Penulis: Agung Sedayu | Editor: Gandung Kardiyono
KREDONEWS.COM, YOGYAKARTA – Tradisi Nyadran di Yogyakarta adalah ritual tahunan masyarakat Jawa untuk mendoakan leluhur, biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (Sya’ban) menjelang Ramadhan.
Selain sebagai bentuk penghormatan, Nyadran juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga melalui doa, kenduri, dan seni budaya.
Asal-usul dan Makna Nyadran
– Etimologi: Kata Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta Sraddha yang berarti keyakinan.
– Sejarah: Tradisi ini sudah ada sejak masa Majapahit, bahkan disebut pernah dilakukan oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi pada tahun 1284.
Seiring masuknya Islam ke Jawa, Nyadran mengalami akulturasi budaya sehingga menjadi tradisi yang bernuansa Islami.
– Makna: Nyadran adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, rasa syukur kepada Tuhan, serta pengingat akan kematian dan pentingnya menjaga hubungan sosial.
Waktu Pelaksanaan
– Bulan Ruwah (Sya’ban): Nyadran dilakukan menjelang bulan Ramadhan, tepatnya pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa.
– Momentum: Selain doa, Nyadran menjadi persiapan spiritual masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.
Prosesi Nyadran
1. Ziarah Makam Leluhur
– Warga berbondong-bondong ke makam keluarga atau makam desa.
– Membersihkan makam, menabur bunga, dan berdoa bersama.
2. Kenduri atau Slametan
– Dilakukan di rumah atau di makam leluhur.
– Hidangan tradisional seperti apem, kolak, dan tumpeng disajikan sebagai simbol doa dan kebersamaan.
3. Doa Bersama
– Dipimpin tokoh agama atau sesepuh desa.
– Membaca doa untuk keselamatan leluhur dan keberkahan bagi keluarga yang masih hidup.
4. Rangkaian Seni Budaya
– Di beberapa daerah Jogja, Nyadran juga diiringi dengan kesenian tradisional seperti gamelan, wayang, atau kirab budaya.
Nilai Sosial dan Budaya
– Penguatan Solidaritas: Nyadran mempererat hubungan antarwarga melalui kegiatan kolektif.
– Pelestarian Budaya: Tradisi ini menjaga kesinambungan nilai Jawa yang berpadu dengan ajaran Islam.
– Spiritualitas: Menjadi sarana introspeksi dan persiapan menyambut Ramadhan.
Tradisi Nyadran masyarakat Jogja bukan sekadar ziarah makam, melainkan sebuah ritual budaya yang sarat makna spiritual, sosial, dan historis.
Ia mengajarkan penghormatan kepada leluhur, memperkuat kebersamaan, serta menjadi jembatan antara budaya Jawa dan Islam.
Kuliner Khas Nyadran di Jogja
1. Apem
– Kue tradisional berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula.
– Melambangkan permohonan maaf (afwan dalam bahasa Arab) serta harapan agar hidup bersih dan suci menjelang Ramadhan.
2. Kolak
– Hidangan manis dari pisang atau ubi yang dimasak dengan santan dan gula merah.
– Menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan pengingat manisnya kebersamaan.
3. Tumpeng
– Nasi berbentuk kerucut dengan lauk pauk tradisional seperti ayam, tempe, dan sayur.
– Melambangkan gunung sebagai sumber kehidupan dan doa agar masyarakat selalu diberkahi.
4. Jenang (Bubur)
– Bubur manis yang biasanya berwarna-warni.
– Menjadi simbol perjalanan hidup manusia dengan berbagai suka dan duka.
5. Ingkung Ayam
– Ayam utuh yang dimasak dengan bumbu khas Jawa.
– Melambangkan kepasrahan kepada Tuhan dan doa untuk keselamatan keluarga.
Peran Kuliner dalam Nyadran
– Simbolis: Setiap makanan memiliki makna spiritual dan sosial.
– Kebersamaan: Hidangan dibagi dalam kenduri, mempererat hubungan antarwarga.
– Pelestarian Tradisi: Kuliner khas Nyadran menjaga warisan kuliner Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.**











