Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SURABAYA— Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah strategis dan serius dalam menanggapi temuan penting bahwa wilayah ibu kota Provinsi Jawa Timur ini dilalui oleh dua segmen sesar aktif.
Melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Pemkot mulai menyiapkan infrastruktur pemantauan berbasis teknologi untuk kewaspadaan dini terhadap potensi gempa bumi.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, Sabtu 17 Oktober 2026, menyatakan bahwa upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab nyata pemerintah daerah dalam menjaga keselamatan warganya.
Langkah ini diambil setelah hasil pemetaan geologi menunjukkan adanya dua jalur patahan yang melintasi wilayah Surabaya, yaitu Sesar Surabaya dan Sesar Waru, yang merupakan bagian dari Sistem Sesar Kendeng.
Tidak Menutup Mata
“Kita tidak boleh menutup mata atas temuan-temuan ilmiah ini. Jika ada risiko, kita harus bersiap, bukan takut. Itulah mengapa kami menggandeng ITS — agar kesiapsiagaan kita berbasis data nyata dan pengetahuan yang akurat,” ungkap Eri Cahyadi.
Libatkan Ahli ITS
Berdasarkan kerja sama tersebut, tim ahli geofisika ITS yang dipimpin oleh pakar geologi Prof. Amien Widodo, memberikan rekomendasi teknis untuk pemasangan jaringan alat pemantau gerakan tanah dan aktivitas sesar di titik-titik strategis Kota Surabaya.
Alat-alat ini nantinya akan memantau pergerakan lempeng dan getaran di bawah permukaan secara terus-menerus dan real-time.
Selain aspek teknis dan peralatan, Eri Cahyadi juga menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup.
Ia juga telah menginstruksikan BPBD Kota Surabaya untuk memperkuat sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Warga akan dibekali pemahaman mengenai jalur evakuasi, titik berkumpul aman, serta tanda-tanda yang harus diwaspadai. Tujuannya agar jika sewaktu-waktu terjadi guncangan, warga dapat bertindak cepat, tenang, dan selamat.
Banjir Rob
Tidak hanya untuk gempa bumi, Pemkot Surabaya juga terus menyempurnakan sistem peringatan dini untuk ancaman lain yang kerap terjadi di wilayah pesisir, yaitu banjir rob.
Pemantauan cuaca dan pasang surut air laut juga dijalankan secara terpadu sehingga warga mendapatkan peringatan dini menyeluruh.
Langkah ini disambut baik oleh banyak pihak. Dengan populasi penduduk yang padat dan infrastruktur yang terus berkembang, keberadaan sistem pemantauan sesar aktif ini diharapkan dapat meningkatkan ketangguhan kota Surabaya dalam menghadapi potensi bencana.
Sekaligus menjadi model mitigasi bencana yang dapat dirujuk oleh daerah lain yang memiliki kondisi serupa.**

















