Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Seorang Balita Perempuan Meninggal Setelah Disuntik dengan ‘Stimulan Jantung’ untuk Flu

badge-check


					Keteledoran medis berakibat fatal Perbesar

Keteledoran medis berakibat fatal

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Seorang gadis berusia tiga tahun menjadi buta dan meninggal secara tragis setelah disuntik dengan stimulan jantung di sebuah klinik.

Peristiwa itu terjadi pada hari Selasa (25 Februari) sekitar pukul 9 pagi di sebuah rumah sakit di Perak, Malaysia.

Bibi gadis itu membagikan cerita itu di Instagram-nya, menjelaskan bahwa anak itu, Yao Yao (nama ditransliterasikan dari bahasa Mandarin), menderita flu dan pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dan minum obat.

Namun, setelah pemeriksaan, dokter mengatakan dia mengalami dehidrasi dan perlu disuntik untuk memudahkan tes darah.

Sang bibi menyebutkan, saat proses penyuntikan, beberapa dosis cairan diberikan kepadanya, yang menyebabkan detak jantungnya meningkat dari normal menjadi 180 detak per menit.

Gadis itu mengeluhkan penglihatannya kabur dan kegelapan total setelah disuntik.

Menurut bibinya, anak itu gemetar dan menangis saat ia berkata kepada ayahnya: “Ayah, aku tidak bisa melihat.”

“Tanpa kami sadari, itulah kata-kata terakhirnya,” ungkapnya.

Dua jam setelah menerima suntikan, gadis itu meninggal dunia meskipun telah menjalani CPR selama 40 menit , demikian laporan media berita Malaysia Sin Chew Daily News.

Ketika pihak keluarga menanyakan kepada petugas medis suntikan apa yang diterima anak tersebut, awalnya mereka mengatakan bahwa itu hanya obat biasa. Namun, belakangan mereka mengakui bahwa itu adalah obat perangsang jantung.

Bibinya, yang frustrasi, mempertanyakan apakah persetujuan orang tua diperlukan sebelum memberikan stimulan jantung.

Ia juga menyatakan ketidakpercayaannya atas laporan kematian, yang menyebutkan infeksi bakteri sebagai penyebab kematian.

Keluarga juga marah dengan sikap buruk staf medis, terutama ketika mereka diberitahu bahwa jika mereka tidak puas, mereka dapat meminta otopsi untuk memastikan penyebab kematian.

Dia mengutuk kelalaian staf dan kurangnya kepedulian terhadap nyawa yang hilang.

Keluarganya mengajukan laporan polisi sehari setelah kematian gadis itu.

Mereka juga berkonsultasi dengan profesional hukum dalam upaya mencari keadilan bagi putri mereka.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Era Baru Robotika: Ketika Kecepatan Lari Robot Salip Rekor Usain Bolt

23 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Ilmuwan Tiongkok Menciptakan Berlian yang Tak Bisa Dihancurkan

19 Agustus 2026 - 21:42 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Kereta Cepat Tiongkok Pecahkan Rekor Akselerasi dari 0 hingga 800 km/jam dalam 5 detik

16 Agustus 2026 - 18:47 WIB

PM Australia Minta Maaf karena Mengatakan Akan ‘Berhubungan Seks’ dengan Kylie Minogue

7 Juli 2026 - 19:22 WIB

Dr Lee Woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Trending di Internasional