Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Remaja SMP Protes Pelajaran IPA, Lulusan Australia Sebut Pentingnya Relevansi

badge-check


					Fatwa Adikusuma PhD, sumber IG Pribadinya Perbesar

Fatwa Adikusuma PhD, sumber IG Pribadinya

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS COM, SURABAYA– Seorang remaja SMP mengunggah video berisi keluhan terhadap pelajaran IPA. Dalam rekaman itu ia menggerutu, “nih ipa nih ipa, ini ada buah jatuh jatuh.”

Ia menirukan soal fisika dasar sambil mengeluh, “energi potensialnya berapa? energi kinetiknya berapa? kecepatannya berapa? Ribet ribet, buah jatuh aja di hitung.” Di akhir video, ia tampak kesal dan memukul kamera dengan sapu.

Unggahan tersebut mendapat respons dari Fatwa Adikusuma PhD, lulusan Adelaide, Australia, yang kini menjadi ahli rekayasa genetika. Melalui akun Instagram pribadinya pada 2 Desember 2025,

Ia menulis, “Dek, dek abang yang udah S1, S2, PhD di luar negeri, malah lanjut jadi saintis di akademik sudah 8 tahun, setuju sekali sama pendapat adek ini.”

Fatwa mengakui sejumlah materi memang terasa rumit dan tidak selalu relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkata, “Abang juga ngerasa, ngapain sih dulu aku belajar hal yang ribet, repot, dan gak relevan dalam kehidupan sehari-hari, dan malah gak kepake di dunia yang sesungguhnya.”

Pendapat itu berkembang menjadi kritik terhadap metode pengajaran yang dinilai kurang mengaitkan teori dengan konteks nyata.

Ia mencontohkan materi fisika seperti menghitung energi kinetik yang dianggap tidak bersentuhan langsung dengan rutinitas masyarakat awam. Sebaliknya, pelajaran yang terkait pengalaman sehari-hari, seperti sistem pencernaan, lebih mudah diterima.

Fatwa menekankan pentingnya relevansi dalam proses belajar. Menurutnya, siswa akan lebih mudah memahami bila mengetahui tujuan dan manfaat suatu materi.

Ia menambahkan, “Kalau seandainya kita dijelaskan fungsinya di keseharian kita, itu kita bisa lebih menerima pelajaran itu.”

Ia juga menilai kemampuan berpikir tidak harus diasah lewat materi berat dan membosankan. Metode menyenangkan seperti permainan bisa menjadi alternatif.

“Main sudoku, mengasah otak, dan fun.” Namun, pengasahan otak tetap perlu beriringan dengan pembelajaran yang bermanfaat bagi kehidupan siswa.

Fatwa menutup dengan penekanan bahwa sebagian materi sebaiknya diperdalam hanya oleh calon fisikawan atau insinyur. Guru, katanya, berperan penting membuat pelajaran terasa bermakna.

Ia menegaskan, “Mengkaitkan itu dengan kehidupan mereka sehingga mempelajari sesuatu itu lebih make sense, bukan hanya sekedar bisa mengerjakan soal ujian.”***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional