Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SURABAYA-Pelompat tinggi Tiongkok, Shao Yuqi, membalas kritik yang ditujukan kepadanya karena mengenakan riasan saat bertanding. Ia mengatakan bahwa atlet berhak menentukan penampilan mereka.
Pada Kejuaraan Atletik Tiongkok 2025 di awal Agustus, Shao, yang mewakili tim atletik provinsi Hubei, berhasil melewati palang setinggi 1,9 m dan berhasil mempertahankan gelar juara lompat tingginya.
Sebuah video penampilannya dengan cepat menjadi viral di media sosial, mendapatkan lebih dari tiga juta suka, lapor South China Morning Post.
Berbicara kepada media, Shao menceritakan bahwa ia harus menghadapi keraguan tentang kemampuannya dan kritik tentang penampilannya sejak awal karier olahraganya.
Shao menemukan lompat tinggi di sekolah dasar, dan dengan mudah melewati palang setinggi 1 m pada percobaan pertamanya. Namun, ia menghadapi keraguan di usia muda untuk terjun ke dunia olahraga.

Lompatan 1..9 meter
“Ada begitu banyak stereotip di sekolah dasar. Orang-orang berasumsi jika saya terjun ke olahraga, saya akan menyia-nyiakan hidup saya, mungkin paling banter berakhir di sekolah olahraga,” ujar Shao kepada Jiupai News.
Meskipun demikian, ia menerima dukungan dari ayahnya dan dorongan dari pelatih sekolah menengahnya. Dedikasinya tak hanya di bidang atletik, pada tahun 2020, ia diterima di Tsinghua, salah satu universitas paling bergengsi di Tiongkok.
Seiring meningkatnya popularitasnya, Shao juga menghadapi kritik, mulai dari tidak mencapai rekor dunia hingga pilihan riasan dan pakaiannya saat berkompetisi. Beberapa bahkan menyarankan agar ia memotong pendek rambutnya agar tidak menabrak mistar gawang.
“Ini konyol. Orang-orang bilang atlet perempuan sekarang terlihat seperti sedang mengikuti kontes kecantikan. Tubuh kitalah yang menentukan bagaimana kita menampilkan diri,” tambahnya.
Pendiriannya telah menerima pujian dari para pendukung daring. Seorang pengguna berkomentar: “Kecantikan tidak perlu disembunyikan, dan kekuatan tidak perlu dikompromikan. Ketika keunggulan atletik dan ekspresi diri sama-sama dihargai, olahraga akhirnya dapat kembali ke esensinya, mengejar kehebatan sambil merangkul keberagaman.”

Penampilan di luar lapangan
Shao mengagumi pelari gawang bintang Wu Yanni, yang juga menghadapi kritik serupa karena memakai riasan dalam kompetisi.
“Saya hanya ingin cantik. Mengapa saya harus peduli dengan pendapat orang lain? Saya sudah memenangkan kejuaraan. Wu Yanni juga yang terbaik di Asia. Kami kuat, dan kami adalah perempuan-perempuan cantik,” ujarnya, seperti dikutip SCMP.***









