Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Ada Ruang Menyerupai Kantor Polres, RS O Smach untuk Ambil Paksa Organ Manusia

badge-check


					Grafis RS O Smach di perbatasan Thailand- Kamboja, diduga kuat tempat pengambilan organ tubuh migran yang gagal mencapai target. Grafis: ist Perbesar

Grafis RS O Smach di perbatasan Thailand- Kamboja, diduga kuat tempat pengambilan organ tubuh migran yang gagal mencapai target. Grafis: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, KAMBOJA — Sebuah kompleks penipuan daring seluas 80 hektar di kawasan perbatasan O Smach, Kamboja, tepat di perbatasan dengan Thailand, ditemukan menyembunyikan kejahatan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar penipuan internet.

Militer Thailand  Satuan perbatasan melakukan peninjauan langsung ke lokasi O Smach pada 7 September 2026. Mereka mengonfirmasi ada bangunan rumah sakit dan kompleks yang ditinggalkan.

Aparat juga menemukan peralatan medis, seragam, dan dokumen. Namun pernyataan resmi militer Thailand belum mengonfirmasi secara langsung tudangan pengambilan organ, hanya menyatakan temuan di lokasi dan menyerahkan penyelidikan ke pihak berwenang Kamboja.

Di bawah pengawasan militer Thailand, tim pengamat ASEAN dan jurnalis internasional diperlihatkan langsung bangunan-bangunan yang digunakan untuk menahan, menyiksa, hingga diduga mengambil organ tubuh korban yang diperdagangkan secara paksa. Pemeriksaan dilakukan pada Senin, 7 September 2026.

Di dalam kompleks tersebut berdiri sebuah bangunan yang menyerupai rumah sakit bernama Zhong Nan (Zhongshan).

Ruang operasi lengkap dengan alat bedah ditemukan di sana. Berdasarkan keterangan pihak berwenang Thailand, ruangan ini diduga digunakan untuk mengambil organ — terutama ginjal dan jantung — dari para pekerja yang gagal mencapai target penipuan yang ditetapkan pengelola.

Korban yang dipukuli, disiksa, atau dianggap tidak berguna lagi diduga dibawa ke rumah sakit ini bukan untuk diobati, melainkan untuk diambil organ tubuhnya lalu dijual ke pihak yang membutuhkan.

Selain rumah sakit, kompleks ini juga dilengkapi kantor-kantor polisi tiruan yang dirancang persis menyerupai kantor kepolisian berbagai negara: Indonesia, Tiongkok, Brasil, Australia, Singapura, hingga Vietnam.

Di dalamnya ditemukan seragam kepolisian berbagai negara, naskah skenario penipuan, serta ruang pemeriksaan yang dibuat sedemikian rupa agar korban percaya bahwa mereka sedang dihubungi oleh aparat penegak hukum asli.

Para pelaku menelepon calon korban sambil menyamar menjadi polisi, memeras uang dengan alasan kasus hukum fiktif.

Para pekerja yang didatangkan dari negara-negara miskin — Bangladesh, Filipina, dan negara lain — dikurung di ruang bawah tanah yang sempit, dilengkapi alat penyiksa dan kamera pengawasan.

Mereka yang tidak mampu meraup keuntungan bagi pengelola akan dipindahkan ke bagian yang lebih gelap: dipukuli, ditelantarkan, hingga akhirnya diduga diambil organnya.

Hingga kini, bukti yang dikumpulkan berupa alat medis, seragam, naskah, serta kesaksian korban yang berhasil melarikan diri memperkuat dugaan tersebut.

Namun identifikasi korban dan jejak penjualan organ masih ditelusuri. Kasus ini menunjukkan bahwa jaringan penipuan daring lintas batas negara telah berkembang menjadi sindikat perdagangan manusia yang mematikan — di mana nyawa manusia diperas hingga tetes terakhir, dan tubuhnya pun dijadikan barang dagangan.

Masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan pendapatan besar tanpa prosedur resmi.

Setiap orang yang hilang kontak setelah menerima tawaran semacam ini kemungkinan besar terjebak dalam jaringan yang sama.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Suhu Naik 1,2 Derajat Celcius Akibat Super El Nino, 451 Ribu Nyawa Melayang

25 September 2026 - 21:11 WIB

Menteri Yusril Minta Ombudsman Buka Semuanya, Izinkan Wartawan Masuk ke LP Cibinong

25 September 2026 - 13:11 WIB

Komisi C Soroti Proyek Revitalisasi 128 Gedung SD/ SMP Jombang dengan Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:44 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:52 WIB

Marathon KPK Geledah Kanwil ATR/ BPN Jatim, Malang dan Rumah Milik Lampri di Pace Nganjuk

25 September 2026 - 10:46 WIB

Kantor Digeledah, Istri Dirjen ATR/ BTN Krystianti Lampri Cuti Menghilang Secara Misterius

24 September 2026 - 23:50 WIB

Oknum Diknas Minta Jatah 10% dari Dana Revitalisasi 180 Gedung SD/ SMP di Bangkalan Rp38 Miliar

24 September 2026 - 16:56 WIB

Tim Ombudsman Sidak ke LP CIbinong: Temukan Bangunan Mirip Hotel dan Deretan Mobil Mewah!

24 September 2026 - 15:32 WIB

Eri Cahyadi Melarang Sekolah Jualan Seragam, Bupati Sidoarjo Melarang Sekolah Acara ODL

24 September 2026 - 09:24 WIB

Trending di News