Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (68): 550.000 Penunggang Kuda Berwajah Pucat

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |   Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Ratusan kaum Veteran Konfederasi, yang tidak berbuat banyak selama kejatuhan ekonomi seusai perang, bersatu berniat melakukan perlawanan.

Pada tahun 1865, enam orang muda di Pulaski, Tennessee membentuk sebuah masyarakat pencemooh pengganggu yang berkerudung yang menyebut diri sebagai Ku Klux Klan, berasal dari bahasa Yunan kuklos yang berarti ‘lingkaran’ dan kata Skotlandia ‘clan’.

Kemanapun, anggota Klan sejati bepergian malam hari, mereka menggunakan kerudung dengan menunggang kuda.

Mereka juga berkerudung melihat bahwa kaum kulit hitam yang kerapkali tidak terpelajar dan percaya takhayul sangat ketakutan dengan para pengunjung aneh yang mengaku sebagai hantu Konfederasi yang mati.

Ia yang berniat meminum satu gallon air dengan sekali tegukan dan mengeluarkan kerangka tangan dari lengan-lengan baju mereka untuk mencengkram telapak tangan para korbannya.

Forrest langsung melihat kemungkinan menggunakan lelucon praktis ini guna menteror pedesaan Selatan.

Dia mengaku ada 550 ribu penunggang kuda berkerudung pada tahun 1868 dengan nama Para Pria Klan, Palefaces (Wajah-wajah Pucat), Persaudaraan Kulit Putih, Liga Kulit Putih, atau Ksatria Camellia Putih.

Meski dibantu bekas perwira Konfederasi lain, dia tidak memiliki organisasi militer yang sesuai serta tidak mampu menguasai orang-orang ini.

Dia mungkin berniat menjadi seorang Robin Hood, seperti diperlihatkan oleh sumpah Klan sebelumnya, dan mungkin mencoba melindungi kaum lemah terhadap para mantan pejuang yang bebas berkeliaran yang mengatasnamakan pemerintah.

Tetapi Klan-klan lokal segera merosot menjadi kelompok gang, ditolak oleh para pendiri Klan yang kerapkali terdiri dari ‘orang jahat, kurang akal dan kurang berpikir’

Gang-gang ini dengan menunggang kuda bepergian malam hari melancarkan aksi balas dendam pribadi, untuk mendapatkan keuntungan atau melakukan tindakan yang menyeramkan.

Siapapun bangsat kulit hitam atau kulit putih dapat mengenakan kerudung menutup wajah menyembunyikan semua tanggung jawab mereka.

Akibatnya, kerahasiaan yang merupakan kekuatan Klan awalnya berubah menjadi kelemahan. Misteri teror yang terorganisasi memalsukan izin untuk melakukan pembalasan terhadap para penjahat anarkis.

Angka pembunuhan dan kekerasan dilakukan Klan sebelum 1972 tidak mungkin mampu dipetakan.

Setiap penjahat atau orang yang ingin melakukan aksi balas dendam berdarah mengenakan kerudung. Nyaris di semua daerah Selatan, terjadi perang sporadis antara milisi kulit hitam kaum Republik bersenjata melawan para veteran perang Selatan.

Kedua belah pihak sama-sama menggunakan teror, meskipun tidak dapat disangkal bahwa kaum kulit hitam paling menderita dampaknya.

Komisi Senat menemukan bukti bahwa di sembilan daerah di South Carolina, selama masa enam bulan, Klan menghukum mati tanpa proses pengadilan membunuh 35 laki-laki, mencambuk lebih dari tiga ratus pria dan wanita dan sebaliknya bertindak kejam, menembak, memutilasi, memperkosa atau membakar ratusan orang lainnya.

Selama masa itu, kaum kulit hitam membunuh empat pria, memukul satu orang dan melakukan 16 tindakan kejam lainnya. Tidak ada kasus perkosaan wanita kulit putih yang diketahui.

Orang kulit putih Selatan membunuh atau menyerang kaum kulit hitam dalam nyaris ribuan pembunuhan yang terjadi di Selatan dalam decade setelah Perang Sipil.

Motif ledakan kekewasan itu sederhana, guna mempertahankan kaum kulit hitam di tempatnya jauh dari masyarakat utama—polls. W. E. Du Bois, salah satu pemimpin dan sejarahwan kulit hitam kenamaan merangkum alasan “sangat beragam’ bagi kekejaman Klan:

‘para korbannya harus menderita sebagai balas dendam atas pembunuhan, atas sejumlah kasus pembakaran rumah; mereka kaum Republik; mereka kaum radikal; mereka berupaya mengikuti Pemilu, mereka membawa senjata api, mereka ‘negro’; mereka ‘orang negro terkutuk;’ mereka membanggakan diri akan memiliki tanah sendiri.

Mereka dicambuk karena utang piutang, karena bergaul dengan para wanita kulit putih dan berupaya untuk memberika suara dalam Pemilu.’ (Bersambung)

 

 

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kapal Turis KM Feronia Terbalik Dihantam Ombak, 29 Orang Selamat Veronica Beatrix Hilang

14 Oktober 2026 - 15:58 WIB

Polisi Bersama Petani Desa Cek Pertanian Jagung

14 Oktober 2026 - 15:20 WIB

Sampan Angkut 37 Siswa Patah di Mentawai, Berhasil Selamat Ditolong Nelayan Sedang Lewat

14 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolres Jombang Sowan Kiai Pondok Pesantren Tebuireng

14 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Kini Sudah Lahir Buku Gastronomi Berisi Catatan Kekayaan Masakan Khas Jombang

14 Oktober 2026 - 09:27 WIB

Lautan Massa Padati Acara Jombang Bersholawat, Hadirkan Gus Iqdam dan Hadrah Sabilu Taubah

14 Oktober 2026 - 08:31 WIB

OTT KPK Sasar Kantor BNPB, Tangkap 14 Pejabat dan Pengusaha, Uang dan Emas Batangan

13 Oktober 2026 - 23:26 WIB

Israel Melarang Pesawat Kargo Ethiopia Mendarat, karena Pilotnya Warga Indonesia

13 Oktober 2026 - 22:49 WIB

Desak Penutupan 23 Pabrik Rokok Ilegal, Massa LSM Lempari Telur Kantor Bea Cukai Madura di Pamekasan

13 Oktober 2026 - 22:06 WIB

Trending di News