Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Mendag Ungkap Penyebab Harga Kedelai Mahal

badge-check


					Mendag Ungkap Penyebab Harga Kedelai Mahal Perbesar

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui harga kedelai yang menjadi bahan baku tahu dan tempe naik. Lonjakan harga ini dipicu oleh dinamika perdagangan global, termasuk gejolak harga minyak dunia.

“Sekarang kan memang kondisi perdagangan global, harga minyak dan sebagainya,” ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).

Budi menyebut berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp 13.200/kilogram (kg). Menurut Budi, angka ini naik dari sebelumnya yang berada di level Rp 12.000/kg.

Terkait kenaikan harga kedelai, Budi telah berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Ia menyebut jalan keluar dari kenaikan harga kedelai ini akan dibahas dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), termasuk opsi pemberian subsidi yang pernah dilakukan sebelumnya.

“Harga kedelai sekarang saya cek di SP2KP kan Rp 13.200-an ya kalau salah ya. Dari Rp 12.000an. Tadi kami juga sudah komunikasi dengan Kemenko Pangan. Nanti secepatnya kita akan adakan rapat. Kalau dulu kan sudah dikasih subsidi ya. Nah nanti kita tunggu arahan pimpinan apakah subsidi ada,” beber ia.

Sebelumnya, harga kedelai ini memicu perajin memperkecil ukuran tahu dan tempe. Harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.500/kg kini menjadi Rp 11.600/kg, bahkan ada yang mencapai Rp 12.000/kg di beberapa daerah.

Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Kusnoto mengatakan, tekanan usaha pada 2026 dinilai lebih berat dibandingkan 2022 karena kenaikan tidak hanya terjadi pada kedelai. Perajin juga menghadapi kenaikan berbagai biaya mulai dari bahan bakar minyak (BBM), plastik kemasan, hingga ongkos angkutan.

“Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini,” kata Kusnoto, kepada detikcom, Sabtu (3/10/2026).

Ia mencontohkan, dalam sehari perajin yang menggunakan 1 kuintal kedelai bisa menghasilkan 22 batang tempe. Jika satu batang dijual Rp 10.000 dan dipotong menjadi tujuh bagian, omzet kotornya Rp 1,54 juta. Namun, setelah dikurangi berbagai biaya produksi, keuntungan yang tersisa sangat tipis.

“Harga jual tahu dan tempe belum naik, alhasil disiasati mengecilkan ukuran. Sebagian besar mengurangi produksi, satu dua sudah mulai ada yang menghentikan produksinya karena dampak kedelai mahal,” lanjutnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menanti Kehadiran Nusron Wahid di Meja Saksi KPK Pekan Ini

6 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Sepanjang 2026 Semeru Catatkan Letusan ke-1924, Termasuk Hari Ini

6 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Tarif Listrik Q4 2026 Akan Ada Penyesuaian? Ini Kata Bahlil

5 Oktober 2026 - 20:11 WIB

Cabai Mahal dan Harga Ayam Hidup Anjlok, Begini Jawaban Mentan

5 Oktober 2026 - 19:46 WIB

Harga Ayam di Kandang Anjlok Lagi

4 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Komitmen Investasi Rp2,3 Triliun Masuk ke Kawasan Industri Sidoarjo

4 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Laporan Knight Frank 2026: Laju Pertumbuhan Orang Super-Kaya Indonesia Nomor Satu Dunia

4 Oktober 2026 - 18:36 WIB

Harga Pertamax Oktober Tetap Rp 15.950, Wamen ESDM Bilang Begini

2 Oktober 2026 - 20:07 WIB

TPK Hotel di Kota Malang Turun Jadi 42,68% pada Agustus

2 Oktober 2026 - 19:44 WIB

Trending di Nasional