Penulis: Wibisono | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM SURABAYA-Surabaya semakin menegaskan langkahnya menuju kota dengan sistem transportasi massal modern. Jumat (9/1/2026), Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, bersama delegasi Uni Eropa, KfW (Bank Pembangunan Jerman), Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, serta KAI Daop 8 Surabaya meninjau langsung progres pembangunan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Fase I-B di Stasiun Surabaya Pasarturi.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting, menandai dukungan internasional terhadap proyek ambisius yang diharapkan mampu mengurai kemacetan kota. Sebelum turun ke lapangan, rombongan lebih dulu bertemu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi untuk membahas kesiapan daerah dalam mendukung pembangunan transportasi berbasis rel.
Selain meninjau Stasiun Pasarturi dan terowongan mall, tim juga memeriksa persimpangan jalur di Pos Segitigamesigit, titik krusial yang menghubungkan jalur menuju Stasiun Kalimas dan Stasiun Surabaya Gubeng. Pemeriksaan ini dilakukan guna memastikan tidak ada hambatan teknis yang dapat mengganggu kelancaran proyek.
Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menegaskan bahwa pengerjaan SRRL tetap berjalan sesuai jadwal. Ia menekankan bahwa proyek ini sejalan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Surabaya, terutama dalam menghadapi kepadatan lalu lintas di kawasan utama kota. Menurutnya, konsep angkutan massal cepat berbasis rel akan menjadi solusi nyata bagi beban jalan raya, khususnya di jalur padat seperti Jalan Darmo hingga Bundaran Waru.
“Surabaya sudah sangat membutuhkan ini. Kami siap mendukung dan menyelesaikan pekerjaan jalur ganda lintas selatan Jawa segmen Wonokromo–Sepanjang untuk mendukung SRRL juga,” ujar Denny seperti dikutip suarasurabaya.net.
Dengan dukungan pemerintah daerah, lembaga internasional, dan komitmen teknis dari BTP, proyek SRRL diharapkan menjadi tonggak baru bagi wajah transportasi perkotaan Surabaya. Kehadirannya bukan hanya sekadar infrastruktur, melainkan simbol transformasi kota menuju mobilitas modern yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.***








