Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS COM, SURABAYA– Seorang remaja SMP mengunggah video berisi keluhan terhadap pelajaran IPA. Dalam rekaman itu ia menggerutu, “nih ipa nih ipa, ini ada buah jatuh jatuh.”
Ia menirukan soal fisika dasar sambil mengeluh, “energi potensialnya berapa? energi kinetiknya berapa? kecepatannya berapa? Ribet ribet, buah jatuh aja di hitung.” Di akhir video, ia tampak kesal dan memukul kamera dengan sapu.
Unggahan tersebut mendapat respons dari Fatwa Adikusuma PhD, lulusan Adelaide, Australia, yang kini menjadi ahli rekayasa genetika. Melalui akun Instagram pribadinya pada 2 Desember 2025,
Ia menulis, “Dek, dek abang yang udah S1, S2, PhD di luar negeri, malah lanjut jadi saintis di akademik sudah 8 tahun, setuju sekali sama pendapat adek ini.”
Fatwa mengakui sejumlah materi memang terasa rumit dan tidak selalu relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkata, “Abang juga ngerasa, ngapain sih dulu aku belajar hal yang ribet, repot, dan gak relevan dalam kehidupan sehari-hari, dan malah gak kepake di dunia yang sesungguhnya.”
Pendapat itu berkembang menjadi kritik terhadap metode pengajaran yang dinilai kurang mengaitkan teori dengan konteks nyata.
Ia mencontohkan materi fisika seperti menghitung energi kinetik yang dianggap tidak bersentuhan langsung dengan rutinitas masyarakat awam. Sebaliknya, pelajaran yang terkait pengalaman sehari-hari, seperti sistem pencernaan, lebih mudah diterima.
Fatwa menekankan pentingnya relevansi dalam proses belajar. Menurutnya, siswa akan lebih mudah memahami bila mengetahui tujuan dan manfaat suatu materi.
Ia menambahkan, “Kalau seandainya kita dijelaskan fungsinya di keseharian kita, itu kita bisa lebih menerima pelajaran itu.”
Ia juga menilai kemampuan berpikir tidak harus diasah lewat materi berat dan membosankan. Metode menyenangkan seperti permainan bisa menjadi alternatif.
“Main sudoku, mengasah otak, dan fun.” Namun, pengasahan otak tetap perlu beriringan dengan pembelajaran yang bermanfaat bagi kehidupan siswa.
Fatwa menutup dengan penekanan bahwa sebagian materi sebaiknya diperdalam hanya oleh calon fisikawan atau insinyur. Guru, katanya, berperan penting membuat pelajaran terasa bermakna.
Ia menegaskan, “Mengkaitkan itu dengan kehidupan mereka sehingga mempelajari sesuatu itu lebih make sense, bukan hanya sekedar bisa mengerjakan soal ujian.”***









