Penukis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, PADANG — Titik-titik tanah longsor dan banjir bandang tersebar di delapan kecamatan di Kota Padang menjadi peringatan dini yang nyata di awal musim hujan tahun ini.
Hujan yang turun berulang kali selama beberapa hari berturut-turut sejak awal Oktober 2026 memicu bencana hidrometeorologi di kawasan yang secara topografi berada di lereng Bukit Barisan.
Secara keseluruhan tercatat 21 titik kejadian — terdiri dari 14 titik tanah longsor dan 7 titik banjir bandang — yang berdampak langsung pada ribuan warga.
Sebaran
- Kecamatan Pauh 5 titik longsor, 2 titik banjir Kelurahan Limau Manis, Kampung Baru, Cupak Tangah
- Kuranji 3 titik longsor, 2 titik banjir Kelurahan Kuranji, Pasar Baru, Sungai Sapihan.
- Lubuk Begalung 2 titik longsor, 2 titik banjir Kelurahan Lubuk Begalung, Batu Gadang, Gunung Sarik
- Lubuk Kilangan 3 titik longsor Kelurahan Lubuk Kilangan, Bandar Buat
- Bungus Teluk Kabung 2 titik longsor Jalan Raya Bungus,
- Kawasan perbukitan Teluk Kabung
Nanggalo 1 titik banjir Sekitar Jalan Adinegoro, Kelurahan Gunung Pangilun - Koto Tangah 1 titik banjir Kawasan bantaran Sungai Lubuk Buaya
Lubuk Buaya 1 titik longsor Jalan Raya Lubuk Buaya, area berbukit
Dampak
Data resmi BPBD Kota Padang per 10 Oktober 2026 mencatat dampak yang dirasakan warga:
- Rumah Terendam Banjir 187 unit
Rumah Rusak Ringan/Sedang 94 unit - Rumah Tertimbun Longsor/Rusak Berat 29 unit
- Warga Mengungsi Sementara 1.248 orang — menempati 31 titik posko pengungsian
- Jalan Desa/Kecamatan Terputus 13 ruas jalan
Jembatan Putus/Rusak 7 unit jembatan penyeberangan
Sekolah Terpaksa Libur Sementara 12 satuan pendidikan di kawasan terdampak
Para pengungsi sebagian besar ditampung di balai kelurahan, masjid, dan gedung serbaguna terdekat. Kebutuhan mendesak yang paling banyak dibutuhkan saat ini antara lain makanan siap saji, selimut, matras, obat-obatan dasar, serta air bersih.
Pemerintah Kota Padang bersama unsur TNI/Polri dan relawan terus menyalurkan bantuan ke lokasi yang dapat dijangkau.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang menjelaskan bahwa ada kombinasi beberapa faktor yang saling memperkuat:
“Hujan bukan turun sekali, tapi berulang setiap hari selama 4–5 hari. Air perlahan meresap ke dalam tanah hingga tanah menjadi jenuh, lalu pada hujan berikutnya tanah tidak lagi mampu menahan air. Ditambah lagi banyak lokasi yang berada di lereng curam dan berkurangnya vegetasi penahan tanah di kawasan perbukitan.”
Secara rinci penyebab utamanya:
- Hujan berdurasi panjang dan berulang — akumulasi curah hujan mencapai 150–200 mm dalam kurun waktu 5 hari
- Topografi berbukit curam — sebagian besar wilayah Padang merupakan lereng Bukit Barisan yang rawan gerakan tanah
- Kondisi tanah yang labil — jenis tanah lempung mudah melunak saat terkena air
- Faktor manusia — pembangunan di kawasan lereng tanpa pengendalian tata ruang yang ketat, penebangan vegetasi, dan penyempitan saluran drainase
Peringatan BMKG
BMKG memperingatkan bahwa puncak curah hujan di wilayah Sumatera Barat diprediksi baru akan terjadi pada November–Desember 2026. Artinya, potensi kejadian serupa masih mungkin terjadi.
Warga yang tinggal di kawasan lereng bukit, bantaran sungai, dan jalur aliran air diimbau untuk tetap waspada dan siap mengungsi sewaktu-waktu jika cuaca memburuk.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan posko siaga 24 jam dan jalur evakuasi utama di setiap kecamatan rawan.**

















