Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Sejarah Terorisme (5): Perang Salib dan Kisahnya yang Mengerikan

badge-check


					Ilustrasi. Foto: Ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: Ist

Penulis: Jacobus E. lato  |   Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM– Berbagai pembantaian massal yang dilancarkan pasukan perang salib membuat mereka tidak disukai kalangan Islam sepanjang sejarah. Para ksatria kejam sekaligus perampok brutal itu pun bahkan membuat rekan-rekan mereka yang beragama Kristen ketakutan. Ketika Perang Salib Keempat menggempur Konstaninopel pada 1204, bangsa Frank dan Venesia justru menjarah kota kenamaan di Eropa. Perpustakaan-perpustakaan diporakporandakan.

Gereja Para Rasul Suci dan makam-makam kerajaan serta Sancta Sophia dirampok, para susternya diperkosa dan relikwi-relikwi suci dicuri. ‘Karena dunia diciptakan’ tulis sejarahwan Villerhardouin dengan gaya hiperbolanya yang aneh,  ‘belum pernah terjadi, begitu banyak rampasan diambil dari kota mana pun!’
Pemimpin Bizantium Niketas Choniates mempertentangkan kenyataan ini dengan perilaku baik umat Muslim di bawah pimpinan Saladin pada perebutan kembali Kota Yerusalem pada 1187 dengan perilaku buas para ‘pioner garda depan Anti-Kristusnya’ di reruntuhan Konstaninopel, 17 tahun kemudian.
Para pejuang perang salib dengan demikian menjadi sebentuk penghancuran diri sendiri di kalangan Kristen. Preseden pengiriman ekspedisi guna memerangi kaum bidaah dan kafir atau kaum tidak beriman di luar Palestina hanya membuktikan fatalnya konsep perang suci Kristen.
Di daerah Provence dan Languedoc, sekte gnostik rahasia kaum cathari, atau orang-orang suci, justru mendapat banyak sekali massa pengikut karena mengkotbahkan bidaah masa kuno tentang pendekatan langsung kaum beriman kepada Allah melalui para imam Cathari, yang disebut Perfecti. Padahal di tempat itulah, banyak traubador Spanyol dengan kisah-kisah romantis Piala Suci mendaraskan kisah-kisah mereka yang haus darah dengan penuh keberanian.
Menurut ajaran para Perfecti , orang tidak orang tidak perlu sembahyang dalam negara atau gereja yang jahat. Karena itu, perlu ada upaya untuk melihat kembali masa-masa pemberontakan awal agama Kristen.
Munculnya bidaah di kalangan Languedoc menyebabkan Roma prihatin selama bertahun-tahun; namun provokasi untuk melancarkan perang terbuka justru terjadi dalam pembunuhan utusan Bapa Suci oleh hamba seorang bangsawan Toulouse pada 1208.
Paus Innocentius III lantas memaklumkan bahwa orang yang dibunuh bakal menjadi martir suci. Perang salib diserukan untuk melawan orang-orang yang dinyatakan bidaah oleh Tahta Suci, ‘bahkan jauh lebih jelek dari Kaum Saracen.’  Seperti pemisahan kalangan Sunni dan Shiah menghancurkan kesatuan umat Muslim, demikian juga pemisahan antara Gereja Roma dan para reformatornya diilhami oleh keyakinan-keyakinan puritan dari Timur Dekat, yang mengancam keutuhan Kerajaan Kristen.
Kota pertama yang dimasukkan dalam perang salib, Beziers langsung jatuh. Pembantaian di sana sama buasnya seperti pada waktu penaklukan Yerusalem. Nyaris tidak satupun warga sipil mampu meloloskan diri. Rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya dibakar.
Dengan kata-kata penuh dengki, Abbot Arnald Almark menanggapi pertanyaan tentang cara membedakan orang Katolik yang baik dari kaum bidaah dengan kata-kata, “Bunuh mereka semua.  Allah akan memelihara umatNya sendiri.’ Sang abbot membanggakan dirinya setelah pembantaian 20.000 orang dengan pedang, tanpa memperhitungkan usia dan jenis kelamin mereka.
Luapan kemarahan itu merupakan reaksi berlebihan terhadap propaganda Gereja yang mengutuk orang-orang Languedoc sebagai anak-anak Setan termasuk kebijaksanaan terror yang disengaja. Seperti ditulis William de Tudela, para pemimpin perang salib sepakat bahwa daerah manapun yang menolak menyerah harus membunuh semua orang yang mempertahankan daerah itu, ‘berpikir bahwa setelah peristiwa itu, tidak ada orang berani menentang mereka karena hebatnya cengkraman rasa takut ketika melihat apa yang telah mereka lakukan atas wilayah itu.’ (Bersambung)
Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Arumi Bachin Jalan Kaki 1,5 Km di Terik Matahari, Kunjungi 3 Rumah Manik di Plumbon Gambang

20 Oktober 2026 - 16:42 WIB

Polres Jombang Kedepankan Pelayanan Humanis

20 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Berdialog, Kapolres Jombang Ajak Mahasiswa Jaga Kamtibmas

20 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Hari Purnomo: Koperasi di Jombang Tumbuh Jadi 1.020 Unit Volume Usaha Rp500 M, 168 UMK Naik Kelas

20 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Agustiar Sabran Pamit dan Tidak Kembali, Massa Aksi Demo Segel Kantor Gubernur Kalteng

19 Oktober 2026 - 21:34 WIB

Kartiyono 12 Tahun di Bapemperda Jombang: Pastikan Perda Sesuai Kebutuhan dan Hidup di Masyarakat!

19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Diduga Bakar Lahan 800 M2, Warga Bareng Tangkap Pengamen dan Diikat di Tiang Listrik

19 Oktober 2026 - 16:50 WIB

Menelisik Akar Terorisme (70): KKK Punya 4 Juta Anggota

19 Oktober 2026 - 16:17 WIB

Kapolres Jombang Pantau Langsung Ketersediaan BBM di SPBU

19 Oktober 2026 - 11:15 WIB

Kapolres Jombang, AKBP Yanto Mulyanto saat memantau langsung ketersediaan BBM di salah satu SPBU
Trending di News