Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, KAMBOJA — Sebuah kompleks penipuan daring seluas 80 hektar di kawasan perbatasan O Smach, Kamboja, tepat di perbatasan dengan Thailand, ditemukan menyembunyikan kejahatan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar penipuan internet.
Militer Thailand Satuan perbatasan melakukan peninjauan langsung ke lokasi O Smach pada 7 September 2026. Mereka mengonfirmasi ada bangunan rumah sakit dan kompleks yang ditinggalkan.
Aparat juga menemukan peralatan medis, seragam, dan dokumen. Namun pernyataan resmi militer Thailand belum mengonfirmasi secara langsung tudangan pengambilan organ, hanya menyatakan temuan di lokasi dan menyerahkan penyelidikan ke pihak berwenang Kamboja.
Di bawah pengawasan militer Thailand, tim pengamat ASEAN dan jurnalis internasional diperlihatkan langsung bangunan-bangunan yang digunakan untuk menahan, menyiksa, hingga diduga mengambil organ tubuh korban yang diperdagangkan secara paksa. Pemeriksaan dilakukan pada Senin, 7 September 2026.
Di dalam kompleks tersebut berdiri sebuah bangunan yang menyerupai rumah sakit bernama Zhong Nan (Zhongshan).
Ruang operasi lengkap dengan alat bedah ditemukan di sana. Berdasarkan keterangan pihak berwenang Thailand, ruangan ini diduga digunakan untuk mengambil organ — terutama ginjal dan jantung — dari para pekerja yang gagal mencapai target penipuan yang ditetapkan pengelola.
Korban yang dipukuli, disiksa, atau dianggap tidak berguna lagi diduga dibawa ke rumah sakit ini bukan untuk diobati, melainkan untuk diambil organ tubuhnya lalu dijual ke pihak yang membutuhkan.
Selain rumah sakit, kompleks ini juga dilengkapi kantor-kantor polisi tiruan yang dirancang persis menyerupai kantor kepolisian berbagai negara: Indonesia, Tiongkok, Brasil, Australia, Singapura, hingga Vietnam.
Di dalamnya ditemukan seragam kepolisian berbagai negara, naskah skenario penipuan, serta ruang pemeriksaan yang dibuat sedemikian rupa agar korban percaya bahwa mereka sedang dihubungi oleh aparat penegak hukum asli.
Para pelaku menelepon calon korban sambil menyamar menjadi polisi, memeras uang dengan alasan kasus hukum fiktif.
Para pekerja yang didatangkan dari negara-negara miskin — Bangladesh, Filipina, dan negara lain — dikurung di ruang bawah tanah yang sempit, dilengkapi alat penyiksa dan kamera pengawasan.
Mereka yang tidak mampu meraup keuntungan bagi pengelola akan dipindahkan ke bagian yang lebih gelap: dipukuli, ditelantarkan, hingga akhirnya diduga diambil organnya.
Hingga kini, bukti yang dikumpulkan berupa alat medis, seragam, naskah, serta kesaksian korban yang berhasil melarikan diri memperkuat dugaan tersebut.
Namun identifikasi korban dan jejak penjualan organ masih ditelusuri. Kasus ini menunjukkan bahwa jaringan penipuan daring lintas batas negara telah berkembang menjadi sindikat perdagangan manusia yang mematikan — di mana nyawa manusia diperas hingga tetes terakhir, dan tubuhnya pun dijadikan barang dagangan.
Masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan pendapatan besar tanpa prosedur resmi.
Setiap orang yang hilang kontak setelah menerima tawaran semacam ini kemungkinan besar terjebak dalam jaringan yang sama.**

















