Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Banyak orang mengira puasa Ramadan sama dengan tren intermittent fasting(IF). Padahal, meski sama-sama menahan makan dalam jangka waktu tertentu, keduanya punya tujuan berbeda. Puasa Ramadan adalah ibadah, sementara IF biasanya dilakukan untuk kesehatan, seperti menurunkan berat badan atau memperbaiki metabolisme.
Durasi puasa Ramadan di Indonesia berlangsung sekitar 13–14 jam, dari sahur hingga berbuka, tanpa boleh makan atau minum. Sedangkan IF lebih fleksibel, misalnya metode 16:8 (16 jam puasa, 8 jam makan), pola 5:2, atau bahkan hanya satu kali makan sehari. Bedanya lagi, saat IF masih boleh minum air putih atau kopi tanpa gula, sedangkan Ramadan benar-benar tanpa asupan.
Ahli Gizi UNAIR, Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan bahwa apapun polanya, tubuh tetap butuh asupan bergizi seimbang. Jangan sampai kalori terlalu rendah karena bisa membuat tubuh kehilangan massa otot. Ia menyarankan pengurangan kalori dilakukan bertahap, bukan ekstrem.
Untuk Ramadan, Mahmud memberi tips sederhana: jangan balas dendam makan berlebihan saat berbuka. Cukup satu kali makan utama setelah magrib, sahur yang bergizi, dan camilan sehat bila perlu. Cairan minimal delapan gelas sehari tetap harus dipenuhi, dibagi antara berbuka, malam, dan sahur. Tambahkan buah, sayur, serta makanan berkuah agar tubuh tetap segar.
“Ramadan adalah momen ibadah, tapi juga kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang,” ujarnya.***











