertua yang pernah ditemukan di Kabupaten Jombang,” tegas pria yang juga sastrawan kelahiran Lampung 1 Januari 1976 lalu, demikian portal krisnanews.id, mewartakan.

Selama ini, lanjutnya, hari jadi Jombang ditetapkan pada tahun 1910, yang merujuk pada pendirian administratif Pemerintahan Kabupaten.

Namun, menurut Seniman nyentrik dengan topi khasnya ini, menilai sejarah Jombang sudah jauh lebih tua dari penetapan tanggal dan tahun administrasi kabupaten Jombang.

Untuk itu, seniman berambut gondrong ini mendorong kepada Pemerintah daerah maupun pusat, agar menjadikan penemuan dua prasasti ini sebagai dasar peninjauan ulang terhadap hari jadi Jombang.

“Penanggalan dari prasasti Poh Rinting diperkirakan terjadi pada bulan Oktober tahun 929. Karena ini informasi tertulis, tentu saja nilai sejarahnya sangat istimewa. Apalagi, tidak banyak daerah yang memiliki bukti sejarah se-awal ini seperti Jombang,” jelasnya.

Diskusi di cafe itu juga menghadirkan dua pembahas utama yaitu Nona Nur Madina dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang dan Rifatul Hasanah dari TACB Mojokerto.

Patokan Prasasti

Prasasti Poh Rinting dan Prasasti Tengaran adalah dua prasasti penting yang menjadi dasar penggalian sejarah awal berdirinya Jombang.

Prasasti Poh Rinting sebagai artefak bukti adanya aktivitas kerajaan Medang, dengan rajanya Mpu Sindok. Foto: jombangcityguide.blogspot.com

Prasasti Poh Rinting ditemukan di kompleks Candi Glagahan, Dusun Glagahan, Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Prasasti ini berasal dari masa pemerintahan Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang periode Jawa Timur, bertarikh 28 Oktober 929 Masehi (851 Saka).

    • Isi prasasti ini menyebutkan tentang penetapan sebuah desa sebagai desa sima (daerah perdikan) atas permohonan Dang Acaryya kepada raja karena di daerah tersebut terdapat bangunan suci yang perlu dipelihara.

    • Desa tempat prasasti ini ditemukan ditetapkan sebagai daerah perdikan, artinya memperoleh status khusus yang biasanya diberikan karena adanya bangunan suci yang menghasilkan pendapatan dari peziarah untuk pemeliharaan serta penambahan tanah pertanian.

    • Bangunan suci yang dimaksud diperkirakan sebuah candi pemujaan dan petirtaan di daerah sekitar Candi Glagahan.

    • Prasasti ini dianggap sebagai salah satu prasasti tertua dari Jombang dan menjadi salah satu bukti sejarah awal munculnya peradaban dan penataan wilayah di Jombang.

 

jombang city guide: Prasasti Tengaran : Warisan Keteladanan ...

Prasasti Tengaran. Foto: jombangcityguide.blogspot

Prasasti Tengaran ditemukan di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, berangka tahun 855 Saka (sekitar 14 Agustus 933 M).

Prasasti ini juga merupakan salah satu bukti penting dalam sejarah awal Jombang, meskipun detil isinya kurang banyak disebutkan dalam sumber yang tersedia secara jelas, tapi tetap mendukung eksistensi wilayah Jombang sejak abad ke-10 Masehi.

Dari kedua prasasti ini, sejarah awal berdirinya Jombang berhubungan erat dengan kerajaan kuno di Jawa Timur, khususnya Kerajaan Medang (Medang Kamulan) yang dipimpin oleh Mpu Sindok.

Penetapan desa sebagai daerah sima karena ada bangunan suci menunjukkan pentingnya wilayah tersebut secara keagamaan dan administratif sejak zaman dulu, yang menjadi cikal bakal pembentukan wilayah dan komunitas masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Jombang.

Dengan demikian, berdasarkan penggalian sejarah melalui Prasasti Poh Rinting dan Tengaran, Jombang diyakini telah menjadi daerah penting sejak abad ke-10 Masehi, dengan bukti tertulis sebagai daerah perdikan yang dikelola untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci dan pengembangan wilayahnya.

Hari Jadi Jombang

Hari jadi Kabupaten Jombang secara resmi ditetapkan pada tanggal 21 Oktober. Penetapan tanggal ini berdasarkan Peraturan Bupati Jombang Nomor 63 Tahun 2019 dan didasarkan pada bukti sejarah berupa dokumen pemerintah Hindia Belanda Nomor 553 yang menjelaskan pembentukan Kabupaten Jombang pada 21 Oktober 1910 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 25.

Jadi, hari jadi Kabupaten Jombang jatuh pada 21 Oktober setiap tahunnya. Pada tahun 2024, Kabupaten Jombang memperingati hari jadinya yang ke-114 tahun.

Ada beberapa buku yang membahas sejarah Kabupaten Jombang. Salah satu sumber yang sering dijadikan rujukan adalah buku-buku sejarah lokal yang mengulas asal-usul, perkembangan, dan budaya Jombang dari masa ke masa. Contohnya:

  • Buku “Kanjeng Sepuh Jombang” karya Aang Fatihul Islam, yang merupakan biografi dan sejarah tokoh penting di Jombang dan baru-baru ini menjadi objek bedah buku oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang. Buku ini bisa dijadikan referensi kepemimpinan dan sejarah lokal Jombang yang inspiratif.

  • Buku sejarah dan legenda Jombang karya Dian Sukarno yang berisi tentang asal mula dan legenda-legenda desa di Kabupaten Jombang.

Selain itu, ada juga berbagai artikel dan dokumen sejarah di portal resmi Kabupaten Jombang yang secara ringkas menjelaskan sejarah serta budaya Jombang dari zaman kuno hingga era modern. **

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indonesia Mencekam! Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar Terjadi Pembakaran

30 Agustus 2025 - 01:11 WIB

Forum Rakyat Jombang Desak Bupati Warsubi Batalkan Kenaikan Pajak

29 Agustus 2025 - 23:48 WIB

Manik-manik Plumbon Gambang, Cor Mojotrisno dan Batik Jombang Dipamerkan di Expo CBD Tangerang

29 Agustus 2025 - 22:01 WIB

SMPN 15 Surabaya Bekali Siswa Pengetahuan Bahaya Narkoba

29 Agustus 2025 - 21:54 WIB

Peringati HUT ke-80 Kejaksaan Ziarah ke TMP, Andi Wicaksono: Wujudkan Keadilan

29 Agustus 2025 - 20:06 WIB

Baksos Kesehatan di SR Mojoagung, Pemkab Siapkan Snack dan Es Krim Gratis untuk Siswa

29 Agustus 2025 - 19:30 WIB

Aksi Solidaritas Tewasnya Affan Kurniawan, Kapolres Jombang Salat Ghoib Bersama Massa Ojol

29 Agustus 2025 - 18:56 WIB

LPS Catat Tabungan Orang Kaya Tembus Rp5.112 Triliun, Seharusnya Kena Pajak Tinggi

29 Agustus 2025 - 14:26 WIB

Presiden Kecewa atas Tindakan Aparat dalam Insiden Ojol

29 Agustus 2025 - 13:42 WIB

Trending di Nasional