Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Dua tahun setelah mereka bekerja berjam-jam memetik sayuran salad yang akan disajikan di meja makan Natal warga Australia, Tommy dan Susilo masih belum dibayar.
“Kita susah-susah bekerja, panas-panas saat siang terik,” kata Tommy asal Indonesia, yang namanya telah diubah untuk melindungi privasinya, kepada ABC.
Ia mengatakan bahwa ia menjadi “sakit hati dan capek.”
“Lama bekerja dan enggak dibayar… sangat berat, sangat sangat sedih, tetapi apa yang bisa saya lakukan?”
Rekannya yang lain asal Madiun, Jawa Timur, Susilo, mengatakan bahwa ia telah bekerja lebih dari 100 jam dalam masa-masa sibuk menjelang Natal 2023.
Ia mengatakan bahwa ia masih belum dibayar dan kenangan itu menyakitkan.
Tommy dan Susilo termasuk di antara kelompok yang terdiri dari setidaknya 20 pekerja yang, menurut dokumen yang diajukan oleh likuidator dalam proses pengadilan, berhak menerima total lebih dari A$260.000 (sekitar Rp2,6 miliar).
Upah tersebut merupakan upah yang belum dibayar untuk pekerjaan yang mereka lakukan di Corrigan’s Farm di Melbourne tenggara, tempat selada, kale, dan sayuran salad lainnya ditanam untuk pelanggan, termasuk supermarket raksasa Coles dan Woolworths.
Para pekerja tersebut dipekerjakan oleh sebuah kelompok penyedia tenaga kerja yang dikelola oleh Bunchhay San, seorang pria kelahiran Kamboja yang berbasis di Melbourne, yang menjadi pusat penyelidikan terhadap jaringan perusahaan penyedia tenaga kerja yang dituduh melakukan penipuan pajak.
Para penyelidik percaya bahwa sekitar A$60 juta dari sembilan perusahaan tersebut telah disalurkan ke ekonomi gelap.
Dalam proses likuidasi perusahaan yang menyangkut entitas dalam kelompok tersebut, pengadilan telah mendengar tuduhan penyerahan uang tunai kepada sosok misterius namun menakutkan di komunitas Khmer, serta pengakuan dari Bunchhay San bahwa ia berbohong kepada regulator penyedia tenaga kerja Victoria untuk mendapatkan izin operasi.
Kelompok penyedia tenaga kerja tersebut beroperasi di industri yang menurut para ahli masih membuat pekerja migran, terutama pemegang jenis visa yang membatasi hak kerja mereka, rentan terhadap eksploitasi meskipun ada upaya dari pemerintah dan serikat pekerja untuk membersihkannya.
Menurut Fair Work Ombudsman (FWO), kondisi di daerah sekitar Melbourne sangat buruk.
Sebuah laporan Juni lalu menemukan bahwa dari 23 perusahaan penyedia tenaga kerja yang diperiksa selama operasi regulasi, tidak ada satu pun yang mematuhi hukum ketenagakerjaan.
Tommy dan Susilo mengatakan upaya mereka untuk mendapatkan bayaran — yang termasuk mengadu ke FWO, serikat pekerja, dan bahkan polisi — sejauh ini belum membuahkan hasil.***









