Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Air rebusan mi instan sudah lama menimbulkan perdebatan di kalangan pecinta makanan cepat saji. Banyak orang memilih membuang air rebusan tersebut karena khawatir dengan kandungan garam, lemak, dan monosodium glutamat (MSG) yang larut selama proses perebusan.
Pandangan ini memunculkan anggapan bahwa air rebusan berbahaya dan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Namun, penelitian dan kajian medis terbaru menunjukkan bahwa meskipun air rebusan mi instan memang mengandung natrium serta MSG dalam jumlah tinggi, cairan ini tidak bisa langsung dianggap beracun.
Konsumsi dalam jumlah moderat masih tergolong aman, meski tetap disarankan untuk tidak menjadikannya kebiasaan harian.
Kandungan Gizi
Air rebusan mi instan memang menyerap sebagian zat yang dilepaskan dari mi kering saat dimasak. Komponen seperti minyak, garam, dan penyedap rasa larut dalam cairan panas tersebut.
Inilah yang kemudian membuat sebagian orang beranggapan bahwa air rebusan adalah sumber racun.Faktanya, natrium yang terdapat dalam satu bungkus mi instan bisa mencapai lebih dari 1.700 mg, mendekati batas harian konsumsi natrium yang direkomendasikan.
Jika air rebusan tidak dibuang, maka hampir semua zat tersebut ikut masuk ke dalam tubuh. Hal ini dapat menimbulkan risiko bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau penyakit kardiovaskular.
Meski demikian, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menegaskan bahwa MSG bukanlah zat beracun. Dalam batas wajar, MSG aman untuk dikonsumsi, meski pada individu sensitif bisa memicu gejala ringan seperti sakit kepala atau mual.
Air Rebusan
Konsumsi air rebusan mi instan menjadi perhatian karena mengandung kadar natrium yang tinggi. Jika seseorang terbiasa makan mie instan lengkap dengan kuah rebusannya, maka asupan natrium hariannya bisa melonjak drastis.
Batas maksimal asupan natrium yang dianjurkan WHO adalah sekitar 2.000 mg per hari, sehingga satu bungkus mie instan sudah menyumbang hampir 90% dari total kebutuhan.
Selain itu, sebagian produk mi instan mengandung minyak sawit terhidrogenasi yang larut saat direbus. Lemak jenis ini berkontribusi terhadap peningkatan kolesterol jika dikonsumsi berlebihan. Ditambah lagi, air rebusan juga hampir tidak memiliki serat, sehingga tidak memberi manfaat tambahan bagi tubuh.
Nilai Gizi Mie Instan
Mie instan terkenal sebagai makanan cepat saji yang murah dan praktis. Dalam satu porsi kecil, kandungan kalorinya berkisar 188 kalori, dengan 27 gram karbohidrat dan 7 gram lemak. Namun, kandungan protein hanya sekitar 4 gram dan serat kurang dari 1 gram, menjadikannya makanan rendah gizi jika dikonsumsi tanpa tambahan bahan lain.
Meski beberapa produk diperkaya zat besi, folat, dan vitamin B, tetap saja mie instan tidak bisa dijadikan sebagai makanan pokok. Konsumsi berlebihan beresiko menurunkan kualitas diet seseorang. Studi di Korea Selatan bahkan menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi mi instan lebih dari dua kali seminggu berisiko lebih tinggi mengalami sindrom metabolik, terutama pada wanita. Sindrom ini dikaitkan dengan obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Apakah Air Rebusan Benar-Benar Berbahaya?
Secara ilmiah, air rebusan mi instan bukanlah racun. Cairan tersebut hanyalah media yang menyerap garam, MSG, dan sedikit lemak dari proses memasak. Artinya, bahaya utama bukan pada racunnya, melainkan pada jumlah asupan zat yang berlebihan jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Bagi orang sehat, sesekali menikmati kuah rebusan mie instan tidak akan menimbulkan masalah serius. Namun, jika dijadikan kebiasaan, apalagi ditambah pola makan tinggi garam dan lemak, risiko hipertensi dan gangguan metabolik bisa meningkat signifikan.
Cara Membuat Mie Instan Lebih Sehat
Meski air rebusan bukan beracun, banyak pakar gizi tetap menyarankan untuk mengurangi konsumsinya. Ada beberapa cara sederhana agar mi instan menjadi lebih sehat:
– Buang air rebusan pertama: Rebus mie sebentar, buang airnya, lalu ganti dengan air baru sebelum menambahkan bumbu. Cara ini bisa mengurangi kadar minyak dan natrium.
– Gunakan bumbu secukupnya: Tidak selalu harus menuangkan seluruh bumbu dalam kemasan. Mengurangi setengahnya dapat menurunkan kadar garam secara signifikan.
– Tambahkan bahan segar: Sayuran hijau, wortel, jamur, telur, ayam, atau tempe bisa meningkatkan nilai gizi dan membuat mi lebih seimbang.
– Pilih varian rendah sodium: Beberapa produsen kini menawarkan mi instan dengan kandungan garam yang lebih rendah atau berbahan gandum utuh.
Batasi frekuensi konsumsi: Mie instan sebaiknya tidak dikonsumsi lebih dari sekali atau dua kali seminggu.***











