Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Empat Kota di Sumatera Utara Diterjang Banjir Besar, 17 Orang Tewas 58 Luka-luka

badge-check


					Banjir bandang akibat hujan ders mengguyur Sumatera Utara dan sekitarnya, menyebaba ada em,pat kota habis diterjang air bah, Selasa, 25 November 2025. Foto: Instagram@coachaddie.rel Perbesar

Banjir bandang akibat hujan ders mengguyur Sumatera Utara dan sekitarnya, menyebaba ada em,pat kota habis diterjang air bah, Selasa, 25 November 2025. Foto: [email protected]

Penulis: Yusran Hakim   |   Editor: Priyo Suwanro

KREDONEWS.COM, TAPANULI- Banjir yang melanda wilayah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah di Sumatera Utara sangat besar, dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa hingga hampir dua meter di beberapa lokasi, Selasa 25 November 2025.

Korban meninggal sebanyak 17 orang akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara tersebar di beberapa daerah yaitu:

  • Kota Sibolga: 5 orang meninggal, terjadi di enam titik longsor dengan kerusakan rumah juga cukup parah.

  • Kabupaten Tapanuli Selatan: 8 orang meninggal yang berasal dari beberapa kecamatan terdampak banjir dan longsor.

  • Kabupaten Tapanuli Tengah: 4 orang meninggal termasuk di Desa Mardame Kecamatan Sitahuis akibat tertimbun material longsor di dalam rumah.

Banjir dan longsor yang terjadi di empat provinsi di Sumatera telah menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 58 orang luka-luka. Bencana ini melanda beberapa kabupaten dan kota, yaitu Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Terjadi putusnya akses jalan akibat longsor dan banjir meskipun korban meninggal tidak disebutkan di sana.

Banjir dan longsor ini dipicu oleh hujan deras yang terjadi selama lebih dari dua hari, menyebabkan kerusakan rumah, jalan putus, dan mengungsi ribuan warga.​​

Di Sibolga, banyak rumah hanya menyisakan lantai dua dan atap karena bagian bawah terendam air yang cukup dalam. Di wilayah Tapanuli Tengah dan sekitarnya, area yang terendam banjir mencakup ratusan hektare sawah dan permukiman yang berubah menjadi “danau dadakan.”

Di Kabupaten Tapanuli Utara terdapat titik banjir yang mencapai ketinggian hingga empat meter, menyebabkan akses jalan utama lumpuh total di jalur Tarutung-Sibolga.

Pada lokasi lain, ketinggian air berkisar antara 30 cm hingga empat meter tergantung daerah terdampak.

Banjir ini dipicu oleh hujan deras yang turun berkepanjangan selama beberapa hari, menyebabkan luapan sungai dan aliran air dari perbukitan membanjiri pemukiman dan lahan pertanian.​

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberikan informasi resmi mengenai jumlah korban, jumlah pengungsi, dan kondisi terdampak.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah bersama tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan Basarnas.

Mereka melakukan operasi penanganan seperti evakuasi, pembersihan material longsor, dan distribusi bantuan sembako kepada warga terdampak. Mereka juga memberikan informasi mengenai jalur alternatif akibat putusnya akses jalan dan situasi evakuasi pengungsi di lapangan.​

Pernyataan WALHI
WALHI Sumut menegaskan bahwa bencana yang hampir terjadi setiap tahun, khususnya saat musim hujan, di wilayah tersebut bukan hanya murni fenomena alam, melainkan sebuah bencana ekologis yang dipicu oleh kerusakan ekosistem Batang Toru (Harangan Tapanuli).

WALHI Sumut telah berulang kali menyuarakan pentingnya perhatian penuh terhadap ekosistem Batang Toru (Harangan Tapanuli), yang disebut sebagai hutan tropis terakhir di Sumatera Utara. Wilayah ini mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.

Kerusakan ekosistem ini sangat mengancam karena wilayah tersebut kaya akan flora dan fauna, termasuk orangutan tapanuli yang paling langka di dunia. WALHI Sumut menduga kuat bahwa bencana yang terjadi saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru.**
Terkait
Facebook Comments Box

Baca Lainnya

300 Anggota Resah: Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Punya Beban Rp124 Miliar

17 Juli 2026 - 05:20 WIB

Menhub Targetkan Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo Rampung 2029

16 Juli 2026 - 20:03 WIB

BPOM Ungkap Mayoritas Pelanggaran Kosmetik Ilegal Terjadi di TikTok

16 Juli 2026 - 19:49 WIB

Jaksa Tuntut Hukuman 12 Tahun Penjara, Kasus Pelecehan Siswa di SMP Jombang

16 Juli 2026 - 14:01 WIB

CRV Ditumpangi 9 Orang Sekeluarga, Tabrak Truk Parkir di Tol Pandaan 5 Orang Tewas

16 Juli 2026 - 13:17 WIB

3.000 ASN Disdik Brebes Bobol Presensi Daring, Sembilan Guru Dijebloskan ke Tahanan

16 Juli 2026 - 09:52 WIB

Satu Korban Luka, Akibat Kebakaran Rumah dan Toko di Johowinong Mojoagung

16 Juli 2026 - 08:39 WIB

Kemenkop Pasang Anggaran Rp1,8 Triliun untuk Beli 1.800 Unit Kipas Angin, Ferry Yuliantoro Mengaku tak Tahu!

16 Juli 2026 - 08:06 WIB

Jaksa Teliti Asal Usul 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah, Mahfud MD: Ini Gempa Hukum Terbesar

16 Juli 2026 - 05:32 WIB

Trending di News