Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Kepala BMKG Mengeluh Sudah 4 Kali Pencurian Alat Monitoring Gempa dan Tsunami di Sidrap

badge-check


					Pada kasus pencurian monitoring gempa & tsunami di Sidrap, pencuri membongkar shelter, mengambil seluruh baterai (6 aki) daya utama alat monitoring gempa dan 2 solar panel. BMKG terpaksa mencabut seluruh alat yg tersisa, termasuk sensor, digitizer & komunikasi, utk hindari kerugian lebih besar. Instagram@daryonobmkg Perbesar

Pada kasus pencurian monitoring gempa & tsunami di Sidrap, pencuri membongkar shelter, mengambil seluruh baterai (6 aki) daya utama alat monitoring gempa dan 2 solar panel. BMKG terpaksa mencabut seluruh alat yg tersisa, termasuk sensor, digitizer & komunikasi, utk hindari kerugian lebih besar. Instagram@daryonobmkg

Penulis: Mulawarman  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SIDRAP– Pimpinan BMKG mengeluh sering terjadi pencurian peralatan  monitoring gempa dan tsunami di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, telah terjadi sebanyak empat kali.

Kasus pencurian dan perusakan peralatan monitoring gempa kembali terjadi di Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap, Sulawesi Selatan, pada 12 Februari 2025. Pencuri mengambil enam unit aki dan dua panel surya dari shelter stasiun SPSI, menyebabkan gangguan pada sensor seismograf.

Ini adalah kejadian keempat di lokasi yang sama, bahkan kali ini pelaku membongkar bangunan shelter untuk mencuri sumber daya utama. Akibatnya, BMKG terpaksa mencabut sisa peralatan agar tidak mengalami kerugian lebih besar.

Kejadian terbaru dilaporkan pada 12 Februari 2025, di mana pencuri mengambil enam unit aki dan dua panel surya dari stasiun pemantau. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa pencurian ini mengakibatkan BMKG terpaksa mencabut semua peralatan yang tersisa untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Sejak 2015, BMKG mencatat total sepuluh kasus pencurian dan perusakan peralatan monitoring di berbagai lokasi, dengan Sidrap menjadi lokasi yang paling sering disasar.

Wilayah ini tergolong rawan gempa karena berada di jalur patahan aktif Sesar Walanae, yang dapat memicu gempa hingga magnitudo M 7,1. Berdasarkan laporan Pusat Gempa Nasional (Pusgen) 2017, Sesar Walanae bukan hanya sesar mikro, melainkan sesar regional yang berpotensi menyebabkan gempa besar.

Aktivitas kegempaan di kawasan Teluk Mandar, Pinrang, Rappang, dan Parepare juga tinggi, dengan risiko dampak seperti longsor, runtuhan batu, dan likuifaksi.

Sebagai catatan, wilayah ini pernah diguncang gempa besar berkekuatan M 6,0 pada 29 September 1997. Gempa tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia, 35 orang luka berat, serta kerusakan lebih dari 250 rumah. Kasus pencurian ini berisiko menghambat pemantauan dan peringatan dini gempa di wilayah yang rentan terhadap bencana tersebut.

Daryono menekankan bahwa pencurian ini sangat merugikan keselamatan masyarakat, karena alat yang dicuri berfungsi untuk memberikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami.

Tanpa alat tersebut, kecepatan dan akurasi informasi yang diberikan akan menurun, yang berpotensi membahayakan warga di daerah rawan gempa seperti Sidrap.

BMKG juga meminta masyarakat untuk menjaga peralatan tersebut demi keselamatan bersama dan berharap pemerintah daerah dapat berperan aktif dalam mengamankan peralatan yang telah dipasang.

Nilai kerugian material akibat pencurian alat monitoring gempa dan tsunami di Sidrap belum disebutkan secara spesifik dalam laporan yang tersedia. Namun, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menekankan bahwa peralatan yang dicuri termasuk enam unit aki dan dua panel surya, yang merupakan bagian penting dari sistem pemantauan.

BMKG menyatakan bahwa peralatan tersebut menggunakan teknologi canggih dengan biaya yang sangat tinggi, sehingga penggantian alat yang hilang atau rusak tidak mudah dilakukan.

Meskipun tidak ada angka konkret yang diberikan, dampak dari kehilangan alat ini jelas merugikan keselamatan masyarakat dan mengurangi efektivitas sistem peringatan dini.

Data kasus pencurian peralatan pantau gmepa dan tsunami BMKG:

Dalam catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejak 2015 telah terjadi setidaknya sebanyak 10 kali kasus pencurian dan perusakan terhadap peralatan monitoring gempa dan peringatan dini tsunami yang dikelola BMKG, yaitu:

1.  2015 di Cisompet, Garut, Jawa Barat (2 kali).
2. 2017 di Muara Dua, Sumatera Selatan.
3.  2018 di Manna, Bengkulu.
4. 2022 di Indragiri Hilir, Riau.
5.  2022 di Kluet Utara, Aceh Selatan.
6.  2022 di Sorong, Papua Barat.
7.  2022 di Jambi.
8. 2022 di Sausapor, Tambrauw, Papua Barat.
9.  2024 di Pulau Banyak, Aceh Singkil.
10. 2025 di Sidrap, Sulawesi Selatan (4 kali).**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Semangat Ikan Sepat Ikan Lele, Faturrohman: Makin Cepat Tidak Betele-tele untuk Musker Apindo Jombang

18 Juli 2026 - 15:34 WIB

Tuntut Keadilan, 50 Perwakilan Karyawan PT SGS Unjuk Rasa di Disnaker Jombang

17 Juli 2026 - 21:12 WIB

Runway Bandara Juanda Direvitalisasi, Airbus A380 Ditarget Bisa Mendarat

17 Juli 2026 - 20:25 WIB

ITS Pastikan Tak Ada Mahasiswa Gagal Kuliah karena Faktor Ekonomi

17 Juli 2026 - 19:53 WIB

Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga UU Sekaligus, Uang Anggota Rp124 M Dibelikan Tanah oleh Pengurus KPRI Jombang

17 Juli 2026 - 15:05 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Gurita Bisnis Besar yang Libatkan Nama Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:46 WIB

Kajian Kadin-TVRI: Piala Dunia Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun bagi RI

17 Juli 2026 - 10:17 WIB

300 Anggota Resah: Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Punya Beban Rp124 Miliar

17 Juli 2026 - 05:20 WIB

Menhub Targetkan Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo Rampung 2029

16 Juli 2026 - 20:03 WIB

Trending di News